Rabu, 25 Juni 2008

Bapa Kami dan Salam Maria

Doa Bapa Kami merupakan doa yang diajarkan Yesus kepada para murid (Mat 6,9-13; Luk. 11,2-4). Dilihat dari sudut isi maupun bentuknya, tampak mirip dengan doa “delapan Belas Berkat” yang masih didoakan oleh orang-orang Yahudi sampai sekarang ini. Doa itu berbunyi, “Berikanlah ya Bapa kami, kebijaksanaan-Mu serta pengertian danpengetahuan dari taurat. Ampunilah kami ya Bapa kami, karen akami telah berdosa terhadapMu; hapuskanlah dosa kami karena Engkaulah maharahim.” Doa bapa kami lebih sederhana dan ada sebutan Bapa, Abba mengungkapkan hubungan yang amat khusus antara Yesus dengan Allah. Dengan mengajarkan doa itu kepada par amurid, Yesus ingin mengundang mereka masuk dan mengalami yang sama antara Yesus dan BapaNya.
Dalam doa Bapa kami terdiri dari dua bagian besar, yang diawali dengan seruan kepada Bapa dan diikuti tiga permohonan, yaitu dimuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, dan jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga. Bagian kedua terdiri dari 4 permohonan, yaitu Berilah kami rezeki pada hari ini, ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami, janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, dan terakhir adalah bebaskanlah kami dariyang jahat.
Sebutan Bapa kami hendak mengungkapkan bahwa relasi kedekatan itu tidak bersifat individual, tetapi juga komunal dan berlaku bagi semua orang. Dimuliakanlah namamu, datanglah kerajaanmu merupakan ungkapan kerinduan manusia akan kerajaan yang sudah hadir dalam diri Yesus itu dinyatakan, dikenal, diterima oleh semua orang serta Kerajaan Allah itu menjelma dalam wujud yang dapat dilihat dan dialami dalam kehidupan di dunia ini. Jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga hendak mengungkapkan tentang harapan agar Allah bertindak sehingga rencana penyelamatanNya terlaksana secara sempurna seperti sikap Yesus di dalam taman Getsmani.
Berilah kami rejeki menunjukkan keyakinan bahwa Alalh menyelenggarakan hidup mereka sebagaimana dulu Ia telah menyelenggarakan kehidupan umat pilihanNya (Kel 16). Ampunilah mengungkapkan tentang realitas manusia yang seperti pengutang di hadapan Allah dan hanya karena rahmat Allah semata, hutang manusia itu terhapuskan. Ini mengungkapkan bahwa manusia tergantung mutlak dengan kasih Allah. Pengampunan kepada sesama menjadi tanda ketulusan dan kesungguhan kita memohon ampun kepada Allah. Pencobaan hendak menunjuk pada cobaan di mana setan berusaha membinasakan orang-orang yang diserangnya (1 kor 7,5; 1 tes 3,5). Bebaskanlah dari yang jahat hendak mengungkapkan tentang permohonan agar manusia dilepaskan dari kekausaan jahat yang sama yang mencobai Yesus di padang gurun.
Doa Bapa Kami menjadi inspirasi dan ringkasan seluruh Injil, yaitu pewartaan tentang Kerajaan Allah. Doa ini menjadi ungkapan diri yang dinamis orang beriman di hadapan Allah, ungkapan permohonan agar Allah sendirilah yang bertindak dalam kehidupanku.
Doa Salam Maria berkembang dari sapaan Elizabeth kepada Maria ketika Maria berkunjung ke Elizabeth (luk 1, 40-42). ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Doa ini hendak mengungkapkan suatu keheranan sekaligus penghormatan Elizabeth yang dikunjungi oleh ibunya Yesus Putra Allah. Bagian yang kedua merupakan tahap selanjutnay yang berkembang dari tradisi rahib benediktin “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati amin.” Ini menjadi sebuah permohonan melalui Bunda Maria agar memohonkan kepada Allah agar mau mengampuni orang yang berdosa di dunia.

Adorasi Ekaristi

ADORASI EKARISTI ABADI
DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
Anjuran Apostolik “SACRAMENTUM CARITATIS” dari Bapa Suci Benediktus XVI tentang Ekaristi, Sumber dan Puncak Hidup serta Perutusan Gereja.
Anjuran Apostolik “Sacramentum Caritatis” merupakan tulisan Paus Benediktus XVI mengenai Ekaristi, Sumber dan Puncak Hidup serta Perutusan Gereja, suatu rangkuman Sinode Para Uskup yang diselenggarakan pada 2 – 23 Oktober 2005. Anjuran Apostolik tersebut ditandatangani oleh Bapa Suci, tanggal 22 Februari 2007, Hari Raya Tahta Santo Petrus. Pada tanggal 13 Maret 2007, pk. 12.30 di kota Vatikan diumumkan melalui siaran pers.
Sebelum menjadi Paus, dalam tulisan-tulisannya Cardinal Joseph Ratzinger, telah juga menekankan makna adorasi Ekaristi sebagai bagian hidup Gereja. Dalam bukunya “Allah dekat pada kita”: Ekaristi, Jantung Kehidupan, misalnya, Paus Benediktus XVI berkata, “Hanya di dalam nafas sembah sujud, perayaan Ekaristi sungguh menjadi hidup.... Komuni dan adorasi tidak berada satu di samping yang lain, atau bahkan berlawanan, tetapi kesatuan yang tak terpisahkan.”
“Dalam cara yang sangat jelas, kepausan Saya berawal ketika Gereja merayakan tahun khusus yang dibaktikan kepada Ekaristi. Bagaimana mungkin saya tidak dapat melihat dalam kebetulan ilahi ini suatu unsur yang harus menandai pelayanan panggilan Saya selama ini? Ekaristi, jantung hidup Kristiani dan sumber misi Gereja yang mewartakan Injil, tidak dapat tidak merupakan pusat tetap dan sumber pelayanan Tahta Petrus yang dipercayakan kepada saya.”




