Kamis, 29 Mei 2008

Sambut hari ini dengan kasih

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Karena ini merupakan rahasia sukses yang paling besar dalam semua usaha. Otot dapat merobek perisai, bahkan dapat membinasakan kehidupan, akan tetapi hanyalah kekuatan kasih yang tak tampak dapat membuka hati manusia dan sebelum saya menguasai seni ni, saya akan tetap tidak lebih daripada seorang insan biasa. Saya akan membuat kasih senjata saya yang paling ampuh dan tiada seorang yang saya kunjungi dapat mempertahankan dirinya melawan ini.

Pikiran saya mungkin mereka bantah. Pidato saya mungkin dicurigai, pakaian saya mungkin dicela, wajah saya mungkin ditolak, bahkan penawaran-penawaran saya dicurigai; namun kasih saya akan melelehkan semua hati seperti sinar matahari dapat melembutkan tanah liat yang paling dingin.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah kalau saya lakukan in? Mulai sekarang saya akan melihat semua benda dengan kasih dan saya akan dilahirkan kembali. Saya akan mengasihi matahari karena matahari menghangatkan tulang-tulang saya; namun saya akan mengasihi hujan karena hujan itu membersihkan saya. Saya akan mengasihi cahaya karena cahaya itu menunjukkan jalan kepada saya; namun saya akan mengasihi kegelapan karena kegelapan itu memperlihatkan bintang-bintang kepada saya. Saya akan menyambut kebahagiaan karena kebahagiaan itu memperbesar hatiku, namun saya akan memikul kesedihan karena kesedihan membuka hati saya. Saya akan mengakui penghargaan dan pahala oleh karena penghargaan dan pahala itu adalah hak saya. Namun saya akan menyambut rintangan-rintangan itu karena itu merupakan tantangan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus berbicara? Saya akan menyanjung musuh-musuh saya dan mereka akan menjadi teman-teman saya. Saya akan membesarkan ahti dan mendorong teman-teman saya; dan mereka akan menjadi saudara-saudara saya. Saya akan senantiasa menggali sebab-sebab untuk bertepuk tangan; saya sekali-kali tidak akan mencari alasan-alasan untuk memfitnah. Bilamana saya digoda untuk mengecam, saya akan menggigit lidah saya; bilamana saya digerakkan untuk memuji saya akan bersorak-sorai dari atas atap.
Apakah tidak demikian sehingga burung-burung, angin, laut dan alam semesta berbicara dengan musik pujian bagi pencipta mereka tidak dapatkah saya berbicara dengan musik yang sama kepada anak-anakNya? Mulai sekarang saya akan mengingat rahasia ini dan rahasia itu akan mengubah hidup saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus bertindak? Saya akan mengasihi semua jenis manusia sebab setiap orang mempunyai sifat-sifat yang dapat dikagumi sungguhpun sifat-sifat tersebut tersembunyi. Dengan rasa kasih, saya robohkan tembok kecurigaan dan kebencian yang telah dibangun di sekeliling hati mereka dan disana saya akan bangun jembatan-jembatan sehingga rasa kasih saya dapat memasuki jiwa mereka.
Saya akan mengasihi orang-orang yang mempunyai ambisi karena mereka dapat mendorong saya. Saya akan mengasihi orang-orang yang gagal karena kegagalan-kegagalan itulah yang dapat mendidik dan memberi pengajaran kepada saya. Saya akan mengasihi raja-raja karena mereka itu tetap hanyalah manusia. Saya akan mengasihi mereka yang lembut karena mereka itu bersifat ketuhanan. Saya akan mengasihi mereka yang kaya karena mereka itu masih merasa sunyi. Saya akan mengasihi mereka yang miskin karena merekalah yang banyak. Saya akan mengasihi orang-orang muda karena kepercayaan yang dimiliki mereka. Saya akan mengasihi orang-orang tua karena kebijaksanaan yang mereka bagikan. Saya akan mengasihi orang-orang cantik karena mata mareka memancarkan kesedihan. Saya akan mengasihi orang-orang yang buruk karena kedamaian jiwa mereka.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Tetapi bagaimanakah saya bereaksi terhadap tindakan-tindakan orang lain? Dengan kasih. Hanya kasihlah yang menjadi senjata saya untuk membuka hati orang-orang. Demikian pula kasih itu menjadi perisai saya untuk menolak anak panah kebencian dan tombak-tombak kemurkaan. Kesengsaraan dan keputusasaan akan memukul melawan perisai baru saya dan menjadi seperti hujan yang paling lembut. Perisai saya akan melindungi saya dan mempertahankan saya bilamana saya seorang diri. Perisai saya akan mengangkat saya dalam waktu-waktu keputusasaan, namun perisai saya itu akan menenangkan diri saya dalam waktu kegembiraan yang meluap-luap. Perisai saya itu akan menjadi kuat dan akan lebih melindungi saya sampai pada suatu hari saya akan membuangnya ke samping dan berjalan tanpa beban diantara orang-orang dimana sifat dan sikap mereka berbeda-beda dan bila menghendakinya, nama saya akan terangkat tinggi-tinggi ke atas piramida kehidupan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimana saya akan menghadapi orang-orang yang bertemu dengan saya? Hanya dengan satu cara. Dalam hati dan kepada saya sendiri saya akan sapa orang itu sambil mengucapkan saya mengasihi anda. Biarpun diucapkan dalam batin kata-kata itu akan bersinar dalam mata saya, akan menghilangkah kerutan pada dahi saya, membawa senyuman kepada bibir saya, gema dalam suara saya dan hatinya akan dibuka. Dan siapakah disitu yang akan mengatakan TIDAK kepada saya bilamana hatinya merasakan kasih saya?

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Terutama saya akan mengasihi diri saya sendiri. Sebab bila saya mengasihi diri saya sendiri saya akan dengan tekun memeriksa segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saya, pikiran saya, jiwa saya, dan hati saya. Saya tidak akan pernah menurut secara berlebihan kehendak tubuh saya, lebih baik saya akan menghargai tubuh saya dengan kebersihan dan kesederhanaan. Saya takkan membiarkan pikiran saya tertarik pada kejahatan dan keputusasaan lebih baik meningkatkan pikiran saya dengan ilmu dan pengetahuan. Saya tidak akan memperbolehkan jiwa saya menjadi puas dan senang, lebih baik saya memberikan makanan kepada jiwa saya dengan meditasi dan doa. Saya tidak akan membolehkan hati saya menjadi kecil dan pahit, lebih baik saya membagikan hati saya dan hati saya itu akan tumbuh dan menghangatkan bumi.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Mulai sekarang saya akan mengasihi seluruh umat manusia. Mulai saat ini semua rasa benci telah keluar dari semua pembuluh darah saya karena saya tak ada waktu untuk membenci, hanya ada waktu untuk mengasihi. Mulai saat ini saya akan mengambil langkah pertama yang perlu untuk menjadi seseorang diantara orang-orang. Dengan kasih saya akan meningkatkan nilai saya seratus kali lipat dan akan menjadi INSAN LUAR BIASA. Tanpa semuanya ini, saya akan gagal sungguhpun saya memiliki semua ilmu pengetahuan dan ketrampilan di dunia.

Saya akan menyambut hari ini dengan RASA kasih dan Saya akan SUKSES.





