Kamis, 05 Juni 2008

The Letter of an angel


Beberapa orang yang masuk dalam kehidupan kita dan pergi dengan cepat. Beberapa orang menjadi teman dan tinggal sebentar….. meninggalkan jejak kaki indah dalam hati kita………..Dan kita tidak pernah merasa sama karena kita telah membuat seorang teman baik
Ada seseorang yang bangga padamu
Ada seseorang yang berpikir tentang kamu
Ada seseorang yang memperhatikanmu
Ada seseorang yang merindukanmu
Ada seseorang yang ingin bicara padamu
Ada seseorang yang ingin bersamamu
Ada seseorang yang berterima kasih atas support yang telah kamu berikan
Ada seseorang yang ingin menggenggam tanganmu
Ada seseorang yang ingin segala sesuatu berjalan baik
Ada seseorang yang ingin kamu bahagia
Ada seseorang yang ingin kamu menemuinya
Ada seseorang yang berharap kamu tidak dingin dan panas
Ada seseorang yang ingin memelukmu
Ada seseorang yang ingin mencintai kamu
Ada seseorang yang mengagumi kekuatanmu
Ada seseorang yang berpikir tentang kamu dan tersenyum
Ada seseorang yang ingin pergi dengan kamu dan bergembira
Ada seseorang yang berpikir tentang duniamu
Ada seseorang yang ingin menjagamu
Ada seseorang yang ingin melakukan apa pun untukmu
Ada seseorang yang ingin memaafkanmu
Ada seseorang yang ingin berterimakasih atas maaf yang kamu berikan
Ada seseorang yang ingin tertawa bersamamu
Ada seseorang yang ingat padamu dan berdoa untukmu di mana pun kamu berada
Ada seseorang yang berdoa pada Tuhan untukmu
Ada seseorang yang ingin memberitahumu bahwa cintanya padamu tidak bersyarat dan ingin mengatakan betapa besar perhatian mereka
Ada seseorang yang ingin menggandengmu dengan tangannya
Ada seseorang yang ingin kamu menggandeng mereka dengan tanganmu
Ada seseorang yang berdoa pada Tuhan untuk persahabatan dan cintamu
Ada seseorang yang tidak bisa menunggu untuk melihatmu
Ada seseorang yang mencintai kamu sebagaimana kamu adanya
Ada seseorang yang mencintai caramu membuat mereka merasakan dan mempelajari sesuatu
Ada seseorang yang ingin bersamamu
Ada seseorang yang ingin kamu tahu mereka di sini untuk kamu
Ada seseorang yang bergembira menjadi temanmu
Ada seseorang yang ingin menjadi temanmu
Ada seseorang yang berharap kamu memperhatikannya
Ada seseorang yang ingin dekat denganmu
Ada seseorang yang rindu saran-saranmu
Ada seseorang yang mempercayaimu
Ada seseorang yang butuh dukunganmu
Ada seseorang yang butuh kamu berjuang bersama mereka
Ada seseorang yang membutuhkanmu, membiarkannya menjadi temanmu
Ada seseorang yang mendengar sebuah lagu yang telah mengingatkannya padamu
Ada seseorang yang akan menangis ketika kamu membaca ini


Gereja dan Hirarki



Kesatuan Gereja memperoleh dasarnya pada Yesus Kristus. Titik pangkal kesatuan Gereja adalah Yesus Kristus. Munculnya Gereja mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Yesus Kristus. Kesatuan Yesus dengan Gereja digambarkan sebagai kesatuan dalam Tubuh Kristus di mana Kristus sebagai kepala-Nya dan Gereja menjadi anggota-anggotanya(LG7). Kesatuan umat beriman dengan Kristus itu diperoleh berkat baptis yang diterima (1Kor 12,13) dan ekaristi (1Kor 10,17).

Terdapat dua macam persekutuan, yaitu persekutuan intern di dalam Gereja Katolik Roma yang diwujudkan dalam communio dari paguyuban dan persekutuan ekstern di antara Gereja-gereja.


Persekutuan Ekstern

Gereja katolik janganlah dilihat sebagai satu-satunya pelaksana misteri keselamatan Allah (LG 8). Justru karena dalam Gereja Katolik Gereja Yesus Kristus hadir secara konkret, maka juga bentuk kehadirannya terbatas. Di dalam bentuk yang terbatas ini memang seluruh kebenaran Kristus terungkap. Tanpa mengurangi karya rahmat dalam orang lain, Gereja Katolik menegaskan bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus untuk keselamatan. Dalam LG 15, dibicarakan perbedaan antara Gereja Katolik dan gereja-gereja lainnya. Perbedaan itu tidaklah memecah-memecahkan umat, melainkan berkat baptisan yang diterima, Gereja Katolik dan gereja-gereja lain disatukan dalam Kristus sendiri. Bahkan dalam LG 16, dibicarakan juga tentang persatuan Umat Allah dengan mereka yang belum menerima Injil. Kesatuan yang terjadi adalah bersama-sama berjalan menuju Allah.