Paus Benediktus XVI dalam Anjuran Apostolik ”Sacramentum Caritatis" menulis mengenai adorasi Ekaristi (66-68).
66. Ada hubungan intrinksik antara perayaan ekaristi dengan adorasi Ekaristi. Setelah pembaruan liturgi berkat Konsili Vatikan II, muncul salah pengertian mengenai hubungan tersebut. Argumentasi yang muncul ialah bahwa roti ekaristi yang diberikan itu tidak untuk dilihat, tetapi untuk dimakan. Dalam Ekaristi, Putera Allah datang menemui kita, adorasi Ekaristi sekedar akibat wajar dari perayaan Ekaristi yang merupakan tindakan adorasi tertinggi Gereja. Menyambut komuni berarti menyembah Dia yang kita terima. Sembah sujud di luar misa memperpanjang dan memperdalam apa yang terjadi selama perayaan liturgi. Sungguh benarlah, bahwa “hanya dalam adorasi penyambutan yang mendalam dan sejati menjadi matang.” Dan pertemuan pribadi dengan Tuhan yang memperkuat misi sosial termuat dalam Ekaristi, yang tidak hanya membongkar tembok-tembok yang memisahkan Tuhan dengan kita, tetapi juga tembok-tembok yang memisahkan kita satu sama lain.
67. Karena itu, bersama seluruh Sidang Pleno, Saya dengan sungguh-sungguh merekomendasikan kepada para pastor dan umat Allah, agar melaksanakan adorasi Ekaristi, baik secara perorangan maupun dalam komunitas. Bilamana mungkin, sangat tepat, khususnya di wilayah-wilayah yang padat penduduk, dibangun gereja-gereja atau tempat ibadat untuk adorasi abadi.
68. Hubungan pribadi yang dibangun oleh orang beriman dengan Yesus yang hadir dalam Ekaristi melampaui hubungan pribadi itu menuju ke persekutuan seluruh Gereja dan menyuburkan makna yang lebih penuh pada keanggotaan Tubuh Kristus. Karena itu, di samping mendorong orang beriman agar secara pribadi menyediakan waktu untuk doa pribadi di hadapan Sakramen Altar, Saya meraya wajib mendesak paroki-paroki dan kelompok-kelompok gereja untuk menyediakan waktu bagi adorasi bersama.
MENJADI SEDERHANA DAN RENDAH HATI
Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, sungguh hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel. Firman-Nya telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (bdk. Yoh 1:14). Firman-Nya mencerahkan hati kita, membuka mata kita, agar kita mampu juga melihat bahwa dalam diri saudari-saudara kita yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir, Ia pun hadir. Bila demikian, kita akan terjaga jangan sampai kepedulian kita kepada yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir jatuh ke dalam aktivisme filantropis belaka, akan tetapi bersumber dan bermuara pada pengalaman akan kehadiran Yesus dalam diri mereka. Dalam kesadaran ini dapat kita fahami betul firman-Nya, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40) Dengan demkian Ia menyamakan diri-Nya dengan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.
Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, sungguh hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel. Langit dan bumi akan lenyap, tetapi firman-Nya kekal abadi. Dalam roti Ekaristi Ia menunggu kedatangan kita.
Firman-Nya yang kekal abadi itu kita dengar sekarang ini juga, “Marilah kepada-Ku!” Karena itu, marilah kita tanggapi ajakan Sang Penebus, Sahabat Sejati, agar kita datang kepada-Nya, bersembah sujud di hadapan-Nya, yang sungguh hadir dalam hosti kecil, tetap saja sederhana dan rendah hati. Adorasi Ekaristi, bersembah sujud di hadapan Ekaristi Sakramen Mahakudus dapat kita jadikan kesempatan untuk mengalami keabadian kerahiman ilahi-Nya dalam ruang dan waktu kita yang terbatas. Hanya demi kemuliaan-Nya saja, tanpa perhitungan untung atau rugi di pihak kita.

Sacramentum caritatis, Sanctissima Eucaristia donum est Iesu Christi se ipsum tradentis, qui Dei infinitum nobis patefacit in singulos homines amorem.

Kamis, 05 Juni 2008

The Letter of an angel


Beberapa orang yang masuk dalam kehidupan kita dan pergi dengan cepat. Beberapa orang menjadi teman dan tinggal sebentar….. meninggalkan jejak kaki indah dalam hati kita………..Dan kita tidak pernah merasa sama karena kita telah membuat seorang teman baik
Ada seseorang yang bangga padamu
Ada seseorang yang berpikir tentang kamu
Ada seseorang yang memperhatikanmu
Ada seseorang yang merindukanmu
Ada seseorang yang ingin bicara padamu
Ada seseorang yang ingin bersamamu
Ada seseorang yang berterima kasih atas support yang telah kamu berikan
Ada seseorang yang ingin menggenggam tanganmu
Ada seseorang yang ingin segala sesuatu berjalan baik
Ada seseorang yang ingin kamu bahagia
Ada seseorang yang ingin kamu menemuinya
Ada seseorang yang berharap kamu tidak dingin dan panas
Ada seseorang yang ingin memelukmu
Ada seseorang yang ingin mencintai kamu
Ada seseorang yang mengagumi kekuatanmu
Ada seseorang yang berpikir tentang kamu dan tersenyum
Ada seseorang yang ingin pergi dengan kamu dan bergembira
Ada seseorang yang berpikir tentang duniamu
Ada seseorang yang ingin menjagamu
Ada seseorang yang ingin melakukan apa pun untukmu
Ada seseorang yang ingin memaafkanmu
Ada seseorang yang ingin berterimakasih atas maaf yang kamu berikan
Ada seseorang yang ingin tertawa bersamamu
Ada seseorang yang ingat padamu dan berdoa untukmu di mana pun kamu berada
Ada seseorang yang berdoa pada Tuhan untukmu
Ada seseorang yang ingin memberitahumu bahwa cintanya padamu tidak bersyarat dan ingin mengatakan betapa besar perhatian mereka
Ada seseorang yang ingin menggandengmu dengan tangannya
Ada seseorang yang ingin kamu menggandeng mereka dengan tanganmu
Ada seseorang yang berdoa pada Tuhan untuk persahabatan dan cintamu
Ada seseorang yang tidak bisa menunggu untuk melihatmu
Ada seseorang yang mencintai kamu sebagaimana kamu adanya
Ada seseorang yang mencintai caramu membuat mereka merasakan dan mempelajari sesuatu
Ada seseorang yang ingin bersamamu
Ada seseorang yang ingin kamu tahu mereka di sini untuk kamu
Ada seseorang yang bergembira menjadi temanmu
Ada seseorang yang ingin menjadi temanmu
Ada seseorang yang berharap kamu memperhatikannya
Ada seseorang yang ingin dekat denganmu
Ada seseorang yang rindu saran-saranmu
Ada seseorang yang mempercayaimu
Ada seseorang yang butuh dukunganmu
Ada seseorang yang butuh kamu berjuang bersama mereka
Ada seseorang yang membutuhkanmu, membiarkannya menjadi temanmu
Ada seseorang yang mendengar sebuah lagu yang telah mengingatkannya padamu
Ada seseorang yang akan menangis ketika kamu membaca ini


Gereja dan Hirarki



Kesatuan Gereja memperoleh dasarnya pada Yesus Kristus. Titik pangkal kesatuan Gereja adalah Yesus Kristus. Munculnya Gereja mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Yesus Kristus. Kesatuan Yesus dengan Gereja digambarkan sebagai kesatuan dalam Tubuh Kristus di mana Kristus sebagai kepala-Nya dan Gereja menjadi anggota-anggotanya(LG7). Kesatuan umat beriman dengan Kristus itu diperoleh berkat baptis yang diterima (1Kor 12,13) dan ekaristi (1Kor 10,17).