Iman dan Wahyu

Gereja yang hidup adalah Gereja yang menjadikan seluruh perjalanan hidup di dunia ini sebagai medan beriman. Pengalaman hidup sehari-hari merupakan medan manusia untuk berjumpa dan berelasi dengan Allah. Dalam pengalaman hidupnya, manusia mengalami Allah yang menyapa dan campur tangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, dalam konteks pengalaman hidupnya, manusia menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah mengandaikan kesalingan dua hal. Di satu sisi, Allah mewahyukan diri kepada manusia dengan cara yang di-tangkap oleh manusia. Di sisi yang lain, manusia menanggapi per-wahyuan yang ditangkapnya dengan menyatakan imannya.
Allah dan manusia menjadi subyek dalam relasi ini. Dari sudut wahyu, Allah-lah yang menjadi subyeknya, dan dari sudut iman manusia-lah yang menjadi subyeknya. Dengan kata lain, tesis ini hen-dak berbicara tentang jalinan komunikasi antara Allah dengan manusia yang khas manusiawi.
Perwahyuan Allah bermula dari kehendak Allah sendiri yang mengalir dari kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mewahyukan diri, Allah berkehendak untuk menyapa dan menyatakan rahasia kehendak-Nya. Allah menjumpai manusia dan menjalin relasi yang akrab dengan ma-nusia. Pada puncaknya, dengan perwahyuan-Nya itu, Allah mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Dengan kata lain, Wahyu Allah merupakan komunikasi Allah yang mengajak manusia berpartisipasi. Wahyu Allah merupakan pernyataan diri Allah tentang diri-Nya sendiri kepada manusia dan mengajak manusia untuk menanggapinya (partisipasi).
Apa isi wahyu? Isi wahyu adalah diri Allah sendiri. Dalam wahyu, Allah menyatakan diri-Nya sendiri berserta seluruh rencana keselamatan-Nya Allah mengkomunikasikan dirinya sendiri kepada manusia.
Dan karena yang dikomunikasikan itu sifatnya personal, diri Allah sendiri, maka komunikasi itu menjadi personal. Karena itu, wahyu Allah merupakan tindakan diri Allah sendiri.Berikut ini inti pokok dalam DV 2 tentang bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya :
Titik awal wahyu adalah Allah sendiri. Pelaku wahyu adalah Allah dan isi wahyu adalah diri Allah sendiri dan misteri kehendak-Nya. Wahyu adalah gerak hidup ilahi Allah. Kristus menjadi jalan masuk manusia kepada Allah melalui seluruh peristiwa hidup-Nya dan berkat dorongan Roh Kudus. Partisipasi manusia terjadi melalui Kristus dalam Roh Kudus. Di dalam Kristus, manusia berjumpa dengan Allah yang menyapa. Kristus merupakan kepenuhan perjumpaan manusia dengan Allah. Dengan mewahyukan diri-Nya Allah menjumpai manusia sebagai sahabat-Nya untuk melibatkan manusia dalam hidup Allah sendiri. Wahyu Allah itu terungkap dalam kata dan perbuatan Allah yang dapat ditangkap oleh manusia. Kata dan perbuatan itu menggambarkan dan menerangkan isi wahyu yang misteri. Wahyu bukan diwariskan dari masa lampau, melainkan Allah yang menjumpai dan menyapa manusia secara personal.
Dalam PL, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah melalui Taurat (Yer 31,33; Ul 30,16) dan warta para nabi (Yer 1,9; Ibr 1,1) serta tanda-tanda alam (Panggilan Musa, Kel 3) .Dalam PB, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah dalam Yesus Kristus (Yoh 14, 8-14; Mat 11, 25-27; Luk 10, 21-21-24). Dalam Kis : kabar gembira mengenai Yesus Kristus (Kis 3, 17-26). Paulus : pewartaan kabar gembira tentang rencana keselamatan Allah yang tidak dari perkataan manusia, namun dari Allah (1Tes 2,13), misteri rahasia Allah yang terlaksana dalam Kristus Yesus (Ef 3, 8-12), dalam Yesus berdiam secara jasmaniah kepenuhan ke-Allah-an (Kol 2,9).
Allah yang tak kelihatan dan tak mampu dijangkau oleh manusia, menyapa manusia dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam mewahyukan diri-Nya Allah menggunakan cara-cara yang dapat ditangkap oleh manusia yang hendak disapanya. Dengan kata lain perwahyuan diri Allah tertangkap dalam ruang dan waktu manusiawi dan sekaligus berarti terjadi dalam proses, tahap demi tahap. Sejarah merupakan medan kehidupan sekaligus kehidupan manusia. Dalam Surat kepada orang Ibrani 1,1-2, tentang perantara Allah dalam mewahyukan diri-Nya dikatakan : “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Dalam kutipan itu dikatakan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya dalam dua cara, yaitu 1) dengan perantaraan para nabi dan 2) dengan perantaraan Anak-Nya. Keduanya terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Perwahyuan Allah dalam sejarah melalui para nabi dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Dan perwahyuan Allah dalam sejarah melalui Anak-Nya dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru.
Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan para nabi “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr1,1). Sejarah perwahyuan diri Allah dalam perjanjian Lama dimulai dengan perwahyuan diri Allah kepada Abraham. Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham (Kej 15, 18) dan kemudian dengan bangsa Israel melalui Musa (Kel 24,8). Allah menjadi Allah bangsa Israel dan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya. Dengan mengangkat bangsa Israel ini menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang dipilih-Nya Allah menyatakan diri-Nya dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dan di masa selanjutnya terus menerus Allah menyampaikan kehendaknya melalui para nabi.
Dalam DV 3 dikatakan : “Sesudah para Bapa bangsa, Ia membina bangsa itu (Israel) de-ngan perantaraan Musa dan para Nabi supaya mereka mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, Bapa Penyelenggara dan hakim yang adil, dan supaya mereka mendambakan Penebus yang dijanjikan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perwahyuan diri Allah dan rencana keselamatan-Nya terus menerus dikatakan. Dan perwahyuan diri Allah kepada para Bapa bangsa dan para nabi itu penuh sebab kepada mereka Allah telah menyatakan Diri dan rencana keselamatan-Nya. Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan Anak-Nya. Dalam DV 2 tentang hali ini dikatakan : “Melalui wahyu itu, kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menjadi pengantara dan kepenuhan wahyu”. Dan dalam Ibr 1,2 dikatakan : “Pada zaman akhir ini ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anaknya”.
Yesus Kristus adalah puncak dan pemenuhan wahyu Allah. Di dalam Kristus, Allah yang menyapa manusia dan rencana keselamatan-Nya mencapai kepenuhannya. Sebab, “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1,19). Di dalam Yesus, perwahyuan Allah itu tidak lagi menjadi suatu rencana keselamatan melainkan justru Yesus Kristuslah keselamatan Allah sendiri. Dalam diri Kristus perwahyuan Allah kepada manusia mencapai puncak dan keakrabannya dan kedekatannya. “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan” (Kol 2,9). Kesempurnaan kepenuhan wahyu datang dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak hanya menyampaikan firman Allah (Yoh 3,34). Yesus Kristus adalah Sang Firman Allah sendiri (Yoh 1,1; Why 19,13). Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah pernyataan Allah sendiri. Dalam diri Yesus Allah memberikan diri secara penuh kepada manusia. Yesus mewujudkan wahyu Allah dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Karena itu, inkarnasi Yesus Kristus, seluruh perjalanan hidup, nasib, karya dan memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya menjadi tanda jelas bahwa wahyu Allah itu terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14,9).Dengan demikian, dalam diri Yesus Kristus dengan seluruh peristiwa hidup-Nya merupakan keselamatan Allah, yaitu kesatuan antara Allah dan manusia. Allah memerosotkan diri-Nya dan menggunakan cara-cara manusiawi agar dapat menyatakan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia.
Perwahyuan Allah adalah tindak Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya. Dan komunikasi Allah yang mencapai kepenuhan-Nya dalam Yesus Kristus itu menjadi langkah bagi Allah untuk menyapa manusia. Ia tidak pertama-tama memerintah, melainkan mengajak manusia berkomunikasi dan mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Komunikasi Allah mengundang manusia untuk tidak hanya diam saja, tetapi perwahyuan diri Allah mengundang manusia dalam percakapan yang intim dengan Allah. Maka dikatakan dalam DV 2 “dari kelimpahan kasihnya, (Ia) menyapa manusia sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka”. Manusia disapa Allah sebagai sahabat-sahabat-Nya. Karena itu, perwahyuan diri Allah merupakan komunikasi Allah yang dialogis di mana Allah memberikan diri-Nya kepada manusia dan manusia menerima pemberian diri Allah itu. Pemberian diri Allah itu, penuh dalam Yesus Kristus yang tinggal di tengah-tengah kita. Dalam iman, manusia mendengar serta menjawab sapaan itu dalam konteks hidupnya.Dengan dan karena iman manusia mampu mendengar dan menjawab sapaan Allah. Apa yang dimaksud dengan iman?
Kata ‘iman’ merupakan terjemahan dari kata pistis (Yunani), fides (Latin), dan faith (Inggris) yang berarti kepercayaan, keyakinan dan penerimaan wahyu Allah. Dalam konteks teologi “iman” dan “percaya” dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan manusia dengan Allah, utamanya dengan menerima wahyu. Iman dalam bahasa Ibrani ‘mn berarti mengandung pemahaman tentang “sesuatu yang dapat diandalkan dan dipercaya”. Isi iman PL adalah kepercayaan kepada janji dan tuntunan Allah bagi umat Israel. Atas wahyu Allah manusia menjawab dengan kesiapsediaan dan ketaatan. Dalam tataran tertentu, iman dipahami sebagai setia dan mentaati perintah Allah agar memperoleh hidup. Karena itu, tekanan utamanya adalah “untuk mengasihi Tuhan Allahmu dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu . . . “ (Ul 30,16). Dalam sejarah perjalanan bangsa Israel, Abraham menjadi model orang beriman yang sungguh percaya dan mengandalkan Allah (Kej 12, 1-4). Iman juga merupakan suatu tindakan, yaitu sikap setia dalam melaksanakan kehendak Allah (Mi 6,8), mengakui Yaurat sebagai kehendak Allah (Mzm 119,66) dan menerima utusan-utusan Allah (Kel 14,31; 2taw 20,20).
Injil Sinoptik, iman dipahami sebagai sikap mendengar (Mat 4,9 : “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”), percaya dan mempercayakan diri kepada Yesus (Mat 9, 27-31; Luk 7,6-9). Percaya itu tidak cukup mendengar namun mengerti (bdk. Mat 13,19). Mengerti berarti : menerima sabda Allah dan hidup setia sesuai dengan sabda Allah. Beriman juga berarti bertobat dan berbalik kepada Allah (Mrk 1,15). Yohanes : beriman itu berarti percaya kepada Yesus sebab Yesus mengerjakan yang diperintahkan Bapa. Dengan demikian beriman berarti percaya kepada Bapa yang mengutus Yesus (Yoh 14). Tberiman atau tidak beriman merupakan sikap ya atau tidak kepada Yesus. Beriman berarti pilihan untuk memihak Yesus dan menerima Sabda-Nya. Tidak beriman berarti menolak Yesus (Yoh 15). Paulus : beriman berarti semakin mengenal misteri Allah dalam Yesus Kristus. Manusia diajak semakin mengenal rencana penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus (Bdk. 1Kor 1,17; 2, 1-4; Kol 2, 2-3). Iman merupakan perbuatan yang dengannya manusia menyerah-kan diri kepada Allah sebagai sumber satu-satunya keselamatan. Orang beriman kepada Allah melalui Putera-Nya sebab melalui Putera-Nya itu Allah bersabda. Karena itu, bagi Paulus beriman berarti mempersatu-kan diri dengan Kristus. Paulus mengartikan sabda Allah bukan pertama-tama kebenaran, melainkan diri Kristus, sebagai Tuhan dan Penyelamat. Hanya imanlah yang menyelamatkan (Rm 3, 21-31) dan bukan Taurat. Yakobus : “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2, 26). Bagi Yakobus, beriman itu tidak hanya berhenti pada mendengarkan dan percaya kepada Allah, melainkan juga melaksanakannya.
Dalam DV 5 dikatakan bahwa :Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib me-nyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersem-bahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan secara sukarela menerima sebaai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya”.
Dalam kutipan tersebut, tampak iman dipahami sebagai :
· Penyerahan seluruhnya dengan bebas kepada Allah (menyangkut segi pengetahuan, keyakinan, pengertian dan pemahaman).
· Kepatuhan akal budi dan kehendak (berhubugnan dengan kebebasan iman)
· Dengan pengakuan bebas à menyangkut kerelaan hati, keterbukaan untuk menerima kebenaran wahyu).
Namun iman bukanlah pencapaian oleh manusia sendiri. Agar mampu beriman, manusia membutuhkan rahmat Allah karena iman adalah anugerah Allah. Dalam DV 5 dikatakan : “Supaya orang dapat beriman . . . diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membaklikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran. Semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan melalui karunia-karunia-Nya”. Dari kutipan itu kiranya dapat ditangkap bahwa iman merupakan rahmat Allah. Agar orang mampu beriman, rahmat Allah diperlukan. Dengan kata lain, rahmat Allah itu mendahului iman. Rahmat yang mendahului iman itu tak lain adalah Roh Kudus yang berperan untuk membawa manusia menyadari karya Allah dalam hatinya. Roh Kuduslah yang membuka mata budi dan menimbulkan iman pada setiap orang.Dari situ dalam DV 5 dapat dikatakan bahwa : Iman merupakan rahmat Allah, Iman juga merupakan jawaban bebas manusia terhadap Allah, Iman mengandung unsur pengertian manusia (akal budi). Dengan kata lain, dalam peristiwa iman ada 3 unsur yaitu : rahmat, akal budi dan kehendak bebas manusia. Iman mengandaikan pengertian sebab iman adalah tindakan intelektual dan sekaligus mengandaikan kehendak bebas manusia yang sangat membutuhkan rahmat. Akhirnya, KV II memaknai iman sebagai tanggapan manusia berkat bantuan Roh Kudus kepada pemberian diri Allah dalam Kristus, yang berupa penyerahan diri secara bebas kepada Allah.
Iman dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Iman yang hidup adalah iman yang berakar dan mengakar pada pengalaman hidup manusia. Iman bukanlah bentuk mati yang tinggal dikenakan, melainkan sebuah proses perjumpaan manusia dengan Allah dengan cara yang sangat manusiawi dalam gerak sejarah kehidupan. Dan iman yang hidup itu pastilah menggerakkan hidup manusia dan menimbulkan kesadaran baru. Dengan kata lain, iman sebagai tanggapan atas perwahyuan Allah tidak dapat dilepaskan dari konteks hidup manusia. Pengalaman hidup sehari-hari menjadi medan bagi manusia men-dengar dan menjawab Wahyu Allah. Sebagai contohnya : pengalaman umat Israel dibebaskan dari Mesir dan pengalaman di padang gurun selama 40 tahun. Pengalaman itu menjadikan bangsa Israel sadar bahwa Allah sungguh-sungguh setia kepada umat pilihan-Nya. Dalam pengalamannya yang konkret itu, bangsa Israel mengalami Allah yang bersabda, menyapa mereka dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dalam GS 58 dikatakan “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penam-pakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman”
Allah menyapa dan menyampaikan kabar keselamatan-Nya dalam konteks hidup dan kebudayaan khas manusia. Manusia bukan makhluk individual dan tanpa dunia yang melingkupi-nya. Dalam konteks kebersamaan dengan yang lain dan lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia beriman sebab iman bukanlah sisi kehidupan manusia yang dapat dilepaskan dari kenyataan hidup manusia sendiri. Karena itu, iman tidak dapat dipisahkan dari kebersamaan dengan yang lain. Sebab, dalam suasana hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia mengalami sapaan Allah yang menyelamatkan. Terhadap Allah yang menyapa manusia dalam konteks hidup manusia yang khas, dalam konteks hidupnya pula manusia menanggapi sapaan Allah yang menyampaikan keselamatan-Nya. Karena itu, jawaban manusia harus terwujud dalam keterlibatan yang aktif dalam perjalanan sejarah manusia, dalam kehidupan nyata yang konkret dengan berbagai persoalannya. Iman bukan lagi tanggapan yang bersifat abstrak, namun konkret dan kontekstual. Karena itu, iman haruslah menjadi kenyataan hidup yang menggerakkan manusia dari dalam. Iman harus terwujud dalam tindakan moral. Karena itu, dalam beriman secara konkret dalam konteks hidup, manusia membutuhkan terus-menerus pertolongan Roh Kudus agar mampu mengenali perwahyuan Allah dalam kenyataan hidupnya dan menjawab sapaan Allah itu secara kontekstual pula. Tujuannya adalah agar hidup manusia tetap bermakna. Tentu saja wahyu Allah bukanlah jawaban langsung atas persoalan hidup beriman, namun dalam terang dan bimbingan Roh Kudus manusia menemukan kehendak Allah.
Allah menyapa manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan manusia. Hal itu berarti Allah berkehendak menjalin relasi yang intim dan personal dengan manusia. Hubungan Allah dengan manusia adalah hubungan antar pribadi yang intim. Intimitas dan personalitas hubungan Allah-manusia itu tampak dalam diri Yesus, dalam seluruh peristiwa hidupnya. Yesus adalah Allah yang seperasaan dan sependeritaan dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Yesus adalah solidaritas Allah pada manusia. Di dalam diri Yesus, Allah menyapa dan berbicara dengan manusia dengan cara-cara yang manusiawi. Di dalam Yesus, manusia tidak lagi disebut hamba, melainkan sahabat dan menjadi anak-anak Allah berkat penebusannya yang memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitannya. Kamu adalah sahabat-Ku . . . Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. . . . Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15, 14-15).
Perwahyuan diri Allah bertujuan untuk mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, manusia masuk menjadi anggota keluarga Allah, ahli waris (Bdk. Gal. 4, 1-9). Wahyu Allah dan iman sebagai tanggapan manusia menjadi dialog yang akrab, intim dan personal antara Allah dengan manusia. Allah menyapa manusia dengan cara yang khas manusia. Dan manusia menanggapi sapaan Allah dengan cara yang khas pula seturut pengalaman hidupnya. Dan justru inilah menjadi tanda bahwa hubungan Allah dan manusia sedemikian akrab dan personal.













Chatting ma Tuhan

Chatting ma TUhan

TUHAN : Kamu memanggilku?
AKU : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi aku ingin berbincang-bincang denganmu
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk
AKU :Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU :Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU :OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN :Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah Pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu Pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU :Maksudnya Pengalaman Pahit itu berguna?
TUHAN :Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental, kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah,….
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekeja dengan waktu.
AKU : Disaat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari Manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?“.
AKU :Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya disini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses Penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan Keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doa saya tidak dijawab.
TUHAN :Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya TIDAK.
AKU : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : OKE. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah pada-Ku. Hidup itu Indah jika kamu tahu cara untuk Hidup.