Pesekutuan Intern

Berbicara tentang kesatuan Gereja Yesus Kristus yang hadir dalam Gereja Katolik itu berarti menyentuh beberapa aspek, yaitu : Gereja lokal dan Gereja universal; Communio Para Uskup (Kolegialitas); Hubungan hirarki dengan awam; Persekutuan dengan para kudus (communio sanctorum). Gereja Kristus itu sungguh hadir dalam seluruh jemaat kaum beriman setempat yang sah. Dalam masing-masing Gereja setempat hadirlah satu Gereja Kristus, Gereja semesta (universal). Dari sudut pandang Gereja setempat, Gereja lokal terbentuk menurut citra Gereja setempat”. Di sinilah muncul sifat kesatuan. Sebab, Gereja-gereja setempat yang di dalamnya terwujud Gereja Yesus Kristus, bersama-sama membentuk persekutuan dan itulah yang disebut sebagai Gereja semesta (universal). Pusat Gereja bukan lagi di Roma, melainkan altar di mana dirayakan ekaristi. Di lihat dari sudut pandang Gereja semesta, Gereja semesta hadir dalam Gereja-Gereja setempat yang menghadirkan Gereja Yesus Kristus.

Sifat dasar Gereja Yesus Kristus (LG 13).

  • Satu. Prinsip dan pola misteri kesatuan Gereja adalah kesatuan Allah Tritunggal (komunitas kasih Allah Tritunggal). Allah memanggil orang beriman kepada Kristus menjadi umat Allah (1Ptr 2, 5-10) dan membuat mereka menjadi satu tubuh (1Kor 12,12). Tata susunan sosial Gereja melambangkan kesatuannya dengan Kristus (GS 44).

  • Katolik. Itu berarti Gereja tersebar di mana-mana untuk semua orang sepanjang sejarah di segala tempat sebab Allah memanggil semua orang agar selamat. Keselamatan Allah ditujukan kepada semua orang. Secara kultural, Gereja tersebar di seluruh dunia dalam berbagai bentuk budaya segala bangsa.

  • Kudus. Kekudusan yang ada pada Gereja adalah berkat Kristus yang menguduskan (Bdk. LG 7). Kekudusan terungkap dalam aneka cara sebab kekudusan bukanlah sidat seragam yang sama bentuknya untuk semua orang. Kekudusan berarti bahwa semua orang mengambil bagian dalam Kekudusan gereja yang bersumber pada Kristus sendiri, pengudusan oleh Roh (1Ptr 1,2), dikuduskan karena dipanggil (Rom 1,7). Dari pihak manusia kekudusan berarti tanggapan atas karya Allah yang menguduskan terutama dengan sikap iman dan pengharapan (1Tim 2,15).

  • Apostolik. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka (Ef 2,20; Why 21,14). Hubungan Gereja dengan para rasul dipahami oleh Gereja Katolik sebagai pemusatan pada hubungan historis (turun-temurun) antara para rasul dengan para penggantinya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja yang sekarang ini, mengakui diri sama dengan Gereja perdana, yaitu Gereja para rasul.


Pada mulanya communio berarti partisipasi dalam karunia keselamatan Allah, yakni peran serta dalam Roh Kudus, dalam hidup baru, dalam cinta kasih. Paham Gereja sebagai communio dapat dimengerti sebagai partisipasi Gereja dalam hidup ilahi trinitaris atau dalam komunitas kasih antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Communio di dalam Gereja terjadi pertama-tama karena bersama-sama menanggapi karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang terutama dirasakan dalam Sabda dan Sakramen. Kesatuan Gereja Yesus Kristus hadir dan diwujudkan dalam communio dari Gereja-Gereja partikular. Titik tolak communio adalah hubungan timbal balik yang berprinsip subsidiaritas. Gereja pertama-tama merupakan organisme, yaitu persekutuan umat beriman yang saling berhubungan dan

Dalam LG 26, konsili menegaskan kehadiran Kristus dalam jemaat-jemaat setempat. Gereja setempat menghadirkan, Gereja Universal yang menghadirkan pula Gereja Yesus Kristus. Jemaat setempat itu pertama-tama adalah jemaat keuskupan yang menghadirkan Gereja universal. Dalam lingkup yang lebih kecil seperti paroki (teritorial dan kategorial), bahkan paguyuban umat seperti wilayah dan lingkungan (atau apapun namanya yang sejenis), kelompok kategorial merupakan persekutuan kecil umat beriman, hadirlah Gereja Yesus Kristus. Nah, communio merupakan kebersamaan di antara paguyuban-paguyuban umat tersebut di mana secara intern, di antara umat beriman sendiri membangun communio dalam paguyubannya masing-masing.