Terdapat dua macam persekutuan, yaitu persekutuan intern di dalam Gereja Katolik Roma yang diwujudkan dalam communio dari paguyuban dan persekutuan ekstern di antara Gereja-gereja.


Persekutuan Ekstern

Gereja katolik janganlah dilihat sebagai satu-satunya pelaksana misteri keselamatan Allah (LG 8). Justru karena dalam Gereja Katolik Gereja Yesus Kristus hadir secara konkret, maka juga bentuk kehadirannya terbatas. Di dalam bentuk yang terbatas ini memang seluruh kebenaran Kristus terungkap. Tanpa mengurangi karya rahmat dalam orang lain, Gereja Katolik menegaskan bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus untuk keselamatan. Dalam LG 15, dibicarakan perbedaan antara Gereja Katolik dan gereja-gereja lainnya. Perbedaan itu tidaklah memecah-memecahkan umat, melainkan berkat baptisan yang diterima, Gereja Katolik dan gereja-gereja lain disatukan dalam Kristus sendiri. Bahkan dalam LG 16, dibicarakan juga tentang persatuan Umat Allah dengan mereka yang belum menerima Injil. Kesatuan yang terjadi adalah bersama-sama berjalan menuju Allah.


Pesekutuan Intern

Berbicara tentang kesatuan Gereja Yesus Kristus yang hadir dalam Gereja Katolik itu berarti menyentuh beberapa aspek, yaitu : Gereja lokal dan Gereja universal; Communio Para Uskup (Kolegialitas); Hubungan hirarki dengan awam; Persekutuan dengan para kudus (communio sanctorum). Gereja Kristus itu sungguh hadir dalam seluruh jemaat kaum beriman setempat yang sah. Dalam masing-masing Gereja setempat hadirlah satu Gereja Kristus, Gereja semesta (universal). Dari sudut pandang Gereja setempat, Gereja lokal terbentuk menurut citra Gereja setempat”. Di sinilah muncul sifat kesatuan. Sebab, Gereja-gereja setempat yang di dalamnya terwujud Gereja Yesus Kristus, bersama-sama membentuk persekutuan dan itulah yang disebut sebagai Gereja semesta (universal). Pusat Gereja bukan lagi di Roma, melainkan altar di mana dirayakan ekaristi. Di lihat dari sudut pandang Gereja semesta, Gereja semesta hadir dalam Gereja-Gereja setempat yang menghadirkan Gereja Yesus Kristus.

Sifat dasar Gereja Yesus Kristus (LG 13).

  • Satu. Prinsip dan pola misteri kesatuan Gereja adalah kesatuan Allah Tritunggal (komunitas kasih Allah Tritunggal). Allah memanggil orang beriman kepada Kristus menjadi umat Allah (1Ptr 2, 5-10) dan membuat mereka menjadi satu tubuh (1Kor 12,12). Tata susunan sosial Gereja melambangkan kesatuannya dengan Kristus (GS 44).

  • Katolik. Itu berarti Gereja tersebar di mana-mana untuk semua orang sepanjang sejarah di segala tempat sebab Allah memanggil semua orang agar selamat. Keselamatan Allah ditujukan kepada semua orang. Secara kultural, Gereja tersebar di seluruh dunia dalam berbagai bentuk budaya segala bangsa.

  • Kudus. Kekudusan yang ada pada Gereja adalah berkat Kristus yang menguduskan (Bdk. LG 7). Kekudusan terungkap dalam aneka cara sebab kekudusan bukanlah sidat seragam yang sama bentuknya untuk semua orang. Kekudusan berarti bahwa semua orang mengambil bagian dalam Kekudusan gereja yang bersumber pada Kristus sendiri, pengudusan oleh Roh (1Ptr 1,2), dikuduskan karena dipanggil (Rom 1,7). Dari pihak manusia kekudusan berarti tanggapan atas karya Allah yang menguduskan terutama dengan sikap iman dan pengharapan (1Tim 2,15).

  • Apostolik. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka (Ef 2,20; Why 21,14). Hubungan Gereja dengan para rasul dipahami oleh Gereja Katolik sebagai pemusatan pada hubungan historis (turun-temurun) antara para rasul dengan para penggantinya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja yang sekarang ini, mengakui diri sama dengan Gereja perdana, yaitu Gereja para rasul.


Pada mulanya communio berarti partisipasi dalam karunia keselamatan Allah, yakni peran serta dalam Roh Kudus, dalam hidup baru, dalam cinta kasih. Paham Gereja sebagai communio dapat dimengerti sebagai partisipasi Gereja dalam hidup ilahi trinitaris atau dalam komunitas kasih antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Communio di dalam Gereja terjadi pertama-tama karena bersama-sama menanggapi karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang terutama dirasakan dalam Sabda dan Sakramen. Kesatuan Gereja Yesus Kristus hadir dan diwujudkan dalam communio dari Gereja-Gereja partikular. Titik tolak communio adalah hubungan timbal balik yang berprinsip subsidiaritas. Gereja pertama-tama merupakan organisme, yaitu persekutuan umat beriman yang saling berhubungan dan

Dalam LG 26, konsili menegaskan kehadiran Kristus dalam jemaat-jemaat setempat. Gereja setempat menghadirkan, Gereja Universal yang menghadirkan pula Gereja Yesus Kristus. Jemaat setempat itu pertama-tama adalah jemaat keuskupan yang menghadirkan Gereja universal. Dalam lingkup yang lebih kecil seperti paroki (teritorial dan kategorial), bahkan paguyuban umat seperti wilayah dan lingkungan (atau apapun namanya yang sejenis), kelompok kategorial merupakan persekutuan kecil umat beriman, hadirlah Gereja Yesus Kristus. Nah, communio merupakan kebersamaan di antara paguyuban-paguyuban umat tersebut di mana secara intern, di antara umat beriman sendiri membangun communio dalam paguyubannya masing-masing.