Selasa, 13 Mei 2008

Makna sakramen Babtis

Sakramen Babtis
I. Makna Sakramen Babtis
Perayaan babtisan yang kita rayakan dalam Gereja memliki dasarnya yang kuat dalam praksis Gereja perdana. Kata “Babtis” berasal dari kata Yunani baptizein baptizein yang berarti membenamkan, mencemplungkan atau menenggelamkan ke dalam air, entah seluruhnya atau sebagian.

a. Tradisi Israel
Tradisi Israel mengenal macam-macam pentahiran (im 11-15), termasuk pentahiran menggunakan percikan air (Bil 19,17-22), mandi si sungai (2 Raj 5, 14). Aneka ritus pentahiran yang menggunakan air pada orang Yahudi ini terutama berkembang sejak zaman sesudah pembuangan. Ritus pembersihannya sangat rinci dan rumit untuk orang Yahudi yang mengalami kenajisan seperti menyentuh mayat, orang yang sakit kusta, binatang haram, dsb. Pembasuhan diri sebagai upacara pentahiran dengan menenggalamkan diri dalam air yang bersih dan mengalir ini pada tradisi Yahudi merupakan upacara yang dapat diulang-ulang. Ini berkembang menjadi ritus pembabtisan untuk kelompok Eseni. Dengan babtisan ini, mereka memandang diri sebagai orang-orang atau kelompok terpilih. Ini menjadi semacam inisiasi bagi orang-orang non-Yahudi yang ingin menjadi orang atau warga Yahudi. Kaum proselit itu menjalani ritus babtisan selain juga harus menjalani sunat yang merupakan syarat pokok untuk masuk ke dalam kalangan religius Yahudi. Babtisan Proselit hanya dilakukan sekali saja dan tidak dapat diulangi.

b. Babtisan Yohanes Pembabtis.
Dari segi upacara, babtisan Yohanes seperti babtisan preseit tidak dapat diulang, tetapi berbeda dari babtisan proselit, babtisan Yohanes itu bukan babtisan oleh diri sendiri. Babtisan Yohanes ialah babtisan yang diterimakan oleh Yohanes sebagai nabi utusan Allah. Jadi orang dibabtis oleh orang lain, yakni Yohanes. Babtisan Yohanes merupakan babtisan unutk pengampunan dosa. Pertobatan yang diserukan oleh Yahanes ini tertama berkaitan denagn persiapan diri akan kedatangan Kerajaan Allah (Mat 3, 1-12). Yesus juga merelakan diri dibabtis oleh Yohanes. Dalam Gereja perdana, muncul suatu perselisihan antara murid-murid Yohanes dan murid-murid Yesus Kristus (mat 9,14; Luk 11,1) mengenai siapa yang terbesar diantara dua tokoh ini. Dengan membiarkan diri dibabtis oleh Yohanes, terdapat kesan bahwa tokoh Yohanes lebih besar daripada tokoh Yesus. Padahal, kita memahami bahwa dalam lingkungan kristiani, tokoh Yesus pastilah lebih besar daripada siapapun juga, termasuk Yohanes. Ada dua alasan mengapa Yesus mau dibabtis oleh Yohanes. Pertama, Yesus mau menemparkan diri sebagai pribadi yang ikut menantikan Kerajaan Allah pada akhir zaman. kedua, Yesus mau menunjukkan solidaritas pada bangsa-bangsa yang membutuhkan penyelamatan dari Allah (mat. 3,15).

c. Gereja perdana jelas mempraktikan babtisan kristiani bagi mereka yang mau bergabung ke dalam kelompok murid ( kis 2, 38-41; 8,16; 10,48; 1 kor 12,13). Babtisan kristiani berbeda dengan babtisan proselit karena babtisan kristiani merupakan babtisan yang dilakukan oleh orang lain sebagai pelayannya. Babtisan Kristiani dilakukan dalam nama Yesus Kristus (Kis 2, 38; 10,48) atau dalam nama Tuhan Yesus (kis 8,16).

d. Makna teologi babtisan dalam Perjanjian Baru:
1. Babtisan sebagai tanda iman. Babtisan itu mengandaikan iman dan di lain pihak iman dari orang yang dibabtis harus dihidupi dan dikembangkan dalam seluruh hidupnya (Mat 28,19).
2. Babtisan sebgai penyerupaan pada Yesus Kristus. Dengan babtisan ini, kita menjadi serupan dengan Yesus Kristus (kis 2,38;10,48).
3. Babtisan sebagai pengampunan dosa. Makna babtisan sebagai karunia pengampunan dosa tampak dalam kata-katak st. Petrus “bertobatlah dan hendaklak kamu masing-msing memberi dirimu dibabtis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa (Kis 2, 38).
4. Babtisan mengaruniakan Roh Kudus. Melalui babtisan, kita menerima karunia Roh Kudus. Karunia Roh Kudus memampukan para rasul mengalami Tuhan yang bangkit dan membuat mereka bisa berbicara dengan macam-macam bahasa sehingga semua orang bsia mengerti pewartaan Injil itu (Kis 2,4.8-11).
5. Babtisan mempersatukan kita ke dlaam satu tubuh: Gereja. Melaui babtisan, Gereja dibangun dan tubuh, memasukan setiap pribadi ke dalam suatu relasi orang-orang Kristiani yang memiliki martabat yang sam adan hidup menurut jiwa solidaritas sebagaimana tampak dalam Kis 2, 41-47.
6. Babtisan sebagai karunia hidup baru. Yohanes mengembangkan gagasan babtisan sebagai kelahiran baru. Melalui babtisan, seseorang dilahirkan kembali dalam roh. Ia dikaruniai hidup baru dan sepanjang hidupnya, ia harus mewujudkannya dalam gaya hidup dan tindakannya sehari-hari.

II. Babtisan dalam praksis dan ajaran Gereja
1. Gereja sejak awal menyadari bahwa iman dan hidup sebagai murid merupakan suatu proses pertumbuhan yang berlangsung lama dan membutuhkan bantuan struktural. Artinya orang yang sudah dibabtis maupun orang yang belum dibabtis dan ingin dibabtis perlu mendapat pelajaran dan bimbingan mengenai iman Gereja.
2. Ajaran dan praktik babtisan pada zaman bapa-bapa Gereja masih terus mengembangkan seuruh warisan pemahaman biblis terhadap babtisan.
3. Perkembangan baru terjadi dengan ritus babtisan dan inisiasi umumnya yang ditandai dengan terbentuknya model tahapan dalam babtisan dan inisiasi.
a. Orang-orang yang ingin menjadi kristiani harus menjalani masa katekumenat yang berlangsung selama 3 tahun.
b. Beberapa minggu sebelum malam paska merupakan masa persiapan intensif untuk persiapan babtis.
c. Perayaan dan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi dilangsungkan dalam perayaan liturgi malam paska.
d. Pada masa paska, warga gereja yang baru ini menjalani masa mistagogi, yaitu masa untuk memperdalam, memantapkan, dan menghayati iman akan misteri Kristus, serta membiasakan diri pada kebiasaan dan tradisi Gereja.
4. Pada abad IV-V, ada pergeseran perhatian teologis dari penerima babtisan bergeser ke masalah pelayan babtisan. Ini berkembang karan ada masalah dengan donatisme yang menolak keabsaah babtisan yang diberikan oleh orang-orang berdosa dan diskusi yang ramai mengenai dosa asal. Ada pelagianisme yang menolak paham dosa asa.
5. Ada kelompok orang-orang armenia yang ingin bergabung ke Gereja Katolik. Pada konsili florenz( 1439) menyampaikan ajarannya mengenai sakramen babtis yang dipahami sebagai pintuk gerbang kepada kehidupan rohani karena dengan babtisan kita menjadi anggota Kristus dan ditambahkan ke tubuh Gerea. Konsili ini mengungkapkan tentang daftar materia dan forma sakramen babtisan, juga macam rahmat sakramenyang diberikan serta kepada siapa yang dapat menjadi pelayannya.
6. Sejak abat 20 mulai berkembang secara pelan suatu penyerdehanaan ritus inisiasi di Gereja Barat. Pada abad ini juga berkembang gerakan di bidang liturgi, teologi, dan bahkan berbagai bidang kehidupan Gereja. Babtisan dan Krisma merupakan sakramen yang tak terpisahkan dari inisiasi Kristiani yang bersama dengan Ekaristi menjadi sakramen inisiasi yang utuh.
7.
III. Refleksi sistematis: Makna Teologis Sakramen Babtisan
1. Babtisan mempersekutukan kita dengan Yesus Kristus. Babtisan memasukkan seseorang dalam relasi intim dengan Yesus Kristus, ke dalam seluruh peristiwa Yesus Kristus (rm. 6,1-14).
2. Babtisan mempersekutukan kita dengan Allah Tritunggal. Dengan senasib dan bersekutu dengan Yesus Kristus, kita diperskutukan dengan Allah Tritunggal sendiri. Melalui babtisan, kita dimasukkan ke dalam komunitas kasih trinitaris, yaitu dialog kasih antara Bapa dan Putra yang berlangund dalam Roh Kudus. Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati kita memungkinkan kita untuk bisa mengalami persekutuan dengan hidup internal dari Allah Tritunggal.
3. Babtisan memasukkan kita ke dalam persekutuan Gereja. Dengan babtisan, seseorang dimasukkan ke dalam Gereja. Denagn dibabtis, seseorang diterima sebagai anggota baru Gereja. Babtis meliputi dua macam gerak, yaiitu realitas komunikasi dan perjumapaan. Seseorang dimasukkan ke dalam Gereja sekaligus Gereja menjadi hidup dan tumbuh dalam diri orang tersebut.
4. Babtisan sebagai ikatan kesatuan ekumenis. Dengan babtisan, kita dipersatukan dengan seluruh umat beriman yang menerima rahmat tahbisan.
IV. Nama Permandian
Nama babtis mempunyai tiga arti, yaitu:
1. Agar keutamaan, kesucian, dan keteladanan orang suci itu terpancar pada orang atau anak itu.
2. Agar orang suci itu membantu orang atau anak itu melalui doa dan relasi khususnya dengan orang tersebut, sehingga orang itu dapat hidup pantas bagi Allah.
3. Nama babtisan itu juga merupakan simbol hidup baru yang diterimanya melalui babtisan.

Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus

Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus
Dialog dengan tradisi-tradisi Kristiani memberikan kesaksian iman mengenai perjumpaan dengan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus. Umat beriman kristiani berjumpa dengan orang-orang yang memberikan kesaksian iman.
[1] Melalui proses mendengarkan, iman kita dilahirkan dan dikembangkan. Di sini, tradisi-tradisi kristiani dimengerti secara luas, yaitu semua saja yang menampilkan kesaksian mengenai Yesus Kristus, seperti ajaran Gereja, pemikiran teologis, spiritualitas, praksis Gereja dan terutama Kitab Suci. Dari tradisi-tradisi Kristiani ini pula, kita sampai pada perumusan ajaran iman mengenai siapa Yesus bagi umat Kristiani, yang direfleksikan dalam konteks pengalaman manusiawi mengenai Allah.
Pengalaman dan pemahaman manusia mengenai Allah terjadi dalam dunia melalui suatu mediasi, entah itu peristiwa, orang, situasi, teks-teks kitab suci ataupun benda-benda. Mediasi tersebut dapat disebut gelar religius. Sebagai kenyataan dalam dunia ini, gelar religius mempunyai sifat terbatas, tetapi menunjuk yang mengatasinya, yaitu Allah yang transenden dan tak terbatas. Yang tak terbatas dialami dalam dan melalui gelar religius yang terbatas. Gelar religius terbatas ini memang menunjuk keseluruhan dari Yang tak terbatas, tetapi sekaligus juga mengkhususkan, memfokuskan, mentematisasikan dan membatasi. Allah mewahyukan diri kepada manusia dalam dunia. Gelar-gelar mengenai Yesus muncul dari hidup manusia dalam dunia ini, bahkan dalam konteks tertentu pula. Pemahaman mengenai Yesus Kristus sekaligus juga pemahaman mengenai eksistensi manusia dalam hubungan dengan Yesus Kristus.

1.1 Nabi
[2]
Yesus dikenal sebagai seorang nabi (Mat. 21,11; Lk. 7, 16; 24,19; Yoh 4,19;9,17). Yesus sendiripun berkata mengenai diriNya, “Seorang nabi di hormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara keluarganya dan di rumahnya” (Mk 6,4; Lk. 4,24; Yoh 4,44). Pengalaman Yesus pada saat permandian (Mat 3,13-17) dapat dipandang sebagai pengalaman panggilan seorang nabi (Yes 6,1-10)[3]. Yesus telah berkiprah sebagai seorang yang memiliki kuasa (eksousia) yang pasti merupakan ciri kenabian. Di dalam tradisi alkitabiah, kewibawaan seorang nabi diakui dan diterima apabila ia dikuasai oleh Roh Allah. Penampilan Yesus mengingatkan orang akan tokoh Perjanjian Lama maupuan akan Yohanes Pemandi yang juga disebut “nabi” (Mat 11,9; 14,15; Luk 1,76).
Pada waktu kaum keluarga Yesus dan orang-orang lainnya kuatir bahwa Yesus sudah tidak waras atau bahwa ia mungkin telah dirasuki setan, Ia menanggapi dengan memuji dan memuliakan kehadiran Roh Kudus dan kehendak Allah (Mk. 3, 21-35). Karena Yesus dikenal tidak hanya sebagai seorang nabi, tetapi sebagai seorang nabi akhir zaman, sebagai Dia yang memberitakan telos (maksud akhir) dan finis (tujuan akhir) Allah dan sebagai Dia yang mendatangkan dan mewujudkan “tindakan akhir Allah yang paling menentukan untuk menyelamatkan umatNya. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah dan meminta tanggapan iman, tetapi Ia juga telah mempertaruhkan hidupNya sendiri dengan menempuh bahaya demi kebenaran yang menjadi isi amanatNya.

1.2 Anak Manusia
[4]
Dalam Perjanjian Baru, Kata “Anak Manusia” dipakai sebanyak 82 kali, yaitu 67 daripadanya injil synoptik, 13X dalam Yohanes, dan Kis 7:56, Why 14:14.[5] Kata Anak Manusia dipakai oleh Yesus sendiri dalam arti “saya”. Kadang-kadang dalam teks-teks paparel memang ditulis “saya” ganti “Anak Manusia” (Luk 12,8; Mat 10,32). Banyak ahli berpendapat bahwa sebutan Anak Manusia berasal dari Yesus sendiri. Dalam Mrk 14,62, Anak Manusia terang mempunyai arti mesias, dan barangkali ayat itu dirumuskan dengan pertolongan Dan 7,13. R. Bultmann membedakan tiga sabda mengenai Anak Manusia:
1. Anak Manusia yang akan datang, khususnya sebagai hakin dimasa yang akan datang,
2. Anak Manusia yang bersengsara, teristimewa yang disebut dalam ramalan sengsara,
3. Anak Manusia yang berkarya di dunia, biasanya penuh kuasa.
Secara umum boleh dikatakan bahwa Yesus berbicara mengenai dirinya sendiri dengan mempergunakan sebutan Anak Manusia. Fakta bahwa Gereja Purba tidak mempergunakan Anak Manusia sebagai gelar kristologis merupakan argumen yang kuat untuk mempertahankan bahwa sebutan itu berasal dari Yesus. Kalau Yesus menyebut dirinya dengan sebutan Anak Manusia, apa artinya? Jawaban harus dicari dalam pewartaan Yesus sendiri, yakni pewartaanNya mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjadi begitu sentral dalam pewartaan Yesus, sehingga hidup dan pribadi Yesus harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah. Anak Manusai harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah itu. Dapat dikatakan bahwa sabda mengenai Anak Manusia datang atau dari Yesus sendiri atau dari jemaat purba. Anak Manusia adalah gelar eskatologis, dan sangat tidak jelas baik artinya ataupun asal-usulnya. Teks tentang Anak Manusia terdapat dalam: Mt 9,6; 12,8; 17,8;25,18, Mrk 2,10, 8,31; 9,9, Luk 5,24; 6,5; 9,22, Yoh 1,51; 3, 13; 5,27.