Sementara itu, dalam refleksinya pada sidang paripurna FABC V di Bandung 1990, para Uskup Asia melihat harapan baru dengan tumbuhnya hasrat di kalangan umat kristiani untuk membangun hidup bersama (community). Hasrat itu tampak sekali dengan tumbuhnya “jemaat-jemaat Gerejawi Basis, kelompok-kelompok tetangga, kelompok-kelompok yang berhimpun untuk membela hak-hak manusawi atau untuk doa dan sharing Kitab Suci”. Konsekuensi dari pola hidup berpaguyuban adalah memberi kesempatan semua anggota untuk ikut serta secara aktif. Seluruh jemaat sebagai communio dipanggil untuk berperan serta dan memperagakan Kristus sebagai imam, nabi, raja di tengah-tengah dunia (LG 10-12, 34,36).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Gereja pertama-tama communio umat beriman. Gagasan communio sangat kuat tampak dalam gagasan Gereja sebagai Tubuh Kristus dan Umat Allah di mana sesungguhnya kesatuan (aspek yang paling ditekankan) ternyata mengandaikan keterlibatan dari unsur-unsur penyusunnya. Dasarnya adalah communio umat beriman dengan Allah dan selanjutnya mewujud dalam communio di antara jemaat-jemaat beriman dan paguyuban jemaat beriman. Communio dari paguyuban-paguyuban itu mengandaikan dan menuntut paguyuban umat beriman yang terbuka yang siap berdialog dan membangun hidup bersama dengan paguyuban umat beriman yang lainnya. Dan dalam kebersamaan itu, mereka dipanggil untuk melibatkan diri dalam mewartakan karya keselamatan Allah di tengah dunia.


Hirarki

Yang disebut hirarki adalah Uskup, Imam dan Diakon. Hirarki dalam Kitab Suci

  • Muncul kelompok 12 rasul semasa Yesus hidup.

  • Para penatua menggantikan para rasul.

  • Muncul istilah episkopos/uskup (Kis 20,38) atau penilik jemaat dan diakonos (Rm 16,1).

Dalam LG bab 3 dikatakan tentang hirarki, yaitu Uskup, Imam dan Diakon.

  • Uskup. Tugas pokok uskup adalah pemersatu dan pemimpin umat. Tugas tersebut dilaksanakan menurut dalam tiga bidang, yaitu

  • Pewartaan (LG 25). Uskup bertugas sebagai Guru yang meliputi perwartaan Injil, menjelaskan ajaran iman dan menjaga Gereja dari kesesatan (menjaga pewahyuan).

  • Perayaan (pengudusan, LG 26). Uskup memiliki rahmat imamat tertinggi. Uskup menjadi organ persatuan Gereja sebagaimana nampak dalam ekaristi.

  • Pelayanan (penggembalaan, LG 27). Uskup memiliki wewenang untuk mengatur dan membimbing Gereja.

Bersama-sama dengan Uskup-uskup di seluruh dunia mereka adalah Dewan Uskup dengan Paus sebagai pemimpin tertinggi.

  • Dewan Para Uskup. Dewan para uskup adalah pengganti dewan para rasul. Yang memimpin Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup karena diterima sebagai anggota dalam dewan itu. Pada hakekatnya, uskup adalah pimpinan Gereja setempat (LG 22, 27).

  • Paus. Atas dasar tradisi, Petrus merupakan uskup Roma yang pertama. Dia adalah ketua dewan para rasul. Sebagai pengganti Petrus, Paus tidak sekedar sebagai uskup Roma tetapi juga menjadi ketua dewan pimpinan Gereja Universal.

  • Para Imam (LG 28) dan Diakon (LG 29)

Keduanya adalah para pembantu uskup yang menerima tahbisan dan menjadi anggota hirarki. Imam adalah perpanjangan tugas uskup untuk 3 tugas di atas. Diakon walaupun sudah ditahbiskan namun ia baru bisa melaksanakan tugas pelayanan. Imam mengambil bagian dalam imamat uskup.