Sementara itu, dalam refleksinya pada sidang paripurna FABC V di Bandung 1990, para Uskup Asia melihat harapan baru dengan tumbuhnya hasrat di kalangan umat kristiani untuk membangun hidup bersama (community). Hasrat itu tampak sekali dengan tumbuhnya “jemaat-jemaat Gerejawi Basis, kelompok-kelompok tetangga, kelompok-kelompok yang berhimpun untuk membela hak-hak manusawi atau untuk doa dan sharing Kitab Suci”. Konsekuensi dari pola hidup berpaguyuban adalah memberi kesempatan semua anggota untuk ikut serta secara aktif. Seluruh jemaat sebagai communio dipanggil untuk berperan serta dan memperagakan Kristus sebagai imam, nabi, raja di tengah-tengah dunia (LG 10-12, 34,36).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Gereja pertama-tama communio umat beriman. Gagasan communio sangat kuat tampak dalam gagasan Gereja sebagai Tubuh Kristus dan Umat Allah di mana sesungguhnya kesatuan (aspek yang paling ditekankan) ternyata mengandaikan keterlibatan dari unsur-unsur penyusunnya. Dasarnya adalah communio umat beriman dengan Allah dan selanjutnya mewujud dalam communio di antara jemaat-jemaat beriman dan paguyuban jemaat beriman. Communio dari paguyuban-paguyuban itu mengandaikan dan menuntut paguyuban umat beriman yang terbuka yang siap berdialog dan membangun hidup bersama dengan paguyuban umat beriman yang lainnya. Dan dalam kebersamaan itu, mereka dipanggil untuk melibatkan diri dalam mewartakan karya keselamatan Allah di tengah dunia.


Hirarki

Yang disebut hirarki adalah Uskup, Imam dan Diakon. Hirarki dalam Kitab Suci

  • Muncul kelompok 12 rasul semasa Yesus hidup.

  • Para penatua menggantikan para rasul.

  • Muncul istilah episkopos/uskup (Kis 20,38) atau penilik jemaat dan diakonos (Rm 16,1).

Dalam LG bab 3 dikatakan tentang hirarki, yaitu Uskup, Imam dan Diakon.

  • Uskup. Tugas pokok uskup adalah pemersatu dan pemimpin umat. Tugas tersebut dilaksanakan menurut dalam tiga bidang, yaitu

  • Pewartaan (LG 25). Uskup bertugas sebagai Guru yang meliputi perwartaan Injil, menjelaskan ajaran iman dan menjaga Gereja dari kesesatan (menjaga pewahyuan).

  • Perayaan (pengudusan, LG 26). Uskup memiliki rahmat imamat tertinggi. Uskup menjadi organ persatuan Gereja sebagaimana nampak dalam ekaristi.

  • Pelayanan (penggembalaan, LG 27). Uskup memiliki wewenang untuk mengatur dan membimbing Gereja.

Bersama-sama dengan Uskup-uskup di seluruh dunia mereka adalah Dewan Uskup dengan Paus sebagai pemimpin tertinggi.

  • Dewan Para Uskup. Dewan para uskup adalah pengganti dewan para rasul. Yang memimpin Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup karena diterima sebagai anggota dalam dewan itu. Pada hakekatnya, uskup adalah pimpinan Gereja setempat (LG 22, 27).

  • Paus. Atas dasar tradisi, Petrus merupakan uskup Roma yang pertama. Dia adalah ketua dewan para rasul. Sebagai pengganti Petrus, Paus tidak sekedar sebagai uskup Roma tetapi juga menjadi ketua dewan pimpinan Gereja Universal.

  • Para Imam (LG 28) dan Diakon (LG 29)

Keduanya adalah para pembantu uskup yang menerima tahbisan dan menjadi anggota hirarki. Imam adalah perpanjangan tugas uskup untuk 3 tugas di atas. Diakon walaupun sudah ditahbiskan namun ia baru bisa melaksanakan tugas pelayanan. Imam mengambil bagian dalam imamat uskup.

    Tugas utama hirarki adalah mempersatukan umat. Di sini perlu diperhatikan tempat hirarki dalam keseluruhan Gereja. Hirarki bukan prinsip kesatuan Gereja, tetapi organnya. Prinsip kesatuan Gereja adalah Roh Kudus (LG 4, 7b-c, 13a, 15, 25). Supaya kesatuan lahiriah dapat berkembang dan dinyatakan dalam bentuk sosial, maka Gereja diberi bentuk hirarkis. Hirarki sering disebut sebagai “jabatan” untuk: “pelayanan, tugas atau pengabdian”. Pandangan ini sesuai dengan ajaran PB yang tidak pernah berbicara tentang pangkat atau kehormatan, melainkan melihat hirarki melulu secara fungsional. Ketika fungsi-fungsi itu masih sangat bercorak karismatis, maka sifat fungsionalnya tampak sekali. Dalam perkembangan, sifat fungsionalnya agak dikaburkan. Namun Konsili Vatikan II kembali pada paham asli (LG 18a).

    Atas kehendak Kristus, hirarki diangkat menjadi Guru, pembagi misteri-misteri, dan gembala bagi yang lain (LG 32c), menunaikan tugas suci demi saudara-saudara mereka. Tugas pemersatu hirarki tidak berarti bahwa semua dipaksakan ke dalam bentuk iman yang seragam. Hirarki harus melayani umat, supaya seluruh kaum beriman bersama-sama, membangun kesatuan itu. Hirarki harus memungkinkan komunikasi dalam iman. Mereka harus menjalankan tugas mereka sebagai saudara di antara saudara (PO 9 a).

    Imam tidak berada di atas umat, tetapi di tengahnya. Fungsi hirarki adalah fungsi dalam Gereja, maka hirarki mengambil bagian dalam fungsi Kristus yang dengan perantaraan Roh tetap mempersatukan Gereja.

    Struktur hirarkis adalah struktur hakiki Gereja, karena Roh tidak pernah berkarya lepas dari Yesus. Struktur karismatis tidak lepas dari struktur hirarkis, yang secara historis menghubungkan Gereja dengan Yesus. Oleh karena itu, hirarki secara hakiki berdiri di tengah-tengah hidup Gereja dan mengambil bagian aktif dalam hidup umat.

    Kekhususan tugas kepemimpinan hirarki berhubungan langsung dengan kekhususan Gereja sebagai communio dalam iman. Hirarki harus memimpin umat dalam mewujudkan iman dalam kesatuan yang tampak. Namun harus diingat bahwa prinsip kesatuan adalah karya Roh dan bukan kewibawaan atau kuasa hirarki. Dengan demikian dapat dikatakan hirarki merupakan pelayan kesatuan Gereja Yesus Kristus. Mereka menghadirkan Yesus yang mempersatukan umat-Nya (in persona Christi).

Ada tiga bidang pengungkapan iman yang bisa dipakai oleh hirarki untuk melayani umat :

  • Hidup konkret.

  • Perumusan iman dan ajaran. Tugas hirarki bukan menjaga dan membela ajaran tradisional saja, melainkan juga membantu dan memimpin orang dalam mencari rumusan baru bagi iman yang hidup. Maka tugas mengajar dapat diartikan sebagai pelayanan dalam perumusan iman.