1.3 Anak Allah
[6]
Dalam Perjanjian Baru, ada dua cara pemakaian sebuatan Anak Allah: atau sebagai semacam gelar atau sebagai ungkapan relasi khusus Yesus dengan Allah. Anak Allah mempunyai arti gelar, langsung kelihatan dari perbandingan teks-teks ini: Yoh 1,49; Luk 4,41; Kis 9, 20-22. Melalui teks-teks ini kelihatan bahwa “mesias” (=kristhos) disebut Anak Allah. Gelar Anak Allah umum dipakai di dalam lingkungan Yunani-Romawi dan diterapkan pada diri kaisar atau dewa-dewa kafir. Dalam tradisi Israel gelar Anak Allah diterapkan untuk raja (2Sam 7,14) dan untuk Israel (Kel 4,22).
Dalam Perjanjian Baru, sebutan Anak Allah mempunyai dua arti, yaitu sebagai gelar dan relasi Yesus dengan Allah
[7]. Sebagai gelar kebesaran, sebutan Anak Allah menunjukkan keluhuran Yesus (bdk. Ki 13:32-33). Keluhuran itu terutama menunjuk pada pengalaman paska. Lewat pengalaman paska, pandangan para murid akan Yesus makin transenden, makin dimuliakan dan diilahikan. Gelar Anak Allah juga merupakan pengakuan iman khas kristiani, namun bukan dalam arti julukan kehormatan (Yoh 20,31). Dengan sebutan Anak Allah, mau ditunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Dalam konteks ini sebutan Anak Allah, pertama-tama mau menunjuk hubungan Yesus dengan Allah (Mt 11, 27; Luk 10, 22). Relasi khusus Yesus dengan Allah ini nampak jelas dengan menyebut Allah sebagai Bapa (Yoh 5,17).
1.4 Kristus
[8]
Kata “Kristus” (Yunani “Christos”, Ibrani “Mesias”) mempunyai arti ‘yang terurapi’.
[9] Kata ini berasal dari Perjanjian Lama dan Yudaisme. Gelar itu dipakai bagi raja-raja yang duduk di atas tahta Daud dan mempunyai warna politis. Meskipun seroang raja Israel diurapi oleh manusia, namun pengurapan itu dilihat sebagai tindakan Allah (1Raj 9,3). Dengan pengurapan itu, diungkapkan pemberian Roh Tuhan sebagai mesias (Yes 61). Pada perkembangan sejarah Kerajaan Israel, dimana tidak ada raja yang memenuhi harapan, sebutan Kristus/Mesias diarahkan kepada raja yang ideal. Disinilah muncul pemahaman mesias eskatologi, yakni raja ideal yang diharapkan pada akhir zaman. Janji akan kedatangan mesias itu beragam. Deuteroyesaya melukiskan mesias itu sebagai “hamba yang bersengsara” (Yes 53), dalam Dan 7, 11 mesias adalah Anak Manusia.
Dalam Perjanjian Baru gelar Kristus dikenakan pada Yesus. Ini mau menunjukkan fungsi, misi, tugas Yesus yang merupakan jawaban terhadap situasi fundamental. Yesus tidak pernah menyebut diri-Nya Mesias. Dalam Perjanjian Baru ada tiga teks yang menampilkan aspek mesianis Yesus:
1. Tulisan pada salib (Mrk 15, 26). Orang Romawi memandang Yesus sebagai mesias dalam arti politis yang memberontak.
2. Yesus dihadapan mahkamah agama (Mrk 14, 53-65)
3. Pengakuan Petrus (Mrk 8, 27-33).
Teks ini yang paling jelas bicara mengenai mesianitas Yesus. Mesias yang dimaksud adalah “Anak Manusia yang menderita sengsara dan ditolak oleh tua-tua dan para imam lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8,31). Gelar Kristus bagi Yesus secara khusus berkaitan dengan peristiwa salib dan wafat-Nya. Saat penyaliban, istilah Kristus hanya sebagai ejekan (Mrk 15,32), namun setelah peristiwa kebangkitan, para murid memaknainya sebagai nama kehormatan dan kemuliaan.

1.5 Tuhan
[10]
Kata “Tuhan” merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “Kyrios”. Kata ini dipakai untuk menyebut pemilik, tuan, majikan, penguasa yang memerintah raja-raja. Dalam arti kyiros tidak mempunyai arti religius. Tetapi dalam dunia Yunani, kyrios juga memiliki makna religius, yakni untuk menunjuk para dewa-dewi yang memiliki kuasa dan hak atas hidup manusia. [11]
Dalam terjemahan Perjanjan Lama, kata Tuhan biasa digunakan untuk menyebut Allah, sebab Israel juga mengenal penggunaan kata ‘tuan’, ‘tuhan’ untuk menunjuk para pemilik tanah, raja atau majikan. Dalam bahasa Ibrani istilah itu dipakai kata adonai, adon. Adonai mau mengungkapkan diri Allah yang memiliki bangsa Israel dan juga menguasai langit dan bumi, sebab Dia adalah Sang Pencipta yang kemuliaan-Nya memenuhi ciptaan-Nya (Mzm 114,7 Yes 1,24; 3,1).
Dalam Perjanjian Baru, kata Tuhan dikenakan untuk gelar Yesus. Gelar Tuhan adalah gelar kebangkitan. Tulisan Paulus cukup konsekuen dalam menggunakan gelar ini. Gelar Tuhan pertama-tama digunakan untuk Dia yang dibangkitkan atau Dia yang mulia dan ditinggikan karena kebangkitan. Flp 2, 9-11, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengurniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut…”
Dalam Gereja Perdana, sebutan Tuhan dikenakan pada Yesus. Jemaat kristen sadar bahwa Yesus yang menderita dan wafat di salib itu kini bangkit dan ditinggikan oleh Allah menjadi Tuhan. Sebaga Tuhan, kini Yesus mempunyai kuasa bumi atas langit (Mt 28,18). Dalam tardisi PL, kuasa itu hanya dimiliki Allah. Sebagaimana Allah adalah penyelamat, kini Yesus di dalam Allah yang bertindak dan menyelamatkan (Yoel 2,32, Rm 10,9). Maka dengan sebutan Tuhan, Yesus mau disejajarkan dengan Allah sendiri yang berkuasa dan sebagai penyelamat. Yesus sebagai Tuhan bagi jemaat kristiani menjadi pokok keselamatan (Ibr 5,9) dan pusat Gereja.


[1] JB. Banawiratma. “Kristologi dalam Pluralisme Religius” dalam Orientasi Baru… 75-76.
[2] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 27-28
[3] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 51
[4] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 96-98.
[5] Tom Jacobs. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru… 147-150
[6] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 32-35
[7] Tom Jacobs. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru… 96, 145-147.
[8] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 30-32
[9] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 76-77.
[10] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini…29-30
[11] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 104-105

Siapa Allah Bagimu?????

Siapa Allah Bagimu????

R. Haight mengungkapkan ada sekitar 10 simbol mengenai Allah dalam pemahyuan kristiani. Simbol-simbol ini tidak dimaksudkan sebagai sistematisasi lengkap. Yang dikemukakan bukan deskripsi obyektif mengenai Allah, melainkan bagaimana Allah dipahami dan diungkapkan dlaam simbol-simbol pehayuan kristiani ini
[1]. Simbol-simbol tersebut adalah:
1. Allah itu transenden. Allah adalah yang kudus, mulia, agung tak terbatas. Obyek pengalaman religius ini adalah mysterium tremendum et fascinans. Pernyataan mengenai Allah yang transenden berarti pengakuan mengenai Allah sebagai completely or totally other. Allah itu mengatasi apa yang dapat diketahui oleh manusia. Allah itu tak terbatas.
2. Allah itu imanen. Allah tidak hanya dialami sebagai yang transenden, sumber, dan asal-usul, melainkan juga sebagai dasar terdalam dari kehidupan. Allah tidak hanya menciptakan dunia seperti tukang periuk. Allah tidak hanya berda jauh di luar, melainkan hadir pada semua yang ada. Segalanya berada dalam lingkup Allah, berada dalam kuasa Allah. Simbol untuk ini dalam Alkitab adalah Roh Allah yang menunjuk daya kuasa Allah yang imanen dan memberi hidup kepada semua yang ada. Allah bukanlah Allah di luar siptaan, bukan Alah yang jauh dari atas memandang ciptaan secara obyektif. Allah yang transenden adalah imanen dan yang hadir di mana-mana.
3. Allah adalah Pencipta. Simbol dan ajaran mengenai penciptaan sesuai dengan pengalaman manusiawi yang sepenuhnya tergantung pada sumber di luar dirinya, di luar dunia. Simbol pencipta menggarisbawahi transendensi Allah. Allah adalah sumber, asal-usul, penyangga kehidupan. Allah tidak hanya bertindak sesaat kemudian berhenti. Setiap saat Allah menyangga kehidupan. Setiap saat bertindak menciptakan. Manusia tergantung secara mutlak pada Allah. Manusia diciptakan dari ketiadaan. Alternatif dari hidup yang diciptakan oleh kuasa Allah adalah ketiadaan (nothing). Ciptaan Allah bukanlah Allah. Simbol penciptaan sekaligus demitologisasi dan sekularisasi dunia yang terbatas ini. Dunia terbatas ini bukanlah Allah. Berhadapan dengan dunia, secara relatif manusia adalah otonom dan dipanggil untuk ikut serta dalam proses penciptaan dalam sejarah. Kebebasan dan otonomi manusia merupakan anugerah sekaligus bergantung secara absolut pada Allah.
4. Allah itu personal. Allah dalam tradisi Yahudi-Kristen adalah Allah yang disapa. Kepadanya orang berdoa, berbicara, dan menyampaikan permohonan-permohonan maupun segala perasaan. Allah berhubungan denagn manusia secara personal. Relasi Allah dengan manusia tdak hanya terjadi secara individual melainkan juga secara komunal. Simbol relasi itu dalam Perjanjia Lama disebut perjanjian. Manusia berkenan pada Alalh, dirahmati, menjadi kesukaan Allah. Relasi manusia dengan Allah secara perorangan maupun kelompok tidaklah eksklusif. Perjanjian Allah diadakan dengan semua orang. Simbol ini perlu diimbangi dengan penerimaan akan kenyataan dosa manusia.
5. Allah penyelenggara. Sombol penyelenggaraan Allah menggarisbawahi simbol-simbol yang sudah dibicarakan. Penyelenggaraan menunjuk kekuasaan kreatif personal dari Allah. Transendensi maupun imannesi Allah tidaklah statis, melainkan dalam konteks waktu, proses dan sejarah. Allah menyelenggarakan berari bahwa Allah yang mengetahui sebelumnya, memelihara ciptaan seperti orang tua. Pemeliharaan dan pengerahan itu tidak merupakan saingan kebebasan dan otonomi manusia, melainkan segalanya berada dalam bimbingan dan pengetahuan kebijaksanaan dari kekuasaan Allah.
6. Allah adalah kasih, Dalam kitab Suci terdapat banyak sekali simbol-simbol yang menunjukkan kasih Allah. Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa, suatu simbol yang tidak mau menunjuk bahwa Alalh itu laki-laki. Yang mau diungkapkan adalah pemeliharaan penuh kasih dari ayah-ibu kepad aanak-anaknya. Santo Yohanes menyebut Allah adalah kasih. Allah adalah Allah bagi dunia, bagi manusia. Allah memanggil manusia yang bebas ke dalam relasi kasih timbal balik. Kasih Allah itu setia dan tetap. Dalam kerangka alam pikiran Yunani, Allah itu berubah. Dalam konteks historis pemahaman Yahudi-Kristen “Allah tidak berubah” berarti bahwa Allah yang berhubungan secara personal dengan manusia dalam sejarah, tetapi setia dalam kasih, juga kalau jawaban manusia berubah-ubah.
7. Allah adalah Hakim. Dengan mengutuk ketidakadilan sosial, para nabi menyatakan bahwa Allah tidak menerima situasi seperti itu. Pandangan mengenai Allah sebagai Hakim yang mengadili itu mengalir dari kodrat Allah yang mengasihi. Allah menghendaki kebaikan semua orang. Allah itu melawan penindasan manusia dan ketidakadilan terhadap umatNya. Allah bukanlah Allah yang dipuaskan dengan ibadat dan ritus oleh manusia yang menolak sesamanya. Allah menghendaki keseluruhan, keutuhan, kepenuhan hidup dari yang diciptakanNya, dan karena itu melawan segala perendahan manusiawi. Cinta otentik kepada Allah harus juga berarti cinta kepada apa yang dimiliki Allah, apa yang dicintai Allah.
8. Kerajaan Allah. Dalam peristiwa Yesus, simbol Kerajaan Allah berarti pemerintahan Allah di dunia, kuasa Allah yang adalah kuasa kasih, yang menyembuhkan, mengutuhkan dan membawa pemenuhan manusiawi. Pemerintah dan kuasa Allah mencakup semua manusia tanpa kecuali. Allah mendahulukan yang sakit, yang pecah, yang menderita, dan terutama yang paling menderita. Kerajaan Allah dengan demikian merupakan pemenuhan manusiawi, kerajaan damai dan harmoni, keadilan dan kegembiraan. Memasuki Kerajaan Allah, orang harus mengambil sikap dan kualitas Allah dan beriman berarti melaksanakan kehendak Allah.
9. Allah penyelamat. Kehidupan manusia mendapat ciri dan keterbatasan, penderitaan dan kematian. Seluruh penggambaran mengenai Allah tidak berarti seandainya Allah bukan Penyelamat. Kenyataan ini dinyatakan oleh Yesus dengan simbol Kerajaan Allah. Allah adalah Penyelamatan apabila Kerajaan Allah datang dalam kepenuhan. Allah adalah penyelamat sekarang ini dengan daya kuasa Roh Allah yang merupakan daya kuasa cinta, penyembuhan dan perawatan. Simbol Allah sebagai Penyelamat menjembatani kenyataan manusiawi yang paradoksal, yaitu di satu pihak secara mutlak dan akrab berhubungan denagn Allah, di lain pihak terasing dari Allah, bahkan sendirian.
10. Allah adalah misteri absolut. Pernyataan mengenai Allah sebgai misteri absolut berarti suatu pengakuan bahwa meskipun kita berusaha sekuat tenaga untuk menggambarkan Allah, kita tetap tidak mengetahui Allah sebagaimana adanya. Kita hanya dapat merumuskan konsep-konsep mengenai Allah berdasarkan pengalaman-pengalaman religius kita. Misteri Allah tidak hanya menyangkut pengetahuan, melainkan secara dasariah menyentuh seluruh kehidupan, misalnya dalam simbol Ayub. Ayub yang tidak bersalah mengalami penderitaan yang berkepanjangan sampai pada tepi kematian. Ayub merupakan model spiritualitas kritis. Dia tidak menerima kejahatan dan tidak dipuaskan dengan konsep mengenai Allah dan tidak menyerah kepada ortodoksi yagn membiarkan ketidakadilan.
Percakapan mengenai Kristologi menyapa setiap budaya dalam perkembangan manusia yang mejadi ruang lingkup konteks aktual Gereja. Hal ini tentu saja mempunyai rentang waktu yang cukup lama dengan peristiwa Yesus. Dalam perkembangan budaya yang semakin modern, semakin jauh dari realitas historis Yesus Kristus; selalu dibutuhkan, digali, dan dikembangkan sebuah re-interpretasi tradisi kristiani. Figur Yesus historis menjadi pusat, sekaligus tanda kehadiran dan wahyu Allah dalam komunitas kristiani. Yesus dilihat sebagai simbol Allah yang menuntut manusia untuk bersikap kritis dalam beriman.
Bagi umat beriman Kristiani, Allah yang dialami adalah Allah yang mewahyukan diri melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus, manusia sampai kepada Allah. Hidup beriman mengikuti Yesus Kristus mempunyai ciri mistis, menyentuh pengalamn personal. Hidup beriman juga mempunyai ciri politis, mengusahakan kesejahteraan hidup bersama yagn lebih manusiawi, lebih adil, dan merdeka. Orang-orang yang berjumpa dengan Yesus dipanggil untuk mengikutinya, untuk mengolah hidup batin dan lingkungan mereka sehingga setiap pribadi mempunyai kepastian jawaban mengenai “Siapa Yesus baginya”.
[1] Roger Haight. An Alternative Vision An Interpretation of Liberation Theology. New York: Paulist Press. 90-95.