    Tugas utama hirarki adalah mempersatukan umat. Di sini perlu diperhatikan tempat hirarki dalam keseluruhan Gereja. Hirarki bukan prinsip kesatuan Gereja, tetapi organnya. Prinsip kesatuan Gereja adalah Roh Kudus (LG 4, 7b-c, 13a, 15, 25). Supaya kesatuan lahiriah dapat berkembang dan dinyatakan dalam bentuk sosial, maka Gereja diberi bentuk hirarkis. Hirarki sering disebut sebagai “jabatan” untuk: “pelayanan, tugas atau pengabdian”. Pandangan ini sesuai dengan ajaran PB yang tidak pernah berbicara tentang pangkat atau kehormatan, melainkan melihat hirarki melulu secara fungsional. Ketika fungsi-fungsi itu masih sangat bercorak karismatis, maka sifat fungsionalnya tampak sekali. Dalam perkembangan, sifat fungsionalnya agak dikaburkan. Namun Konsili Vatikan II kembali pada paham asli (LG 18a).

    Atas kehendak Kristus, hirarki diangkat menjadi Guru, pembagi misteri-misteri, dan gembala bagi yang lain (LG 32c), menunaikan tugas suci demi saudara-saudara mereka. Tugas pemersatu hirarki tidak berarti bahwa semua dipaksakan ke dalam bentuk iman yang seragam. Hirarki harus melayani umat, supaya seluruh kaum beriman bersama-sama, membangun kesatuan itu. Hirarki harus memungkinkan komunikasi dalam iman. Mereka harus menjalankan tugas mereka sebagai saudara di antara saudara (PO 9 a).

    Imam tidak berada di atas umat, tetapi di tengahnya. Fungsi hirarki adalah fungsi dalam Gereja, maka hirarki mengambil bagian dalam fungsi Kristus yang dengan perantaraan Roh tetap mempersatukan Gereja.

    Struktur hirarkis adalah struktur hakiki Gereja, karena Roh tidak pernah berkarya lepas dari Yesus. Struktur karismatis tidak lepas dari struktur hirarkis, yang secara historis menghubungkan Gereja dengan Yesus. Oleh karena itu, hirarki secara hakiki berdiri di tengah-tengah hidup Gereja dan mengambil bagian aktif dalam hidup umat.

    Kekhususan tugas kepemimpinan hirarki berhubungan langsung dengan kekhususan Gereja sebagai communio dalam iman. Hirarki harus memimpin umat dalam mewujudkan iman dalam kesatuan yang tampak. Namun harus diingat bahwa prinsip kesatuan adalah karya Roh dan bukan kewibawaan atau kuasa hirarki. Dengan demikian dapat dikatakan hirarki merupakan pelayan kesatuan Gereja Yesus Kristus. Mereka menghadirkan Yesus yang mempersatukan umat-Nya (in persona Christi).

Ada tiga bidang pengungkapan iman yang bisa dipakai oleh hirarki untuk melayani umat :

  • Hidup konkret.

  • Perumusan iman dan ajaran. Tugas hirarki bukan menjaga dan membela ajaran tradisional saja, melainkan juga membantu dan memimpin orang dalam mencari rumusan baru bagi iman yang hidup. Maka tugas mengajar dapat diartikan sebagai pelayanan dalam perumusan iman.

  • Dalam bidang liturgi. Pusat hidup liturgi adalah sakramen-sakramen, dan pusat sakramen adalah ekaristi. Maka di bidang kultus, hirarki menjalankan fungsinya terutama dalam mempersatu-kan umat sekitar altar. Tugas mempersatukan juga berarti bahwa pelbagai tugas pelaksanaan dan pengungkapan iman dijadikan satu. Maka hirarki sendiri harus mengimani sabda Allah.






Kamis, 29 Mei 2008

Sambut hari ini dengan kasih

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Karena ini merupakan rahasia sukses yang paling besar dalam semua usaha. Otot dapat merobek perisai, bahkan dapat membinasakan kehidupan, akan tetapi hanyalah kekuatan kasih yang tak tampak dapat membuka hati manusia dan sebelum saya menguasai seni ni, saya akan tetap tidak lebih daripada seorang insan biasa. Saya akan membuat kasih senjata saya yang paling ampuh dan tiada seorang yang saya kunjungi dapat mempertahankan dirinya melawan ini.