  • Dalam bidang liturgi. Pusat hidup liturgi adalah sakramen-sakramen, dan pusat sakramen adalah ekaristi. Maka di bidang kultus, hirarki menjalankan fungsinya terutama dalam mempersatu-kan umat sekitar altar. Tugas mempersatukan juga berarti bahwa pelbagai tugas pelaksanaan dan pengungkapan iman dijadikan satu. Maka hirarki sendiri harus mengimani sabda Allah.






Kamis, 29 Mei 2008

Sambut hari ini dengan kasih

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Karena ini merupakan rahasia sukses yang paling besar dalam semua usaha. Otot dapat merobek perisai, bahkan dapat membinasakan kehidupan, akan tetapi hanyalah kekuatan kasih yang tak tampak dapat membuka hati manusia dan sebelum saya menguasai seni ni, saya akan tetap tidak lebih daripada seorang insan biasa. Saya akan membuat kasih senjata saya yang paling ampuh dan tiada seorang yang saya kunjungi dapat mempertahankan dirinya melawan ini.

Pikiran saya mungkin mereka bantah. Pidato saya mungkin dicurigai, pakaian saya mungkin dicela, wajah saya mungkin ditolak, bahkan penawaran-penawaran saya dicurigai; namun kasih saya akan melelehkan semua hati seperti sinar matahari dapat melembutkan tanah liat yang paling dingin.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah kalau saya lakukan in? Mulai sekarang saya akan melihat semua benda dengan kasih dan saya akan dilahirkan kembali. Saya akan mengasihi matahari karena matahari menghangatkan tulang-tulang saya; namun saya akan mengasihi hujan karena hujan itu membersihkan saya. Saya akan mengasihi cahaya karena cahaya itu menunjukkan jalan kepada saya; namun saya akan mengasihi kegelapan karena kegelapan itu memperlihatkan bintang-bintang kepada saya. Saya akan menyambut kebahagiaan karena kebahagiaan itu memperbesar hatiku, namun saya akan memikul kesedihan karena kesedihan membuka hati saya. Saya akan mengakui penghargaan dan pahala oleh karena penghargaan dan pahala itu adalah hak saya. Namun saya akan menyambut rintangan-rintangan itu karena itu merupakan tantangan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus berbicara? Saya akan menyanjung musuh-musuh saya dan mereka akan menjadi teman-teman saya. Saya akan membesarkan ahti dan mendorong teman-teman saya; dan mereka akan menjadi saudara-saudara saya. Saya akan senantiasa menggali sebab-sebab untuk bertepuk tangan; saya sekali-kali tidak akan mencari alasan-alasan untuk memfitnah. Bilamana saya digoda untuk mengecam, saya akan menggigit lidah saya; bilamana saya digerakkan untuk memuji saya akan bersorak-sorai dari atas atap.
Apakah tidak demikian sehingga burung-burung, angin, laut dan alam semesta berbicara dengan musik pujian bagi pencipta mereka tidak dapatkah saya berbicara dengan musik yang sama kepada anak-anakNya? Mulai sekarang saya akan mengingat rahasia ini dan rahasia itu akan mengubah hidup saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus bertindak? Saya akan mengasihi semua jenis manusia sebab setiap orang mempunyai sifat-sifat yang dapat dikagumi sungguhpun sifat-sifat tersebut tersembunyi. Dengan rasa kasih, saya robohkan tembok kecurigaan dan kebencian yang telah dibangun di sekeliling hati mereka dan disana saya akan bangun jembatan-jembatan sehingga rasa kasih saya dapat memasuki jiwa mereka.
Saya akan mengasihi orang-orang yang mempunyai ambisi karena mereka dapat mendorong saya. Saya akan mengasihi orang-orang yang gagal karena kegagalan-kegagalan itulah yang dapat mendidik dan memberi pengajaran kepada saya. Saya akan mengasihi raja-raja karena mereka itu tetap hanyalah manusia. Saya akan mengasihi mereka yang lembut karena mereka itu bersifat ketuhanan. Saya akan mengasihi mereka yang kaya karena mereka itu masih merasa sunyi. Saya akan mengasihi mereka yang miskin karena merekalah yang banyak. Saya akan mengasihi orang-orang muda karena kepercayaan yang dimiliki mereka. Saya akan mengasihi orang-orang tua karena kebijaksanaan yang mereka bagikan. Saya akan mengasihi orang-orang cantik karena mata mareka memancarkan kesedihan. Saya akan mengasihi orang-orang yang buruk karena kedamaian jiwa mereka.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Tetapi bagaimanakah saya bereaksi terhadap tindakan-tindakan orang lain? Dengan kasih. Hanya kasihlah yang menjadi senjata saya untuk membuka hati orang-orang. Demikian pula kasih itu menjadi perisai saya untuk menolak anak panah kebencian dan tombak-tombak kemurkaan. Kesengsaraan dan keputusasaan akan memukul melawan perisai baru saya dan menjadi seperti hujan yang paling lembut. Perisai saya akan melindungi saya dan mempertahankan saya bilamana saya seorang diri. Perisai saya akan mengangkat saya dalam waktu-waktu keputusasaan, namun perisai saya itu akan menenangkan diri saya dalam waktu kegembiraan yang meluap-luap. Perisai saya itu akan menjadi kuat dan akan lebih melindungi saya sampai pada suatu hari saya akan membuangnya ke samping dan berjalan tanpa beban diantara orang-orang dimana sifat dan sikap mereka berbeda-beda dan bila menghendakinya, nama saya akan terangkat tinggi-tinggi ke atas piramida kehidupan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimana saya akan menghadapi orang-orang yang bertemu dengan saya? Hanya dengan satu cara. Dalam hati dan kepada saya sendiri saya akan sapa orang itu sambil mengucapkan saya mengasihi anda. Biarpun diucapkan dalam batin kata-kata itu akan bersinar dalam mata saya, akan menghilangkah kerutan pada dahi saya, membawa senyuman kepada bibir saya, gema dalam suara saya dan hatinya akan dibuka. Dan siapakah disitu yang akan mengatakan TIDAK kepada saya bilamana hatinya merasakan kasih saya?

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Terutama saya akan mengasihi diri saya sendiri. Sebab bila saya mengasihi diri saya sendiri saya akan dengan tekun memeriksa segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saya, pikiran saya, jiwa saya, dan hati saya. Saya tidak akan pernah menurut secara berlebihan kehendak tubuh saya, lebih baik saya akan menghargai tubuh saya dengan kebersihan dan kesederhanaan. Saya takkan membiarkan pikiran saya tertarik pada kejahatan dan keputusasaan lebih baik meningkatkan pikiran saya dengan ilmu dan pengetahuan. Saya tidak akan memperbolehkan jiwa saya menjadi puas dan senang, lebih baik saya memberikan makanan kepada jiwa saya dengan meditasi dan doa. Saya tidak akan membolehkan hati saya menjadi kecil dan pahit, lebih baik saya membagikan hati saya dan hati saya itu akan tumbuh dan menghangatkan bumi.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Mulai sekarang saya akan mengasihi seluruh umat manusia. Mulai saat ini semua rasa benci telah keluar dari semua pembuluh darah saya karena saya tak ada waktu untuk membenci, hanya ada waktu untuk mengasihi. Mulai saat ini saya akan mengambil langkah pertama yang perlu untuk menjadi seseorang diantara orang-orang. Dengan kasih saya akan meningkatkan nilai saya seratus kali lipat dan akan menjadi INSAN LUAR BIASA. Tanpa semuanya ini, saya akan gagal sungguhpun saya memiliki semua ilmu pengetahuan dan ketrampilan di dunia.