Kamis, 01 Mei 2008

KOntrasepsi dalam pandangan Gereja

Kontrasepsi dalam Pandangan Gereja


Secara hakiki, orang yang melangsungkan dan menghayati hidup perkawinan membuka diri terhadap adanya kelahiran anak sebagai penerus keturunan dari keluarga tersebut. Demikian juga dalam ajaran dan tradisi Gereja, hidup perkawinan selalu terbuka pada kelahiran anak. Hubungan suami istri terbuka dan terarah pada kelahiran anak sebagai hasil hubungan kasih suami istri yang sempurna. Dalam perkembangan zaman, hubungan suami istri berkembang tidak hanya sebatas pada prokreasi, namun juga kesejahteraan suami-istri.

Nilai-nilai luhur yang dihidupi, digeluti, dan diperjuangkan oleh Gereja itu menghadapi sebuah tantangan yang serius seiring dengan berbagai nilai-nilai yang ditawarkan oleh kemajuan zaman dan teknologi, terlebih dengan berbagai penemuan tentang alat-alat kontrasepsi. Ada pemahaman keliru yang berkembang mengenai Keluarga Berencana dan kontrasepsi. Ada yang bersifat alami, ada yang besifat mencegah kehamilan, bahkan ada yang bersifat abortif.

Kontrasepsi berasal dari dua kata contra dan conception. Contra berarti melawan dan conception berarti pembuahan. Kontrasepsi adalah metode dengan alat atau obat yang digunakan untuk menghindari atau mencegah terjadinya konsepsi (pembuahan). Kontravita berasal dari kata contra dan vita. Contra berarti melawan dan vita berarti kehidupan. Ini disebut kontravita karena sebenarnya alat ini tidak mencegah terjadinya pembuahan (konsepsi), tetapi membunuh janin sesudah pembuahan. Pembuahan tetap terjadi akan tetapi karena ada alat-alat ini, janinnya mati1. Berbagai penemuan alat kontrasepsi yang semakin berkembang dan pemahaman yang keliru mengenai hal ini menimbulkan ketegangan mengenai fungsi dan nilai-nilai luhur perkawinan yang dihidupi dan ditawarkan oleh Gereja.

  1. Sejarah dan Perkembang Alat Kontrasepsi

  1. Kontrasepsi pada Zaman Kuno

Kontrasepsi sudah ada sejak tahun 1900 SM. Bentuknya mengalami perkembangan. Di zaman Mesir Kuno, alat yang digunakan adalah menaburkan madu dan sodum carbonat di vulva untuk membunuh sel sperma dan menaburkan kotoran buaya di dalam cervix (mulut rahim)2. Dalam dunia Yahudi kuno, tercatat coitus interuptus (mengeluarkan sperma diluar tubuh wanita setelah senggama). Cara ini dapat dilihat dalam kitab Kejadian 38,8-10 yang menceritakan tentang Onan yang menikahi istri almarhum kakaknya. Onan melakukan coitus interuptus supaya istrinya itu tidak hamil. Dari kitab Talmud Babilonia, para rabbi mencatat bahwa kontrasepsi yang dilakukan pada masa itu adalah dengan memperpanjang masa menyusui bayi, racun steril, ramuan berbagai akar rumput dan madu serta wool, mencampurkan air dengan misy3 dalam sejumlah biji kacang vicia. menaburkan madu dan sodium carbonat di vulva untuk membunuh sel sperma, menaburkan kotoran buaya di dalam cervix, sampai kondom dengan bahan dari kulit binatang.

Ada berbagai alasan sehingga mereka melakukan kontrasepsi. Seorang budak yang akan mendapatkan kemerdekaan atau kebebasan dari status budaknya menunda untuk mempunyai anak agar anak yang dilahirkannya nanti sudah mempunyai status sebagai orang yang merdeka, bukan sebagai keturunan budak lagi. Orang-orang proselit4 menunda mempunyai anak agar anak-anak yang dilahirkannya nanti mempunyai status dan diterima penuh sebagai orang-orang Israel. Mereka melakukan kontrasepsi demi status anak yang akan dilahirkannya nanti.

Sudah sejak lama, dikenal adanya pembedaan yang jelas antara obat-obat atau ramuan yang bersifat kontraseptif dengan yang bersifat abortif. Metode kontrasepsi yang berkembang pada masa itu adalah dengan mengatur pernafasan, dengan mengolesi vulva dengan cairan-cairan tertentu, membasuh vagina sesudah senggama. Metode yang paling terkenal adalah dengan racun kontrasepsi, yaitu dengan mencampurkan misy dalam sejumlah kacang vicia dan diminum. Ramuan itu akan menghambat kehamilan selama kurang lebih setahun.






  1. Kontrasepsi pada Zaman Modern

Penemuan alat-alat kontrasepsi pada zaman modern didukung dengan perkembangan ilmu anatomi tubuh manusia5. Beberapa penemuan tentang alat-alat kontrasepsi adalah sebagai berikut6:

  • Tahun 1563, ditemukan bahwa dalam buku de Morbo Gallico, Gabriel Follopio sudah membahas tentang kondom.

  • Tahun 1672, De Graff menyelidiki tentang ovarium untuk pertama kalinya.

  • Tahun 1677, Anton van Leeuwenhoek menemukan sel sperma. Ia menamai temuannya ini dengan istilah “spermatozoa” yang berarti “benih binatang”.

  • Tahun 1827, Jark Erns von Baer menemukan adanya ovum.

  • Tahun 1844, kondom dipakai secara meluas setelah adanya pengolahan karet.

  • Tahun 1875, Oscar Hertwigmenemukan bahwa pembuahan itu terjadi ketika ada pertemuan antara selu telur dan sel sperma.

  • Tahun 1880, Wilhelm Mensinga menemukan Diapragma.

  • Tahun 1920, Prof K. Ogino dari Jepang dan H. Knaus dari Austria menemukan adanya masa subur dan masa tidak subur dalam diri wanita.

  • Tahun 1928, Ernest Grafenberg, seorang dokter dari Berlin menemukan tentang adanya sterlisisasi dan alatnya.

  • Tahun 1959, Gregory Pincus dari Amerika mengemukakan ke masyarakat umum tentang pil kontrasepsi yang sudah dapat dipakai kepada manusia.

  1. Jenis Kontrasepsi

Seiring perkembangan zaman, alat dan metode kontrasepsi mengalami perkembangan yang pesar. Dalam sejarah kuno, sudah berkembang pembedaan antara obat-obat (ramuan) yang bersifat kontraseptif dan yang bersifat abortif. Dalam sumpah Hypocrates, diungkapkan ada larangan bagi para dokter untuk memberikan obat yang bisa menggugurkan kandungan (abortif), tetapi mengijinkan untuk memberikan obat-obat kontraseptif. Dalam perkembangannya, kontrasepsi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu Barrier, hormonal, intra uterine, dan operasi.

  1. Kontrasepsi barrier atau penghalang. Jenis kontrasepsi ini digunakan untuk mencegah agar sel sperma tidak bertemu dengan sel telur sehingga tidak ada pembuahan. Jenis barrier ini adalah:

  1. Kondom7. Ada kondom untuk laki-laki dan ada kondom untuk perempuan. Ini adalah alat kontrasepsi yang berbentuk sarung karet tipis. Kondom ini menampung sperma pada waktu ejakuasi sehingga sperma tidak masuk ke rahim atau saluran telur. Ini terbuat dari bahan Latex yang bersifat elastis dan sangat kuat. Ini mempunyai panjang 180-185 mm, lebar 49-52 mm, dan ketebalan 0.05 mm. Kemungkinan kegagalan sekitar 3-5%. Efek sampingnya adalah alergi terhadap karet kondom atau zat pelicin dan tertinggalnya kondom di liang senggama.

  2. Diapragma8. Diapragma berbentuk seperti kubah yang terbuat dari latex yang pinggirnya fleksibel. Biasanya dipakai dengan spermicide (pembunuh sperma). Alat ini menutup vagina bagian dalam dan menutup seluruh cervix sehingga sperma tidak bisa masuk ke dalam rahim.

  3. Cervical cap9. Cervical cap berbentuk seperti topi yang dibuat dari latex dengan panjang sekitar 1-1,5 inc. Alat ini lebih kecil dari pada diapragma dan persis menutup hanya cervix saja. Alat ini menutup cervis sehingga sperma tidak bisa masuk ke dalam rahim atau saluran telur sehingga tidak ada pembuahan.


  1. Kontrasepsi hormonal. Jenis kontrasepsi ini mengubah komposisi keseimbangan hormon dalam tubuh perempuan sehingga proses mekanisme tubuh akan berubah dan tidak sesuai dengan alam. Jenis kontrasepsi hormonal adalah:

  1. Spermacide atau Tissue KB10. Ini adalah alat kontrasepsi yang digunakan dalam vagina sebelum bersenggama yang berbentuk kertas tipis dan mengandung spermatisida. Setiap lembar tissue mengandung Alkyl Phenoxy polyethoxy ethanol 50 mg. Efek samping yang dialami adalah gatal-gatal, perubahan masa menstruasi 0,85 %, meningkatnya pengeluaran cairan vagina, dan irritasi dinding vagina.

  2. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)11. Ini adalah implant yang terdiri dari 6 kapsul (Norplant) dan berisi Preparat hormonal yang dapat digunakan selamat jangka waktu 5 tahun. Ini juga dikenal dengan istilah susuk KB. Substansi aktifnya adalah Progestrin Levonorgestrel.

Norplant ini terdiri dari 6 kapsul yang terbuat dari elastometer, polydimethylsoloxane, dimana setiap kapsul mengandung sekitat 36 levonorgestrel dengan panjang masing-masing 34 mm, lebar 2, 4 mm dan tertutup dari kedua ujungnya. Dengan disisipkan 6 kapsul silastik implant di bawah kulit, setiap hari dilepaskan sejumlah zat aktif dalam darah melalui diffusi dari kapsul-kapsul silastik tersebut secara tetap dan terus-menerus. Melalui 3 mekanisme dasar, AKBK mencegah kehamilan karena alasan dihambat terjadinya ovulasi, menebalnya lendir cervik, dan menjadi tidak siapnya endometrium dalam menerima nidasi. Kemungkinan kegagalan 2-3%. Kemungkinan dapat hamil setelah paska pemakaian adalah 50 % setelah 3 bulan, 86% setelah 1 tahun, dan 93% setelah 2 tahun.

Efek samping dan kontra indikasi yang dialami adalah: Amenore (tidak haid); Spotting (pendarahan kecil di luar haid); Metrolagi, menoragi atau pendarahan yang lebih banyak di luar haid; Rasa sakit, gatal, bengkak, pegal linu dan ekspulsi kapsul pada bekar luka sayatan; Pusing/sakit kepala dan berdebar-debar; Perubahan berat badan dan jerawat; Hamil atau diduga hamil; Pendarahan melalui vagina yang tidak diketahui sebabnya; Tumor atau keganasan; Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis.