Pikiran saya mungkin mereka bantah. Pidato saya mungkin dicurigai, pakaian saya mungkin dicela, wajah saya mungkin ditolak, bahkan penawaran-penawaran saya dicurigai; namun kasih saya akan melelehkan semua hati seperti sinar matahari dapat melembutkan tanah liat yang paling dingin.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah kalau saya lakukan in? Mulai sekarang saya akan melihat semua benda dengan kasih dan saya akan dilahirkan kembali. Saya akan mengasihi matahari karena matahari menghangatkan tulang-tulang saya; namun saya akan mengasihi hujan karena hujan itu membersihkan saya. Saya akan mengasihi cahaya karena cahaya itu menunjukkan jalan kepada saya; namun saya akan mengasihi kegelapan karena kegelapan itu memperlihatkan bintang-bintang kepada saya. Saya akan menyambut kebahagiaan karena kebahagiaan itu memperbesar hatiku, namun saya akan memikul kesedihan karena kesedihan membuka hati saya. Saya akan mengakui penghargaan dan pahala oleh karena penghargaan dan pahala itu adalah hak saya. Namun saya akan menyambut rintangan-rintangan itu karena itu merupakan tantangan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus berbicara? Saya akan menyanjung musuh-musuh saya dan mereka akan menjadi teman-teman saya. Saya akan membesarkan ahti dan mendorong teman-teman saya; dan mereka akan menjadi saudara-saudara saya. Saya akan senantiasa menggali sebab-sebab untuk bertepuk tangan; saya sekali-kali tidak akan mencari alasan-alasan untuk memfitnah. Bilamana saya digoda untuk mengecam, saya akan menggigit lidah saya; bilamana saya digerakkan untuk memuji saya akan bersorak-sorai dari atas atap.
Apakah tidak demikian sehingga burung-burung, angin, laut dan alam semesta berbicara dengan musik pujian bagi pencipta mereka tidak dapatkah saya berbicara dengan musik yang sama kepada anak-anakNya? Mulai sekarang saya akan mengingat rahasia ini dan rahasia itu akan mengubah hidup saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus bertindak? Saya akan mengasihi semua jenis manusia sebab setiap orang mempunyai sifat-sifat yang dapat dikagumi sungguhpun sifat-sifat tersebut tersembunyi. Dengan rasa kasih, saya robohkan tembok kecurigaan dan kebencian yang telah dibangun di sekeliling hati mereka dan disana saya akan bangun jembatan-jembatan sehingga rasa kasih saya dapat memasuki jiwa mereka.
Saya akan mengasihi orang-orang yang mempunyai ambisi karena mereka dapat mendorong saya. Saya akan mengasihi orang-orang yang gagal karena kegagalan-kegagalan itulah yang dapat mendidik dan memberi pengajaran kepada saya. Saya akan mengasihi raja-raja karena mereka itu tetap hanyalah manusia. Saya akan mengasihi mereka yang lembut karena mereka itu bersifat ketuhanan. Saya akan mengasihi mereka yang kaya karena mereka itu masih merasa sunyi. Saya akan mengasihi mereka yang miskin karena merekalah yang banyak. Saya akan mengasihi orang-orang muda karena kepercayaan yang dimiliki mereka. Saya akan mengasihi orang-orang tua karena kebijaksanaan yang mereka bagikan. Saya akan mengasihi orang-orang cantik karena mata mareka memancarkan kesedihan. Saya akan mengasihi orang-orang yang buruk karena kedamaian jiwa mereka.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Tetapi bagaimanakah saya bereaksi terhadap tindakan-tindakan orang lain? Dengan kasih. Hanya kasihlah yang menjadi senjata saya untuk membuka hati orang-orang. Demikian pula kasih itu menjadi perisai saya untuk menolak anak panah kebencian dan tombak-tombak kemurkaan. Kesengsaraan dan keputusasaan akan memukul melawan perisai baru saya dan menjadi seperti hujan yang paling lembut. Perisai saya akan melindungi saya dan mempertahankan saya bilamana saya seorang diri. Perisai saya akan mengangkat saya dalam waktu-waktu keputusasaan, namun perisai saya itu akan menenangkan diri saya dalam waktu kegembiraan yang meluap-luap. Perisai saya itu akan menjadi kuat dan akan lebih melindungi saya sampai pada suatu hari saya akan membuangnya ke samping dan berjalan tanpa beban diantara orang-orang dimana sifat dan sikap mereka berbeda-beda dan bila menghendakinya, nama saya akan terangkat tinggi-tinggi ke atas piramida kehidupan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimana saya akan menghadapi orang-orang yang bertemu dengan saya? Hanya dengan satu cara. Dalam hati dan kepada saya sendiri saya akan sapa orang itu sambil mengucapkan saya mengasihi anda. Biarpun diucapkan dalam batin kata-kata itu akan bersinar dalam mata saya, akan menghilangkah kerutan pada dahi saya, membawa senyuman kepada bibir saya, gema dalam suara saya dan hatinya akan dibuka. Dan siapakah disitu yang akan mengatakan TIDAK kepada saya bilamana hatinya merasakan kasih saya?