Saya akan menyambut hari ini dengan RASA kasih dan Saya akan SUKSES.





Iman dan Wahyu

Gereja yang hidup adalah Gereja yang menjadikan seluruh perjalanan hidup di dunia ini sebagai medan beriman. Pengalaman hidup sehari-hari merupakan medan manusia untuk berjumpa dan berelasi dengan Allah. Dalam pengalaman hidupnya, manusia mengalami Allah yang menyapa dan campur tangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, dalam konteks pengalaman hidupnya, manusia menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah mengandaikan kesalingan dua hal. Di satu sisi, Allah mewahyukan diri kepada manusia dengan cara yang di-tangkap oleh manusia. Di sisi yang lain, manusia menanggapi per-wahyuan yang ditangkapnya dengan menyatakan imannya.
Allah dan manusia menjadi subyek dalam relasi ini. Dari sudut wahyu, Allah-lah yang menjadi subyeknya, dan dari sudut iman manusia-lah yang menjadi subyeknya. Dengan kata lain, tesis ini hen-dak berbicara tentang jalinan komunikasi antara Allah dengan manusia yang khas manusiawi.
Perwahyuan Allah bermula dari kehendak Allah sendiri yang mengalir dari kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mewahyukan diri, Allah berkehendak untuk menyapa dan menyatakan rahasia kehendak-Nya. Allah menjumpai manusia dan menjalin relasi yang akrab dengan ma-nusia. Pada puncaknya, dengan perwahyuan-Nya itu, Allah mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Dengan kata lain, Wahyu Allah merupakan komunikasi Allah yang mengajak manusia berpartisipasi. Wahyu Allah merupakan pernyataan diri Allah tentang diri-Nya sendiri kepada manusia dan mengajak manusia untuk menanggapinya (partisipasi).
Apa isi wahyu? Isi wahyu adalah diri Allah sendiri. Dalam wahyu, Allah menyatakan diri-Nya sendiri berserta seluruh rencana keselamatan-Nya Allah mengkomunikasikan dirinya sendiri kepada manusia.
Dan karena yang dikomunikasikan itu sifatnya personal, diri Allah sendiri, maka komunikasi itu menjadi personal. Karena itu, wahyu Allah merupakan tindakan diri Allah sendiri.Berikut ini inti pokok dalam DV 2 tentang bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya :
Titik awal wahyu adalah Allah sendiri. Pelaku wahyu adalah Allah dan isi wahyu adalah diri Allah sendiri dan misteri kehendak-Nya. Wahyu adalah gerak hidup ilahi Allah. Kristus menjadi jalan masuk manusia kepada Allah melalui seluruh peristiwa hidup-Nya dan berkat dorongan Roh Kudus. Partisipasi manusia terjadi melalui Kristus dalam Roh Kudus. Di dalam Kristus, manusia berjumpa dengan Allah yang menyapa. Kristus merupakan kepenuhan perjumpaan manusia dengan Allah. Dengan mewahyukan diri-Nya Allah menjumpai manusia sebagai sahabat-Nya untuk melibatkan manusia dalam hidup Allah sendiri. Wahyu Allah itu terungkap dalam kata dan perbuatan Allah yang dapat ditangkap oleh manusia. Kata dan perbuatan itu menggambarkan dan menerangkan isi wahyu yang misteri. Wahyu bukan diwariskan dari masa lampau, melainkan Allah yang menjumpai dan menyapa manusia secara personal.
Dalam PL, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah melalui Taurat (Yer 31,33; Ul 30,16) dan warta para nabi (Yer 1,9; Ibr 1,1) serta tanda-tanda alam (Panggilan Musa, Kel 3) .Dalam PB, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah dalam Yesus Kristus (Yoh 14, 8-14; Mat 11, 25-27; Luk 10, 21-21-24). Dalam Kis : kabar gembira mengenai Yesus Kristus (Kis 3, 17-26). Paulus : pewartaan kabar gembira tentang rencana keselamatan Allah yang tidak dari perkataan manusia, namun dari Allah (1Tes 2,13), misteri rahasia Allah yang terlaksana dalam Kristus Yesus (Ef 3, 8-12), dalam Yesus berdiam secara jasmaniah kepenuhan ke-Allah-an (Kol 2,9).
Allah yang tak kelihatan dan tak mampu dijangkau oleh manusia, menyapa manusia dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam mewahyukan diri-Nya Allah menggunakan cara-cara yang dapat ditangkap oleh manusia yang hendak disapanya. Dengan kata lain perwahyuan diri Allah tertangkap dalam ruang dan waktu manusiawi dan sekaligus berarti terjadi dalam proses, tahap demi tahap. Sejarah merupakan medan kehidupan sekaligus kehidupan manusia. Dalam Surat kepada orang Ibrani 1,1-2, tentang perantara Allah dalam mewahyukan diri-Nya dikatakan : “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Dalam kutipan itu dikatakan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya dalam dua cara, yaitu 1) dengan perantaraan para nabi dan 2) dengan perantaraan Anak-Nya. Keduanya terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Perwahyuan Allah dalam sejarah melalui para nabi dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Dan perwahyuan Allah dalam sejarah melalui Anak-Nya dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru.
Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan para nabi “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr1,1). Sejarah perwahyuan diri Allah dalam perjanjian Lama dimulai dengan perwahyuan diri Allah kepada Abraham. Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham (Kej 15, 18) dan kemudian dengan bangsa Israel melalui Musa (Kel 24,8). Allah menjadi Allah bangsa Israel dan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya. Dengan mengangkat bangsa Israel ini menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang dipilih-Nya Allah menyatakan diri-Nya dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dan di masa selanjutnya terus menerus Allah menyampaikan kehendaknya melalui para nabi.
Dalam DV 3 dikatakan : “Sesudah para Bapa bangsa, Ia membina bangsa itu (Israel) de-ngan perantaraan Musa dan para Nabi supaya mereka mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, Bapa Penyelenggara dan hakim yang adil, dan supaya mereka mendambakan Penebus yang dijanjikan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perwahyuan diri Allah dan rencana keselamatan-Nya terus menerus dikatakan. Dan perwahyuan diri Allah kepada para Bapa bangsa dan para nabi itu penuh sebab kepada mereka Allah telah menyatakan Diri dan rencana keselamatan-Nya. Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan Anak-Nya. Dalam DV 2 tentang hali ini dikatakan : “Melalui wahyu itu, kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menjadi pengantara dan kepenuhan wahyu”. Dan dalam Ibr 1,2 dikatakan : “Pada zaman akhir ini ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anaknya”.