  1. Suntik KB12. Ini adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang diberikan melalui suntikan. Ini berisikan suspensi hormon progesteron dalam air dan dalam minyak. Ini mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita, mengentalkan lendir mulut rahim sehingga sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim, menipiskan endometrium sehingga tidak siap untuk kehamilan.

Jenisnya adalah: Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston. Setiap vial (3 ml) mengandung 150 mg Depp Medroxy Progesteron Acetat. Bentuk suspensi steril dengan pelarut air. Ini diberikan dengan interval 12 minggu dengan kelonggaran waktu 1-2 minggu; Noresterat. Setiap ampul ( 1ml) mengandung Norethindrone Enantat. Bentuk suspensi steril dengan pelarut minyak. Ini diberikan dengan interval 8 minggu dengan kelonggaran waktu 1 minggu; Epo Progestin. Setiap vial mengandung Medroxy Progesteron Acetat

    1. Pill KB13. Ini adalah alat kontrasepsi yang berbentuk tablet yang mengandung hormon estrogen dan progesteron atau mengandung progesteron saja ( Mini Pil). Mifepristone Pil ini disebut juga RU 486 atau ‘pil Prancis’. Dibanding pil-pil lain, paling ringan efek sampingnya (mual/muntah). Kurang lebih dosis : 600 miligram diminum selambat-lambatnya 3 hari sesudah berhubungan seks. Minum 1 kali saja.

Alat kontrasepsi ini menghalangi terjadinya pembuahan dalam berbagai cara14, yaitu:

  • Hormon estrogen akan mempengaruhi hypotalamus agar menghentikan hormon LH dan FSH yang diperlukan untuk ovulasi sehingga dengan adanya estrogen ini, tidak akan terjadi ovulasi.

  • Hormon progestin akan mempengaruhi mulut rahim untuk tetap menajdi masam dan tidak memproduksi lendir kesuburan sehingga sperma akan cepat mati. Progestin juga akan menghentikan produksi hormon-hormon yang mengatur ovulasi sehingga dinding rahim tidak bisa ditempeli janin.

  • Progestin juga mengganggu hypotalamus, pittuary gland, dan indung telur agar tidak terjadi ovulasi.

Jenisnya adalah: mifepristone (RU-486), Onapristone, Lilopristone, espostane, morning afer pill. Microgynon 30 ED terdiri dari 28 pil. Setiap pilnya mengandung L Norgestrel 0,15 mg dan Etinil Estradiol 0,03 mg; Marvelon. Ini terdiri dari 28 pil. Setiap pil mengandung Desogrestel 0,15 mg dan Etinil Estradiol 0,03 mg; Nordette. Ini terdiri dari 28 pil. Setiap pil mengandung L Norgestrel 0,15 mg Etinil Estradiol 0,03 mg; Excluton- 28. Ini terdiri dari 28 pil. Setiap pil mengandung Linestrenol 0,5 mg; Trinordiol-28. Ini terdiri dari 6 tablet coklat yang mengandung L Norgestrel 0,5 mg dan Etinil Estradiol 0,03 mg, lima tablet putih yang mengandung L Norgestrel 0,075 mg dan Etinil Estradiol 0,04 mg, serta 10 tablet kuning yang mengandung l Norgestrel 0,15 mg dan Etinil Estradiol 0,03 mg.

Efek samping dan kontra indikasi yang muncul adalah : Kolasma, Sakit kepala, mual; Perubahan berat badan, melunaknya buah dada; Perubahan aliran haid dan libido; Sedikit pendarahan intermenstrual dan kejiwaan; Thrombophlebitis, thromboembolik; Penyakit arteri jantung, tekanan darah tinggi, dan kencing manis; Sakit kuning/gangguan hati; Kanker payudara/alat kelamin; Neoplasia yang terpengaruh estrogen dan pendarahan kelamin yang tidak dapat didiagnosa.

Semua alat kontrasepsi itu mengandung Anti Progesteron dan Prostaglandines. Yang termasuk Antiprogesteron adalah produk mifepristone (RU-486), Onapristone, Lilopristone, espostane, morning afer pill. RU-486 ini pertama kali diproduksi oleh Roussel-Uclaf, sebuah anak perusahaan Hoeshst AG dari Jerman. Ini dipasarkan secara besar-besaran di Perancis. Obat-obat ini bekerja dengan menghalangi kerja hormon progesteron yang sangat diperlukan untuk mempertahankan kehamilan. Progesteron yang berfungsi menyangga dinding rahim dan memberi makan kepada janin, mengehentikan otot-otot janin supaya tidak berkontraksi, dan mencegah agar cervix tidak melebar, dihalangi kerjanya. Cervix menjadi lemah dan membuka, dinding rahim akan terkelupas dengan adanya kontraksi dan terjadilah pendarahan. Janin dan placenta akan menjadi layu dan mati. Prostaglandine adalah hormon yang menyebabkan rahim berkontraksi dan dengan demikian janin dan placenta (ari-ari) akan terbuang keluar. Biasanya janin dan placenta itu akan keluar dari rahim sesudah 24 jam menggunankan prostaglandine. Prstoaglandine biasanya digunakan bersamaan dengan RU 486.


  1. IUD (Intrauterine Debices) atau alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)15. Ini adalah alat yang pemakaiannya dimasukkan ke dalam rahim. Ini terbuat dari plastik (Polyethilene). Bentuknya bermacam-macam. Ada yang dililiti kawat perak, ada juga yang batangnya berisi hormon progesteron. IUD bekerja dengan meninggikan getaran saluran telur sehingga pada waktu blastokista sampai ke rahim, endometrium belum siap untuk menerima nidasi. Lilitan logam menyebabkan reaksi “peradangan” dimana terjadi reaksi jaringan sehingga terjadi serbukan sel darah putih (lekosit) dan sel makrofah yang dapat melarutkan blastokista. Kemungkinan kegagalan 1 %. Dan kesuburan setelah pengangkatan IUD berkisar antara 80-90% setelah 1 tahun pengangkatan.

Jenisnya adalah: Cooper dan Nova T berbentuk huruf T yang batangnya dililit tembaga (Cu). Ini dapat dipakai selamat 6 tahun. Medusa Pessar MPL CU 240 Ag berbentuk batang tegak lurus yang dibalut kawat tembaga perak dengan 4 cabang berkelok yang bulat pada masing-masing ujungnya. Ada juga jenis Tcu-380A, Mlcu375, LNG20, dan sebagainya. Jenis kontrasepsi ini dapat dipakai selama 5 tahun.

Efek samping dan kontra indikasi yang dialami adalah: Pendarahan sedikit yang berulang atau pendarahan terus-menerus selama haid hari pertama sampai hari ketujuh pada 2-3 bulan pertama; Pendarahan haid yang lebih banyak dan lebih lama; Kejang perut, terutama sehari atau setelah pemasangan atau selama haid; Kelainan pembawaan atau yang diperoleh di uterus; Peradangan di alat kelamin; Uterus myomatosus; Kecurigaan ada tumor ganas di alat kelamin; Kepekaan terhadap tembaga.


  1. Jenis Operasi atau Sterilisasi16. Ini adalah operasi pada tubuh perempuan atau laki-laki agar ‘steril’ atau tak mampu lagi ‘membuat’ anak. Kemungkinan terjadi kehamilan sesudah steriliasi hampir nol.

    1. Vasektomi: sterilisasi untuk laki-laki. Vasektomi adalah operasi sederhana untuk memotong saluran pembawa sperma dari kantongnya (zakar) ke penis. Operasi ini cukup gampang dilakukan sehingga pekerja kesehatan terlatih di mana saja bisa melakukannya (tak harus dokter bedah). Operasi ini hanya memakan waktu beberapa menit saja. Vasektomi tidak menyebabkan lelaki impotent. Juga tidak mengurangi kenikmatan seksual sewaktu berhubungan seks. Sesudah operasi itu, ia masih akan berejakulasi atau mengeluarkan air mani. Hanya saja, kini air maninya tidak lagi mengandung sperma. Sesudah operasi, sperma masih ada dalam air mani. Sperma dalam air mani akan habis setelah ia ejakulasi 20 kali.

    2. Sterilisasi untuk perempuan. Operasi ini lebih sulit daripada vasektomi. Ini dilakukan dengan membuat dua irisan kecil saja di bagian bawah perut perempuan, lalu saluran telurnya diikat atau dipotong supaya sel telur tak bisa menuju ke rahim. Sama seperti vasektomi, operasi inipun tidak akan mempengaruhi kemampuan seksual perempuan, dan tidak mengurangi kenikmatan seksual.


  1. Perkembangan Pandangan Gereja Katolik tentang Kontrasepsi

Masyarakat seringkali menggunakan istilah birth control atau kontrol kelahiran. Dengan istilah ini, yang dikontrol adalah kelahiran bukan kehamilannya. Gereja tidak menentang pengaturan kelahiran atau politik kependudukan. Gereja malah menganjurkan dengan program Keluarga Berencana (KB), keluarga bertanggungjawab untuk mengatur kelahiran dan mempunyai anak secara bertanggungjawab sesuai dengan kemampuannya. Yang ditentang Gereja adalah cara melakukan pengaturan kelahiran dan cara melaksanaan politik kependudukan yang menggunakan cara kontraseptif apalagi abortif.


  1. Sikap Gereja Awal

Sikap gereja terhadap kontrasepsi sudah berkembang sejak St. Hironimus (340-420), St. Agustinus (354-430), St. Albertus Magnus (1206-1280), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St. Carolus Borromeus (1538-1584), St. Alphonsus Liguori (1696-1787). Dalam sejarah kekristenan, tidak seorangpun teolog Katolik yang pernah mengajarkan bahwa kontrasepsi itu bisa diterima secara moral. Gereja menolak kontrasepsi dengan berbagai alasan yang disesuaikan dengan keadaan dan situasi yang ada pada zaman yang bersangkutan.

Pada abad-abad pertama Kristianitas, Gereja sangat menekankan aspek prokreatif dalam hubungan seksual. Gereja berpihak pada kehidupan baru, terutama dalam fetus dan bayi. Penolakan terhadap kontrasepsi adalah bagian dari komitmen Gereja untuk tidak mencampuri proses pemberiaa hidup yang merupakan hak prerogatif Tuhan. Gereja bahkan melarang pasangan suami istri untuk bersenggama ketika wanita menstruasi atau mengandung karena benih yang tertumpah itu hanya akan sia-sia belaka17.

Beberapa pandangan bapa-bapa Gereja mengenai kontrasepsi.

  1. St Clement dari Alexandria (191). Karena didirikan secara ilahi untuk pertumbuhan manusia, bibit (ie: sperma) tidak boleh dikeluarkan dengan sia-sia atau dirusak atau dibuang.

  2. St. Lactantius, Divine Institutes 6:20 (307) mengeluhkan akan kurangnya kebutuhan mereka dan beralasan bahwa mereka tidak punya cukup untuk membesarkan lebih banyak anak, [berpikiran bahwa] kebutuhan mereka [didapat berdasarkan kekuatan mereka] … ataukah Allah tidak setiap hari membuat yang kaya menjadi miskin dan yang miskin menjadi kaya. Karena itu, jika ada seorangpun yang karena kemiskinan tidak mampu membesarkan anak, adalah lebih baik untuk tidak berhubungan [intim] dengan istrinya.

  3. Konsili Nicea (325) mengungkapkan bahwa kebiri menjadi halangan tahbisan. Pengebirian dianggap sebagai cara ekstrim dari kontrasepsi. Ajaran ini mengutuk salah satu aliran gnostik yang dikembangkan oleh Ephiphanius yang mengajajarkan bahwa hubungan seksual yang non prokreatif merupakan pusat dari peribadatan mereka. Dalam ibadah tersebut, mereka mempersembahkan sperma dan darah menstruasi kepada Tuhan dan memakannya. Seorang perempuan dianggap tetap perawan meskipun berulangkali mengadakan hubungan seksual jika sperma tidak sampai masuk ke dalam rahimnya.

  4. St. Agustinus dari Hippo (354-430). Aku anggap, kalau begitu, meskipun kamu tidak berbaring [dengan istri kamu] demi menghasilkan keturunan, kamu tidak, demi birahi, menghalang-halangi penghasilan keturunan dengan doa jahat atau perbuatan jahat. Mereka yang melakukan ini, meskipun mereka disebut suami dan istri, sebenarnya bukan; dan mereka juga tidak memiliki realitas sebuah perkawinan … Kadang-kadang kekejian birahi ini sampai pada tahap sampai mereka menggunakan racun sterilisasi [kontrasepsi oral, ie: obat kontrasepsi] (Marriage and Concupiscence 1:15:17 [419 Masehi]). Agustinus mengungkapkan tentang 3 tujuan perkawinan, yaitu keturunan, kesetiaan, dan sakramen.

  5. St. Caesarius (470-543). Ia mengungkapkan secara tegas bahwa barang siapa memakai racun sterilitas, ia berdosa besar sebab ini sama dengan pembunuhan dan barang siapa tidak mau mempunyai anak, hendaklah ia membicarakannya kepada suaminya dan mengucapkan kaul kemurnian, sebab sterilitas yang diperkenankan oleh Gereja hanyalah kemurnian sebagai wanita kristen.

  6. St. Martinus dari Braga (+579). Ia memasukkan dosa pemakaian kontrasepsi dengan hukuman yang sangat berat, yakni harus menjalankan penitensi selama 10 tahun. Ajaran ini kemudian dimasukkan dalam kumpulan peraturan-peraturan yang disebut canon Ancyra.

  7. St. Thomas Aquinas (1225-1274). Ia menolak kontrasepsi karena kontrasepsi adalah perbuatan melawan hukum kodrat. Menurut hukum kodrat, hubungan seksual adalah hubungan yang ditetapkan Tuhan untuk memperoleh keturunan18. Dia membedakan hubungan seksual dengan alat sehingga tidak ada pembuahan dan hubungan seksual yang dilakukan dalam situasi yang tidak mungkin ada pembuahan. Thomas mengungkapkan bahwa hubungan seksual antara orang yang sudah manupause, orang yang steril, dan yang sedang mengandung, bukanlah dosa melawan kodrat meskipun dengan hubungan itu, mereka tidak mungkin mendapatkan keturuntan.