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Terutama saya akan mengasihi diri saya sendiri. Sebab bila saya mengasihi diri saya sendiri saya akan dengan tekun memeriksa segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saya, pikiran saya, jiwa saya, dan hati saya. Saya tidak akan pernah menurut secara berlebihan kehendak tubuh saya, lebih baik saya akan menghargai tubuh saya dengan kebersihan dan kesederhanaan. Saya takkan membiarkan pikiran saya tertarik pada kejahatan dan keputusasaan lebih baik meningkatkan pikiran saya dengan ilmu dan pengetahuan. Saya tidak akan memperbolehkan jiwa saya menjadi puas dan senang, lebih baik saya memberikan makanan kepada jiwa saya dengan meditasi dan doa. Saya tidak akan membolehkan hati saya menjadi kecil dan pahit, lebih baik saya membagikan hati saya dan hati saya itu akan tumbuh dan menghangatkan bumi.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Mulai sekarang saya akan mengasihi seluruh umat manusia. Mulai saat ini semua rasa benci telah keluar dari semua pembuluh darah saya karena saya tak ada waktu untuk membenci, hanya ada waktu untuk mengasihi. Mulai saat ini saya akan mengambil langkah pertama yang perlu untuk menjadi seseorang diantara orang-orang. Dengan kasih saya akan meningkatkan nilai saya seratus kali lipat dan akan menjadi INSAN LUAR BIASA. Tanpa semuanya ini, saya akan gagal sungguhpun saya memiliki semua ilmu pengetahuan dan ketrampilan di dunia.

Saya akan menyambut hari ini dengan RASA kasih dan Saya akan SUKSES.