Yesus Kristus adalah puncak dan pemenuhan wahyu Allah. Di dalam Kristus, Allah yang menyapa manusia dan rencana keselamatan-Nya mencapai kepenuhannya. Sebab, “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1,19). Di dalam Yesus, perwahyuan Allah itu tidak lagi menjadi suatu rencana keselamatan melainkan justru Yesus Kristuslah keselamatan Allah sendiri. Dalam diri Kristus perwahyuan Allah kepada manusia mencapai puncak dan keakrabannya dan kedekatannya. “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan” (Kol 2,9). Kesempurnaan kepenuhan wahyu datang dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak hanya menyampaikan firman Allah (Yoh 3,34). Yesus Kristus adalah Sang Firman Allah sendiri (Yoh 1,1; Why 19,13). Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah pernyataan Allah sendiri. Dalam diri Yesus Allah memberikan diri secara penuh kepada manusia. Yesus mewujudkan wahyu Allah dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Karena itu, inkarnasi Yesus Kristus, seluruh perjalanan hidup, nasib, karya dan memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya menjadi tanda jelas bahwa wahyu Allah itu terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14,9).Dengan demikian, dalam diri Yesus Kristus dengan seluruh peristiwa hidup-Nya merupakan keselamatan Allah, yaitu kesatuan antara Allah dan manusia. Allah memerosotkan diri-Nya dan menggunakan cara-cara manusiawi agar dapat menyatakan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia.
Perwahyuan Allah adalah tindak Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya. Dan komunikasi Allah yang mencapai kepenuhan-Nya dalam Yesus Kristus itu menjadi langkah bagi Allah untuk menyapa manusia. Ia tidak pertama-tama memerintah, melainkan mengajak manusia berkomunikasi dan mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Komunikasi Allah mengundang manusia untuk tidak hanya diam saja, tetapi perwahyuan diri Allah mengundang manusia dalam percakapan yang intim dengan Allah. Maka dikatakan dalam DV 2 “dari kelimpahan kasihnya, (Ia) menyapa manusia sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka”. Manusia disapa Allah sebagai sahabat-sahabat-Nya. Karena itu, perwahyuan diri Allah merupakan komunikasi Allah yang dialogis di mana Allah memberikan diri-Nya kepada manusia dan manusia menerima pemberian diri Allah itu. Pemberian diri Allah itu, penuh dalam Yesus Kristus yang tinggal di tengah-tengah kita. Dalam iman, manusia mendengar serta menjawab sapaan itu dalam konteks hidupnya.Dengan dan karena iman manusia mampu mendengar dan menjawab sapaan Allah. Apa yang dimaksud dengan iman?
Kata ‘iman’ merupakan terjemahan dari kata pistis (Yunani), fides (Latin), dan faith (Inggris) yang berarti kepercayaan, keyakinan dan penerimaan wahyu Allah. Dalam konteks teologi “iman” dan “percaya” dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan manusia dengan Allah, utamanya dengan menerima wahyu. Iman dalam bahasa Ibrani ‘mn berarti mengandung pemahaman tentang “sesuatu yang dapat diandalkan dan dipercaya”. Isi iman PL adalah kepercayaan kepada janji dan tuntunan Allah bagi umat Israel. Atas wahyu Allah manusia menjawab dengan kesiapsediaan dan ketaatan. Dalam tataran tertentu, iman dipahami sebagai setia dan mentaati perintah Allah agar memperoleh hidup. Karena itu, tekanan utamanya adalah “untuk mengasihi Tuhan Allahmu dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu . . . “ (Ul 30,16). Dalam sejarah perjalanan bangsa Israel, Abraham menjadi model orang beriman yang sungguh percaya dan mengandalkan Allah (Kej 12, 1-4). Iman juga merupakan suatu tindakan, yaitu sikap setia dalam melaksanakan kehendak Allah (Mi 6,8), mengakui Yaurat sebagai kehendak Allah (Mzm 119,66) dan menerima utusan-utusan Allah (Kel 14,31; 2taw 20,20).
Injil Sinoptik, iman dipahami sebagai sikap mendengar (Mat 4,9 : “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”), percaya dan mempercayakan diri kepada Yesus (Mat 9, 27-31; Luk 7,6-9). Percaya itu tidak cukup mendengar namun mengerti (bdk. Mat 13,19). Mengerti berarti : menerima sabda Allah dan hidup setia sesuai dengan sabda Allah. Beriman juga berarti bertobat dan berbalik kepada Allah (Mrk 1,15). Yohanes : beriman itu berarti percaya kepada Yesus sebab Yesus mengerjakan yang diperintahkan Bapa. Dengan demikian beriman berarti percaya kepada Bapa yang mengutus Yesus (Yoh 14). Tberiman atau tidak beriman merupakan sikap ya atau tidak kepada Yesus. Beriman berarti pilihan untuk memihak Yesus dan menerima Sabda-Nya. Tidak beriman berarti menolak Yesus (Yoh 15). Paulus : beriman berarti semakin mengenal misteri Allah dalam Yesus Kristus. Manusia diajak semakin mengenal rencana penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus (Bdk. 1Kor 1,17; 2, 1-4; Kol 2, 2-3). Iman merupakan perbuatan yang dengannya manusia menyerah-kan diri kepada Allah sebagai sumber satu-satunya keselamatan. Orang beriman kepada Allah melalui Putera-Nya sebab melalui Putera-Nya itu Allah bersabda. Karena itu, bagi Paulus beriman berarti mempersatu-kan diri dengan Kristus. Paulus mengartikan sabda Allah bukan pertama-tama kebenaran, melainkan diri Kristus, sebagai Tuhan dan Penyelamat. Hanya imanlah yang menyelamatkan (Rm 3, 21-31) dan bukan Taurat. Yakobus : “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2, 26). Bagi Yakobus, beriman itu tidak hanya berhenti pada mendengarkan dan percaya kepada Allah, melainkan juga melaksanakannya.
Dalam DV 5 dikatakan bahwa :Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib me-nyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersem-bahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan secara sukarela menerima sebaai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya”.
Dalam kutipan tersebut, tampak iman dipahami sebagai :
· Penyerahan seluruhnya dengan bebas kepada Allah (menyangkut segi pengetahuan, keyakinan, pengertian dan pemahaman).
· Kepatuhan akal budi dan kehendak (berhubugnan dengan kebebasan iman)
· Dengan pengakuan bebas à menyangkut kerelaan hati, keterbukaan untuk menerima kebenaran wahyu).