  1. Gereja Modern

  1. Pius XI: Ensiklik Casti Connubii (31 Desember 1930). Gereja Katolik, berdiri tegak ditengah-tengah kehancuran moral yang mengelilinginya supaya dapat menjaga kemurnian dari kesatuan perkawinan yang sedang dilecehkan oleh noda jijik tersebut [ie. mentalitas kontraseptif], mengumandangkan suara melalui mulut kami memproklamirkan: penggunaan apapun dari perkawinan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tindakan perkawinan tersebut secara sengaja menghilangkan kemampuannya untuk menghasilkan kehidupan adalah pelanggaran melawan hukum Allah dan kodrat, dan mereka yang melakukan hal ini terkena dosa besar. Jika ada bapa pengakuan atau Pastor yang menuntun umat yang dipercayakan kepadanya menuju ke kesalahan ini atau membenarkan kesalahan tersebut dengan menyetujuinya atau mendiamkan, biarlah si bapa pengakuan dan si pastor ingat bahwa dia bertanggungjawab kepada Allah, sang Hakim Agung, atas pengkhianatan kepercayaanNya. Dan biarlah mereka mengingat perkataan Kristus “Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta pasti keduanya jatuh kedalam lubang.”

  2. Konsili Vatikan II (1965). Dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes diungkapkan bahwa Keluarga adalah komunitas cinta kasih (GS 47) yang tercipta dari perkawinan. Tujuan dari perkawinan dan cinta kasih suami istri adalah untuk keturunan dan pendidikna anak yang menjadi bagaikan mahkota perkawinan (GS 48). Tugas menyalurkan hidup manusiawi in adalah tugas khas dari suami istri dan dengan demikian suami istri itu menajdi mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan menjadi penterjemah kehendak Allah Pencipta (GS 50).

  3. Paus Paulus VI: Ensiklik Humanae Vitae (25 Juli 1968). Dalam ensiklik ini diungkapkan bahwa setiap persetubuhan harus tetap terbuka kepada adanya kehidupan baru. Allah menghendaki bahwa makna hubungan seksual adalah unitif dan prokreatif. Kedua sifat hubungan seksual itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena hubungan seksual adalah bahasa tubuh untuk mengungkapkan cinta kasih suami istri (HV 11-12). Hal ini bertentangan dengan kontrasepsi karena bersifat dengan sengaja memisahkan makna hubungan seksual yang unit dan kreatif ini (HV 40).

  4. Yohanes Paulus II: Ensiklik Familiaris Consortio (22 November 1981). Dalam ensiklik ini, diungkapkan bahwa martabat seksualitas manusia adalah sangat luhur dan tidak dapat dipisahkan dari kodratnya sebagai bagian integral dari pribadi manusia. Hubungan seksual bersifat unitif dan prokreatif. Karena itu, jika hubungan seksual yang tidak terbuka pada kelahiran anak harus dipandang sebagai tidak bermoral. Jika pasangan suami istri menggunakan alat-alat kontrasepsi, itu berarti suami istri itu melakukan pemisahan dua makna seksualitas manusia yang sudah ditanamkan oleh Sang Pencipta dalam diri manusia sebagai pria dan wanita dan mereka bertindak sebagai wasit ilahi serta memanipulasi dan merendahkan seksualitas manusia dengan menyimpangkan makna pemberian diri timbal balik secara total dalam perkawinan. Hal ini berbeda jika mereka menggunakan masa-masa subur dalam diri wanita (metode natural). Mereka tidak memisahkan dua sifat hubungan seksual manusia yang unitif dan prokreatif itu. Mereka mempergunakan apa yang telah ada dalam diri wantia yakni siklus masa subur dan tidak sebur serta tidak memanipulasi kodrat wanita19. Pemilihan ini mencakup penerimaan siklus hidup pasangannya dan dengan demikian menerima dialog, penghormatan timbal balik dan berbagi tanggungjawab dalam pengendalian diri.

  5. Paus Yohanes Paulus II: Katekismus Gereja Katolik (11 Oktober 1992). Dalam artikel 2366-2370 diungkapkan berbagai persoalan tentang keluarga. Gereja mengajarkan bahwa setiap persetubuhan harus tetap terbuka pada kelahiran kehidupan manusia. Suami istri dipanggil untuk memberi kehidupan, mengambil bagian dalam kekuatan pencipta dan ke-Bapa-an Alalh. Mereka terpanggil sebagai mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan penerjemah-Nya. Satu aspek dari tanggungjawab ini menyangkut pengaturan kehamilan. Karena alasan-alasan yang sah, suami istri dapat mengusahakan jarak antara kelahiran anak-anaknya. Pertimbangan moralitasnya adalah keputusan itu berdasarkan norma-norma yang obyektif dan dijabarkan dari hakekat pribadi serta tindakan-tindakannya; dan norma-norma itu menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri dan pada keturunan manusia, dalam konteks cinta kasih sejati. Metode pantang berkala dterapkan berdasarkan pengamatan diri dan pilihan periode tidak subur pada wanita itu sesuai dengan kriteria obyektif moral. Metode itu menghormati tubuh suami istri, membesarkan hati mereka untuk bermesraan dan mendukung pendirikan ke arah kebebasan yang sejati. Sebaliknya, setiap tindakan harus ditolak jika yang dilakukan baik sebelum senggama ataupun dalam pelaksanaannya atau sesudahnya pada konsekuensi-konsekuensi alamiahnya, bermaksud mencegah terjadinya pembiakan, entah sebagai tujuan ataupun sarana.

  6. Paus Yohanes Paulus II: Ensiklik Evangelium Vitae (25 Maret 1995). Gereja mengajarkan bahwa kontrasepsi berlawanan dengan kebenaran sejati dari persetubuhan sebagai pengungkapan cintakasih suami istri. Kontrasepsi berlawanan dengan keutamaan kemurnian perkawinan (EV 13).



  1. Sikap dan Ajaran Gereja Mengenai Kontrasepsi

Gereja Katolik menolak atau melarang kontrasepsi. Kontrasepsi dilarang karena kontrasepsi, baik alat maupun metodenya, dibuat dengan mentalitas untuk menghilangkan peranan Allah dalam penciptaan manusia. Manusia tidak diciptakan semata-mata oleh hubungan suami istri, melainkan tercipta karena Allah. Tanpa campur tangan Allah, tidaklah mungkin sebuah kehidupan baru tercipta meskipun manusia berulangkali melakukan hubungan suami istri. Dalam tatanan ilahinya, Allah mengatur supaya proses penciptaanNya dikerjakan melalui peran manusia ciptaanNya dalam suatu “perkawinan” (yang telah Dia agungkan dengan menjadikan perkawinan sebuah sakramen). Dengan kontrasepsi, manusia secara sengaja memilih untuk menggunakan alat atau metode kontraseptif yang mencegah terjadinya penciptaan. Ini berarti menolak ajakan Allah untuk turut serta dalam karya penciptaanNya dan menolak tatanan Ilahi yang dibuat Allah. Suatu perbuatan yang sungguh jahat.

Sesuai kehendak Allah, perkawinan mempunyai tiga tujuan yang saling berkaitan,yaitu kesejahteraan suami istri, prokreasi, dan pendidikan anak. Dalam KHK Kanon 1055 par.1 diungkapkan “Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen”. Rumusan dalam KHK 1983 ini berbeda dengan yang terdapat dalam KHK 1917 kan 1013 par. 1 yang berbunyi, “Tujuan primer perkawinan adalah prokreasi dan pendidikan anak, sekunder adalah saling membantu dan penyaluran nafsu”. Dalam KHK 1917, memang disebutkan adanya subordinasi tujuan perkawinan. Dengan hilangnya subordinasi tujuan perkawinan ini, membawa dampak dalam teologi moral, khususnya dengan problem pembatasan kelahiran. Dengan rumusan kondeks lama, kiranya sangat sulitlah membenarkan praktik pembatasan jumlah anak, karena prokreasi menjadi tujuan utama perkawinan. Sedangkan dalam rumusan kodeks baru, denagn menekankan tujuan perkawinan pada kesejahteraan suami istri, memberi kemungkinan pembatasan anak sejauh cintakasih suami istri memang menuntut hal itu. Walaupun begitu, perkawinan harus tetap terbuka pada kelahiran anak20.

Aspek prokreasi dan penyatuan pada kodratnya memang diciptakan Allah untuk saling berkaitan dan tak terpisahkan. Kedekatan, keintiman dan kenikmatan yang merupakan anugerah Allah bagi suami-istri dalam melakukan hubungan intim menciptakan suatu kondisi yang ideal bagi penerusan keturunan dan pemeliharaan keturunan. Dalam pernikahan, cinta mereka menjadi semakin nyata dan intim dalam hubungan seksual yang menyatukan mereka menjadi satu daging (Kej 2:24). Dari situ lahirlah buah cinta mereka yang memang merupakan “buah” dari “cinta” mereka. Sang buah cinta kemudian akan dibesarkan dalam suasana cinta suami-istri, suatu suasana yang sempurna untuk perkembangan dan jiwa sang anak dimana nanti bila dia dewasa dia juga akan meneruskan daur cinta ini ketika dia menemui pasangannya sendiri.

Bersamaan dengan pelarangan keras atas mentalitas kontrasepsi, Gereja juga sadar akan saat-saat dimana kehamilan sebaiknya ditunda karena kondisi yang tidak memungkinkan (ie: perang, wabah penyakit, wabah kelaparan, suami/istri sakit parah etc). Paus Paulus VI mengatakan:


Dalam hubungan dengan kondisi fisik, ekonomi, psikologi dan sosial, peran ke-orang-tua-an yang bertanggungjawab dilaksanakan, baik oleh keputusan sengaja dan dermawan untuk membesarkan keluarga yang besar, atau oleh keputusan, yang dibuat atas motif yang serius dan dengan menghormati hukum moral, untuk menunda sementara waktu, atau untuk satu waktu yang tak ditetapkan, sebuah kelahiran baru.” (Humanae Vitae, Par.10)


Bila memang ada “alasan yang serius” maka metode yang dianjurkan Gereja karena tidak melawan hukum moral adalah KB Alami (KBA). Pada saat ini banyak sekali kebingungan diantara umat Katolik, terutama pasangan suami-istri atau calon pasangan suami-istri, akan perbedaan antara KBA dan kontrasepsi. Seringkali mereka, atas berbagai alasan, memandang bahwa KBA sama saja dengan kontrasepsi sehingga mereka merasa tidak berdosa karena menggunakan pil-pil KB, KB suntik, kondom, melakukan vasektomi, melakukan sterilisasi atau praktek kontrasepsi lainnya.

Untuk mengerti perbedaan antara KBA dan kontrasepsi perlu diketahui satu prinsip dalam teologi moral Katolik. Menurut teologi moral, suatu tindakan menjadi tidak bertentangan dengan moral bila tindakan itu didasari “niat” yang bermoral dan dilakukan dengan “cara” yang bermoral. Kontrasepsi pada dasarnya diciptakan dengan maksud untuk menghalangi terciptanya kehidupan baru. Karena itu pemakaian kontrasepsi sendiri adalah suatu “cara” yang jahat. Jadi, sekalipun suami-istri mempunyai “niat” yang baik untuk menunda kehamilan yang didasarkan atas “motif yang serius” (sesuai amanah Paus Paulus VI), namun bila mereka menggunakan “cara” yang jahat (ie. kontrasepsi) maka tindakan mereka berlawanan dengan moral. Metode KBA tidak dibuat dengan niatan untuk menghalangi terciptanya kehidupan baru. Metode KBA dijalankan sesuai dengan kodrat manusia yang dirancang Alah sendiri. Allah memang tidak memberikan perintah absolut bagi manusia untuk selalu berketurunan dalam kondisi apapun.

Metode KBA bekerja dengan menghormati rancangan ilahi Allah yang memberikan masa tidak subur bagi wanita. Sesuai kodratnya wanita mengalami masa tidak subur dan menopause. Ini adalah rancangan Allah untuk kodrat manusia yang menunjukkan bahwa manusia memang tidak dirancang untuk selalu berketurunan21. Allah sendiri ketika memerintahkan manusia untuk “beranak cucu dan bertambah banyak” melanjutkan dengan menambahkan “penuhilah Bumi” (Kejadian 1:28). Ini seakan-akan mengatakan bahwa setelah Bumi penuh maka tidaklah dosa untuk berhenti berketurunan meskipun masih tidak boleh memiliki mentalitas kontrasepsi22.

Metode-metode alamiah mencakup tindakan perkawinan, yang di satu pihak tidak menghasilkan kehidupan baru/kelahiran baru, dan di lain pihak secara intrinsik masih terarah kepada kehidupan. Sikap hormat dalam pelayanan kepada pengadaan keturunan yang bertanggunjawab dan kehidupan inilah yang menghalalkan penggunaan metode-metode alamiah pengaturan kelahiran23.

Gereja menghargai kodrat manusia. Atas alasan-alasan yang serius, orang boleh saja memanfaatkan pengetahuannya tentang kesuburan wanita dan mencegah penggunaan hubungan suami istri di masa-masa subur untuk mencegah terjadinya kehamilan24. Penghormatan KBA terhadap kodrat manusia yang dirancang Allah bisa dibandingkan dengan kewajiban mendasar manusia untuk memelihara nyawa. Meskipun manusia wajib memelihara nyawanya dan tidak menghilangkannya dengan sia-sia lewat bunuh diri atau euthanasia, manusia juga tidak diwajibkan Allah untuk memelihara nyawa dengan cara apapun. Karena itu upaya untuk menghindari kematian yang wajar dengan metode medis yang tidak manusiawi dan membebani merupakan sesuatu yang harus dihindarkan. Begitu juga dengan penerusan keturunan, ada saat-saat dimana kehamilan bisa ditunda atas “motif yang serius.” Dan memang menurut rancangan Allah sendiri, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia memang tidak selalu mampu berketurunan (masa tidak subur dan menopause). Penundaan kehamilan atas “motif yang serius” memungkinkan manusia untuk bekerja dalam tatanan kodrat manusia tersebut dengan memanfaatkan masa tidak subur wanita.