Iman dan Wahyu

Gereja yang hidup adalah Gereja yang menjadikan seluruh perjalanan hidup di dunia ini sebagai medan beriman. Pengalaman hidup sehari-hari merupakan medan manusia untuk berjumpa dan berelasi dengan Allah. Dalam pengalaman hidupnya, manusia mengalami Allah yang menyapa dan campur tangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, dalam konteks pengalaman hidupnya, manusia menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah mengandaikan kesalingan dua hal. Di satu sisi, Allah mewahyukan diri kepada manusia dengan cara yang di-tangkap oleh manusia. Di sisi yang lain, manusia menanggapi per-wahyuan yang ditangkapnya dengan menyatakan imannya.
Allah dan manusia menjadi subyek dalam relasi ini. Dari sudut wahyu, Allah-lah yang menjadi subyeknya, dan dari sudut iman manusia-lah yang menjadi subyeknya. Dengan kata lain, tesis ini hen-dak berbicara tentang jalinan komunikasi antara Allah dengan manusia yang khas manusiawi.
Perwahyuan Allah bermula dari kehendak Allah sendiri yang mengalir dari kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mewahyukan diri, Allah berkehendak untuk menyapa dan menyatakan rahasia kehendak-Nya. Allah menjumpai manusia dan menjalin relasi yang akrab dengan ma-nusia. Pada puncaknya, dengan perwahyuan-Nya itu, Allah mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Dengan kata lain, Wahyu Allah merupakan komunikasi Allah yang mengajak manusia berpartisipasi. Wahyu Allah merupakan pernyataan diri Allah tentang diri-Nya sendiri kepada manusia dan mengajak manusia untuk menanggapinya (partisipasi).
Apa isi wahyu? Isi wahyu adalah diri Allah sendiri. Dalam wahyu, Allah menyatakan diri-Nya sendiri berserta seluruh rencana keselamatan-Nya Allah mengkomunikasikan dirinya sendiri kepada manusia.
Dan karena yang dikomunikasikan itu sifatnya personal, diri Allah sendiri, maka komunikasi itu menjadi personal. Karena itu, wahyu Allah merupakan tindakan diri Allah sendiri.Berikut ini inti pokok dalam DV 2 tentang bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya :
Titik awal wahyu adalah Allah sendiri. Pelaku wahyu adalah Allah dan isi wahyu adalah diri Allah sendiri dan misteri kehendak-Nya. Wahyu adalah gerak hidup ilahi Allah. Kristus menjadi jalan masuk manusia kepada Allah melalui seluruh peristiwa hidup-Nya dan berkat dorongan Roh Kudus. Partisipasi manusia terjadi melalui Kristus dalam Roh Kudus. Di dalam Kristus, manusia berjumpa dengan Allah yang menyapa. Kristus merupakan kepenuhan perjumpaan manusia dengan Allah. Dengan mewahyukan diri-Nya Allah menjumpai manusia sebagai sahabat-Nya untuk melibatkan manusia dalam hidup Allah sendiri. Wahyu Allah itu terungkap dalam kata dan perbuatan Allah yang dapat ditangkap oleh manusia. Kata dan perbuatan itu menggambarkan dan menerangkan isi wahyu yang misteri. Wahyu bukan diwariskan dari masa lampau, melainkan Allah yang menjumpai dan menyapa manusia secara personal.
Dalam PL, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah melalui Taurat (Yer 31,33; Ul 30,16) dan warta para nabi (Yer 1,9; Ibr 1,1) serta tanda-tanda alam (Panggilan Musa, Kel 3) .Dalam PB, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah dalam Yesus Kristus (Yoh 14, 8-14; Mat 11, 25-27; Luk 10, 21-21-24). Dalam Kis : kabar gembira mengenai Yesus Kristus (Kis 3, 17-26). Paulus : pewartaan kabar gembira tentang rencana keselamatan Allah yang tidak dari perkataan manusia, namun dari Allah (1Tes 2,13), misteri rahasia Allah yang terlaksana dalam Kristus Yesus (Ef 3, 8-12), dalam Yesus berdiam secara jasmaniah kepenuhan ke-Allah-an (Kol 2,9).
Allah yang tak kelihatan dan tak mampu dijangkau oleh manusia, menyapa manusia dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam mewahyukan diri-Nya Allah menggunakan cara-cara yang dapat ditangkap oleh manusia yang hendak disapanya. Dengan kata lain perwahyuan diri Allah tertangkap dalam ruang dan waktu manusiawi dan sekaligus berarti terjadi dalam proses, tahap demi tahap. Sejarah merupakan medan kehidupan sekaligus kehidupan manusia. Dalam Surat kepada orang Ibrani 1,1-2, tentang perantara Allah dalam mewahyukan diri-Nya dikatakan : “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Dalam kutipan itu dikatakan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya dalam dua cara, yaitu 1) dengan perantaraan para nabi dan 2) dengan perantaraan Anak-Nya. Keduanya terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Perwahyuan Allah dalam sejarah melalui para nabi dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Dan perwahyuan Allah dalam sejarah melalui Anak-Nya dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru.
Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan para nabi “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr1,1). Sejarah perwahyuan diri Allah dalam perjanjian Lama dimulai dengan perwahyuan diri Allah kepada Abraham. Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham (Kej 15, 18) dan kemudian dengan bangsa Israel melalui Musa (Kel 24,8). Allah menjadi Allah bangsa Israel dan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya. Dengan mengangkat bangsa Israel ini menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang dipilih-Nya Allah menyatakan diri-Nya dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dan di masa selanjutnya terus menerus Allah menyampaikan kehendaknya melalui para nabi.