Namun iman bukanlah pencapaian oleh manusia sendiri. Agar mampu beriman, manusia membutuhkan rahmat Allah karena iman adalah anugerah Allah. Dalam DV 5 dikatakan : “Supaya orang dapat beriman . . . diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membaklikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran. Semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan melalui karunia-karunia-Nya”. Dari kutipan itu kiranya dapat ditangkap bahwa iman merupakan rahmat Allah. Agar orang mampu beriman, rahmat Allah diperlukan. Dengan kata lain, rahmat Allah itu mendahului iman. Rahmat yang mendahului iman itu tak lain adalah Roh Kudus yang berperan untuk membawa manusia menyadari karya Allah dalam hatinya. Roh Kuduslah yang membuka mata budi dan menimbulkan iman pada setiap orang.Dari situ dalam DV 5 dapat dikatakan bahwa : Iman merupakan rahmat Allah, Iman juga merupakan jawaban bebas manusia terhadap Allah, Iman mengandung unsur pengertian manusia (akal budi). Dengan kata lain, dalam peristiwa iman ada 3 unsur yaitu : rahmat, akal budi dan kehendak bebas manusia. Iman mengandaikan pengertian sebab iman adalah tindakan intelektual dan sekaligus mengandaikan kehendak bebas manusia yang sangat membutuhkan rahmat. Akhirnya, KV II memaknai iman sebagai tanggapan manusia berkat bantuan Roh Kudus kepada pemberian diri Allah dalam Kristus, yang berupa penyerahan diri secara bebas kepada Allah.
Iman dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Iman yang hidup adalah iman yang berakar dan mengakar pada pengalaman hidup manusia. Iman bukanlah bentuk mati yang tinggal dikenakan, melainkan sebuah proses perjumpaan manusia dengan Allah dengan cara yang sangat manusiawi dalam gerak sejarah kehidupan. Dan iman yang hidup itu pastilah menggerakkan hidup manusia dan menimbulkan kesadaran baru. Dengan kata lain, iman sebagai tanggapan atas perwahyuan Allah tidak dapat dilepaskan dari konteks hidup manusia. Pengalaman hidup sehari-hari menjadi medan bagi manusia men-dengar dan menjawab Wahyu Allah. Sebagai contohnya : pengalaman umat Israel dibebaskan dari Mesir dan pengalaman di padang gurun selama 40 tahun. Pengalaman itu menjadikan bangsa Israel sadar bahwa Allah sungguh-sungguh setia kepada umat pilihan-Nya. Dalam pengalamannya yang konkret itu, bangsa Israel mengalami Allah yang bersabda, menyapa mereka dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dalam GS 58 dikatakan “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penam-pakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman”
Allah menyapa dan menyampaikan kabar keselamatan-Nya dalam konteks hidup dan kebudayaan khas manusia. Manusia bukan makhluk individual dan tanpa dunia yang melingkupi-nya. Dalam konteks kebersamaan dengan yang lain dan lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia beriman sebab iman bukanlah sisi kehidupan manusia yang dapat dilepaskan dari kenyataan hidup manusia sendiri. Karena itu, iman tidak dapat dipisahkan dari kebersamaan dengan yang lain. Sebab, dalam suasana hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia mengalami sapaan Allah yang menyelamatkan. Terhadap Allah yang menyapa manusia dalam konteks hidup manusia yang khas, dalam konteks hidupnya pula manusia menanggapi sapaan Allah yang menyampaikan keselamatan-Nya. Karena itu, jawaban manusia harus terwujud dalam keterlibatan yang aktif dalam perjalanan sejarah manusia, dalam kehidupan nyata yang konkret dengan berbagai persoalannya. Iman bukan lagi tanggapan yang bersifat abstrak, namun konkret dan kontekstual. Karena itu, iman haruslah menjadi kenyataan hidup yang menggerakkan manusia dari dalam. Iman harus terwujud dalam tindakan moral. Karena itu, dalam beriman secara konkret dalam konteks hidup, manusia membutuhkan terus-menerus pertolongan Roh Kudus agar mampu mengenali perwahyuan Allah dalam kenyataan hidupnya dan menjawab sapaan Allah itu secara kontekstual pula. Tujuannya adalah agar hidup manusia tetap bermakna. Tentu saja wahyu Allah bukanlah jawaban langsung atas persoalan hidup beriman, namun dalam terang dan bimbingan Roh Kudus manusia menemukan kehendak Allah.
Allah menyapa manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan manusia. Hal itu berarti Allah berkehendak menjalin relasi yang intim dan personal dengan manusia. Hubungan Allah dengan manusia adalah hubungan antar pribadi yang intim. Intimitas dan personalitas hubungan Allah-manusia itu tampak dalam diri Yesus, dalam seluruh peristiwa hidupnya. Yesus adalah Allah yang seperasaan dan sependeritaan dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Yesus adalah solidaritas Allah pada manusia. Di dalam diri Yesus, Allah menyapa dan berbicara dengan manusia dengan cara-cara yang manusiawi. Di dalam Yesus, manusia tidak lagi disebut hamba, melainkan sahabat dan menjadi anak-anak Allah berkat penebusannya yang memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitannya. Kamu adalah sahabat-Ku . . . Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. . . . Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15, 14-15).
Perwahyuan diri Allah bertujuan untuk mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, manusia masuk menjadi anggota keluarga Allah, ahli waris (Bdk. Gal. 4, 1-9). Wahyu Allah dan iman sebagai tanggapan manusia menjadi dialog yang akrab, intim dan personal antara Allah dengan manusia. Allah menyapa manusia dengan cara yang khas manusia. Dan manusia menanggapi sapaan Allah dengan cara yang khas pula seturut pengalaman hidupnya. Dan justru inilah menjadi tanda bahwa hubungan Allah dan manusia sedemikian akrab dan personal.













Chatting ma Tuhan

Chatting ma TUhan

TUHAN : Kamu memanggilku?
AKU : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi aku ingin berbincang-bincang denganmu
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk
AKU :Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU :Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU :OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN :Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah Pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu Pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU :Maksudnya Pengalaman Pahit itu berguna?
TUHAN :Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental, kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah,….
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekeja dengan waktu.
AKU : Disaat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari Manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?“.
AKU :Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya disini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses Penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan Keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doa saya tidak dijawab.
TUHAN :Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya TIDAK.
AKU : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : OKE. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah pada-Ku. Hidup itu Indah jika kamu tahu cara untuk Hidup.