Bagaimanapun patut ditekankan bahwa KBA bisa digunakan dengan mentalitas kontraseptif. Bila ini dilakukan maka penggunaan KBA sekalipun merupakan dosa besar. Satu pasangan suami-istri yang hidup sejahtera dan mampu untuk memelihara 3-4 anak tapi memilih untuk menggunakan KBA dan memilih untuk hanya mempunyai 2 anak dengan alasan agar bisa hidup berkecukupan, telah melakukan dosa besar. JIka dilakukan dengan benar, KBA tidak melanggar rancangan Allah sehingga kasih karuniaNya bagi cinta sejati suami-istri beserta anak-anak mereka yang merupakan berkah dari Allah akan semakin menguduskan keluarga suci tersebut.


  1. Pandangan Gereja Katolik Indonesia.

Gereja Indonesia mencoba menjawab kebingungan umat berkaitan dengan program KB dan ajaran iman Katolik. Pada tahun 1968, Majelis Wali Gereja Indonesia mengemukakan suatu pandangan Pastoral tentang Keluarga Berencana. Gereja Mengungkapkan bahwa tanggung jawab sepenuhnya diserahkan kepada suami istri, untuk mengatur kelahiran dan jarak waktu kelahiran anak. Mengingat kesehatan, tata ekonomi rumah tangga, mengingat unsur sosial dan soal rasa hati dan jiwa yang amat peka, Ensiklik menyatakan, n 10): orangtua dapat mengambil keputusan yang telah masak dipertimbangkan secara tulus ikhlas, mau memelihara keluarga besar atai juga karena alasan-alasan yang berat, tetapi dengan tetap penuh hormat mentaati hukum moral, mau menghindarkan kelahiran baru untuk sementara waktu, atau untuk waktu yang tak ditentukan lamanya.

Gereja menyadari bahwa ada suami istri yang bingung karena merasa dari satu pihak harus mengatur kelahiran, tetapi dari lain pihak tidak dapat melaksanakannya dengan cara pantang mutlak atau pantang berkala. Dalam keadaan demikian, mereka bertindak secara bertanggungjawab dan karena itu tidak perlu merasa berdosa, apabila mereka mempergunakan cara lain, asal cara itu tidak merendahkan martabat istri atau suami, tidak bertentangan dengan hidup manusiawi dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Gereja menentang tegas segala bentuk pengguguran dan pemandulan tetap.

Gereja menghargai dan menyadari bahwa para tenaga medis langsung terlibat dalam persoalan yang dihadapi suami istri tersebut. Mereka dan lembaga-lembaga medis Katolik tidak bertindak salah kalau dengan penuh tanggung jawab menasehati dan melayani suami –sitri, biilamana mereka mau mencegah kehamilan baru dengan menggunakan metode berbeda dengan pantang mutlak atau pantang berkala. Gereja mengharapkan mereka tetap harus menyadari bahwa abortus pro vocatus apapun dan sterilisasi tetap dengan tujuan mencegah kehamilan saja, harus ditolak dengan tegas.

Gereja mengharapkan para imam supaya memberi bimbingan kepada seluruh umat, khususnya kepada suamis-istri yang minta keterangan dari mereka dan kepada para tenaga medis setempat, sesuai dengan apa yang diyakini oleh Gereja Gereja meminta agar para imam cukup toleran untuk tidak menyalahkan mereka yang merasa wajib menggunakan pantang mutlak atau pantang berkala atau mereka yang merasa wajib menggunakan cara lain.


  1. Refleksi Pribadi

Gereja Katolik mempunyai program yang lebih dari Keluarga Berencana, yaitu Keluarga Bertanggungjawab (responsible parenthood). Tuhan memberi manusia diberi akal budi dan kehendak bebas agar manusia dapat bertindak seturut martabatnya dengan penuh tanggung jawab. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dari beberapa kemungkinan pilihan yang tersedia dan juga pilihan untuk berbuat atau malah sama sekali tidak berbuat. Agar pilihannya bebas, manusia diberi kemampuan akal budi untuk mempunyai pengetahuan. Dia diberi akal budi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Manusia mempunyai kemampuan afektifi (cinta kasih). Manusia tidak hanya mempunyai akal budi, tetapi juga hati sehingga perbuatan-perbuatannya merupakan hasil pengolahan cinta kepada sesama dan cinta kepada diri. Cinta kasih inilah perwujudan yang paling mendalam dan mendasar sekaligus paling tinggi dari sudut perbuatan manusia. Perbuatan menjadi ungkapan diri yang penuh kasih sekaligus ungkapan diri dalam kasih.

Keputusan membentuk keluarga merupakan keputusan yang berdasar kasih, keputusan yang direncanakan dalam kebebasan yang bijaksana, dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Kalau manusia ingin bertindak menurut harkat dan martabatnya, ia bertindak bukan hanya berdasarkan insting semata atau bertindak berdasarkan pikiran sesaat, tetapi ia harus merenungkan dan merencanakan perbuatannya sedemikian rupa sehingga dapat dipertanggungjawabkan sesuai akal sehat dan sesuai dengan norma-norma yang diyakini.

Gereja memandang keluarga sebagai dasar paling terhormat dan syah adanya manusia atau kehidupan baru. Keluarga menjadi semakin bermakna jika pasangan suami istri berhubugan langsung dengan hidup manusia baru, baik di dalam permulaan, maupun dalam menindaklanjuti kehidupan yang sudah ada. Keluarga yang bertanggungjawab tidak berarti identik dengan pembatasan kelahiran, tetapi kelahiran baru dalam suatu keluarga hendaknya direncanakan sesuai dengan situasi, keadaan, dan kemampuan keluarga tersebut. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan fisik, psikis, kesehatan, afektif, pendidikan, dan sebagainya. Kemampuan ekonomi bukan menjadi satu-satunya pertimbangan untuk merencanakan jumlah dan waktu kelahiran.

Pertimbangannya adalah bagaimana suami istri mampu mempertanggungjawabkan anak-anak yeng dilahirkannya sehingga anak-anak mendapat apa yang menjadi haknya, yaitu pendidikan, kesehatan, makanan, cinta kasih, situasi yang mendukung perkembangan jiwa dan raganya, dan sebagainya. Di satu sisi, tindakan-tindakan yang dipilih jangan sampai terjerumus ke ekstrim egoisme. Keputusan membatasi kelahiran bukan karena ketidakinginan diganggu oleh anak-anak. Dengan kata lain, pasangan suami istri tidak ingin mempunyai anak karena tidak dibatasi kebebasan dan ruang geraknya oleh kehadiran anak-anak tersebut.

Gereja Katolik memandang perkawinan itu suci dan sakral. Hubungan seks itu adalah hal yang suci karena melalui hal itu, Allah memperkenankan manusia ambil bagian dalam karya penciptaan baru. Ini luar biasa. Manusia ikut mencipta yang sebenarnya hanya karya Allah dan bukan malah memahaminya sebagai ajang senang-senang. Mental inilah yang ditentang oleh Gereja Katolik. Ketika suami istri melakukan hubungan seks, itu berarti dia mengatakan siap menjadi rekan Allah dalam suatu penciptaan kehidupan baru. Menjadi rekan Allah dalam suatu penciptaan, ini adalah tugas penting yang suci, ini bukan main-main atau senang-senang.

Jika suami-istri menolak dengan sengaja kemungkinan memiliki anak dalam proses hubungan seksual, itu berarti dia telah menyingkirkan Allah dalam hidupnya, dan telah menolak untuk menjadi rekan kerja Allah dalam penciptaan kehidupan baru.


  1. Penutup

Seiring perkembangan zaman, Gereja selalu mengusahakan sikap dialog dalam keterbukaan sekaligus keterbukaan untuk berdialog. Ajaran iman Gereja senantiasa dikomunikasikan kepada umatnya sehingga menjadi pedoman dasar dalam mengambil setiap keputusan-keputusan dalam peziarahan hidup imannya. Ada keterbukaan, dialog, sekaligus ketegangan dalam Gereja ketika menghadapi berbagai perkembangan yang ada dalam kehidupan manusia.

Gereja selalu mengambil sikap membela harkat dan martabat manusia sejak dia ada. Keputusan ini menjadi prinsip dasar moral Gereja dalam menghadapi berbagai perkembangan yang ada. Dalam pewartaannya, Gereja mengajak setiap umat manusia agar saling menghargai dirinya, sesamanya sebagai citra dan karya Allah. Sebagai mahluk yang luhur, setiap manusia diajak untuk memperlakukan dirinya dan sesamanya sebagai mahluk yang luhur dan tidak meracuni dengan keputusan-keputusan manusiawi yang egoistis.


Daftar Pustaka

BKKBN

1990. Tanya Jawab Reproduksi. Jakarta: Mitra Mandiri.

1992 Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas. Jakarta: BKKBN


Cook, Rebecca J.

1994. Women’s Health and Human Rights. The Protection of Women’s Health Through International Human Rights Law. Geneva: WHO.


Crooks, Robert dan Baur, Karla.

2002 Our Sexuality. Wadsworth: Pacific Grove.


Delyuzar, S.Z. Manik dan E. Mulatsih.

2000. Pendidikan Kesehatan Reproduksi, Gender dan Hak-hak Perempuan – Panduan bagi siswa SMU/SMK. Medan: Pusat Kajian dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Ausaid,


DokPen KWI.

1996 Piagam bagi Pelayana Kesehatan. Jakarta: DokPen KWI.


Hadiwardoyo, Purwa, Al.

1988 Perkawinan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta: Kanisius.

2007 Keluarga Katolik Memahami Hukum Gereja. Semarang: Komisi Pendampingan Keluaga KAS.

2007 Suami Istri Katolik Memahami Panggilan dan Perutusannya. Semarang: Komisi Pendampingan Keluarga KAS.


Kusmaryanto, CB, SCY

2002. Kontoversi Aborsi. Jakarta: Gramedia.

2004. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah. Yogyakarta: FTW.

2005. Tolak Aborsi. Yogyakarta: Kanisius.


Liehung Andre

2007. Perkawinana Menurut Kehendak Allah. Semarang: Komisi Pendampingan Keluarga KAS.


Paulus, Yohanes II.

1992 “Amanat kepada para peserta kursus bagi guru-guru tentang metode-metode alamiah” tgl 10 Januari 1992 dalam OSS Rom, tgl 11 januari 1992.


Rubiyatmoko. R.

2001 Hukum Perkawinan Kanonik. Sebuah Panduan Kuliah. Yogyakarta: FTW.


Tim Sahabat Remaja PKBI DIY.

2000. Tanya Jawab Seputar Seksual Remaja (Panduan untuk Tutor dan Penceramah) - Cetakan III.Kerjasama: PKBI, IPPF, BKKBN dan UNFPA. Yogyakarta:Lentera Sahaja PKBI DIY.


Yuliantoro D. (ed).

2000. 30 Tahun Cukup – Keluarga Berencana dan Hak Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Sinar Harapan, PKBI Yogyakarta dan the Ford Foundation,


1 C. Kusmaryanto. Kontroversi Aborsi. Jakarta; Gramedia. 193.

2 Robert Crooks dan Karla Baur. Our Sexuality. Wadsworth: Pacific Grove. 2002. 292.

3 Misy adalah persenyawaan tembaga atau mungkin biji tembaga. Ini berasal dari Cyprus.

4 Orang-orang Proselit adalah orang-orang yang bukan Yahudi tetapi ingin diterima sebagai orang-orang Yahudi.

5 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Dikta Kuliaht. Yogyakarta: FTW. 2004. 35.

6 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah… 35-36

7 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah ... 36-37; BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas. Jakarta: BKKBN. 34-38.

8 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah... 37-38.

9 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah ... 38.

10 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah... 39; BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas. …38-39

11 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah…41; BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas. 15-25

12 BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas...26-29.

13 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Diktat... 40; BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi Lingkaran Emas.. 29-34.

14 Robert Crooks dan Karla Baur. Our Sexuality. Wadsworh: Pacific Grove. 2002. 302.

15 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah ... 41; BKKBN. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIngkaran Emas. ..5-14

16 C. Kusmaryano. Aborsi. Sebuah Diktat Kuliah... 42-43.

17 Clement dari Alexandria Paedagogus 2.10.91.2

18 Thomas Aquinas. Sententiae 4.33.1.3

19 Paus Yohanes Paulus II. “Amanat kepada para peserta kursus bagi guru-guru tentang metode-metode alamiah” tgl 10 Januari 1992 dalam OSS Rom, tgl 11 januari 1992. 3.

20 R. Rubiyatmoko. Hukum Perkawinan Kanonik. Sebuah Panduan Kuliah. Yogyakarta: FTW. 2001. 4.

21 Paus Yohanes Paulus II. “Amanat kepada para peserta kursus bagi guru-guru tentang metode-metode alamiah” tgl 10 Januari 1992 dalam OSS Rom, tgl 11 januari 1992. 3.

22 Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa estimasi jumlah penduduk dunia saat ini adalah 6,500,000,000 orang. Luas daratan Indonesia sendiri adalah kurang lebih 1,826,440,000,000m2. Jadi bila seluruh penduduk dunia ditempatkan di Indonesia maka setiap orang, termasuk bayi, akan mendapat tanah seluas 281m2! Dengan perkiraan kasar tersebut maka pendapat bahwa Bumi sudah kepenuhan penduduk dan jumlahnya harus dikurangi adalah suatu keputusan yang kurang bijaksana.

23 Paus Paulus VI. “Ensiklik Humanae Vitae art. 11 dan 16.

24 DokPen KWI. PIagam bagi Pelayana Kesehatan. Jakarta: DokPen KWI. 1996. 33