Dalam DV 3 dikatakan : “Sesudah para Bapa bangsa, Ia membina bangsa itu (Israel) de-ngan perantaraan Musa dan para Nabi supaya mereka mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, Bapa Penyelenggara dan hakim yang adil, dan supaya mereka mendambakan Penebus yang dijanjikan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perwahyuan diri Allah dan rencana keselamatan-Nya terus menerus dikatakan. Dan perwahyuan diri Allah kepada para Bapa bangsa dan para nabi itu penuh sebab kepada mereka Allah telah menyatakan Diri dan rencana keselamatan-Nya. Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan Anak-Nya. Dalam DV 2 tentang hali ini dikatakan : “Melalui wahyu itu, kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menjadi pengantara dan kepenuhan wahyu”. Dan dalam Ibr 1,2 dikatakan : “Pada zaman akhir ini ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anaknya”.
Yesus Kristus adalah puncak dan pemenuhan wahyu Allah. Di dalam Kristus, Allah yang menyapa manusia dan rencana keselamatan-Nya mencapai kepenuhannya. Sebab, “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1,19). Di dalam Yesus, perwahyuan Allah itu tidak lagi menjadi suatu rencana keselamatan melainkan justru Yesus Kristuslah keselamatan Allah sendiri. Dalam diri Kristus perwahyuan Allah kepada manusia mencapai puncak dan keakrabannya dan kedekatannya. “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan” (Kol 2,9). Kesempurnaan kepenuhan wahyu datang dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak hanya menyampaikan firman Allah (Yoh 3,34). Yesus Kristus adalah Sang Firman Allah sendiri (Yoh 1,1; Why 19,13). Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah pernyataan Allah sendiri. Dalam diri Yesus Allah memberikan diri secara penuh kepada manusia. Yesus mewujudkan wahyu Allah dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Karena itu, inkarnasi Yesus Kristus, seluruh perjalanan hidup, nasib, karya dan memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya menjadi tanda jelas bahwa wahyu Allah itu terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14,9).Dengan demikian, dalam diri Yesus Kristus dengan seluruh peristiwa hidup-Nya merupakan keselamatan Allah, yaitu kesatuan antara Allah dan manusia. Allah memerosotkan diri-Nya dan menggunakan cara-cara manusiawi agar dapat menyatakan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia.
Perwahyuan Allah adalah tindak Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya. Dan komunikasi Allah yang mencapai kepenuhan-Nya dalam Yesus Kristus itu menjadi langkah bagi Allah untuk menyapa manusia. Ia tidak pertama-tama memerintah, melainkan mengajak manusia berkomunikasi dan mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Komunikasi Allah mengundang manusia untuk tidak hanya diam saja, tetapi perwahyuan diri Allah mengundang manusia dalam percakapan yang intim dengan Allah. Maka dikatakan dalam DV 2 “dari kelimpahan kasihnya, (Ia) menyapa manusia sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka”. Manusia disapa Allah sebagai sahabat-sahabat-Nya. Karena itu, perwahyuan diri Allah merupakan komunikasi Allah yang dialogis di mana Allah memberikan diri-Nya kepada manusia dan manusia menerima pemberian diri Allah itu. Pemberian diri Allah itu, penuh dalam Yesus Kristus yang tinggal di tengah-tengah kita. Dalam iman, manusia mendengar serta menjawab sapaan itu dalam konteks hidupnya.Dengan dan karena iman manusia mampu mendengar dan menjawab sapaan Allah. Apa yang dimaksud dengan iman?
Kata ‘iman’ merupakan terjemahan dari kata pistis (Yunani), fides (Latin), dan faith (Inggris) yang berarti kepercayaan, keyakinan dan penerimaan wahyu Allah. Dalam konteks teologi “iman” dan “percaya” dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan manusia dengan Allah, utamanya dengan menerima wahyu. Iman dalam bahasa Ibrani ‘mn berarti mengandung pemahaman tentang “sesuatu yang dapat diandalkan dan dipercaya”. Isi iman PL adalah kepercayaan kepada janji dan tuntunan Allah bagi umat Israel. Atas wahyu Allah manusia menjawab dengan kesiapsediaan dan ketaatan. Dalam tataran tertentu, iman dipahami sebagai setia dan mentaati perintah Allah agar memperoleh hidup. Karena itu, tekanan utamanya adalah “untuk mengasihi Tuhan Allahmu dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu . . . “ (Ul 30,16). Dalam sejarah perjalanan bangsa Israel, Abraham menjadi model orang beriman yang sungguh percaya dan mengandalkan Allah (Kej 12, 1-4). Iman juga merupakan suatu tindakan, yaitu sikap setia dalam melaksanakan kehendak Allah (Mi 6,8), mengakui Yaurat sebagai kehendak Allah (Mzm 119,66) dan menerima utusan-utusan Allah (Kel 14,31; 2taw 20,20).
Injil Sinoptik, iman dipahami sebagai sikap mendengar (Mat 4,9 : “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”), percaya dan mempercayakan diri kepada Yesus (Mat 9, 27-31; Luk 7,6-9). Percaya itu tidak cukup mendengar namun mengerti (bdk. Mat 13,19). Mengerti berarti : menerima sabda Allah dan hidup setia sesuai dengan sabda Allah. Beriman juga berarti bertobat dan berbalik kepada Allah (Mrk 1,15). Yohanes : beriman itu berarti percaya kepada Yesus sebab Yesus mengerjakan yang diperintahkan Bapa. Dengan demikian beriman berarti percaya kepada Bapa yang mengutus Yesus (Yoh 14). Tberiman atau tidak beriman merupakan sikap ya atau tidak kepada Yesus. Beriman berarti pilihan untuk memihak Yesus dan menerima Sabda-Nya. Tidak beriman berarti menolak Yesus (Yoh 15). Paulus : beriman berarti semakin mengenal misteri Allah dalam Yesus Kristus. Manusia diajak semakin mengenal rencana penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus (Bdk. 1Kor 1,17; 2, 1-4; Kol 2, 2-3). Iman merupakan perbuatan yang dengannya manusia menyerah-kan diri kepada Allah sebagai sumber satu-satunya keselamatan. Orang beriman kepada Allah melalui Putera-Nya sebab melalui Putera-Nya itu Allah bersabda. Karena itu, bagi Paulus beriman berarti mempersatu-kan diri dengan Kristus. Paulus mengartikan sabda Allah bukan pertama-tama kebenaran, melainkan diri Kristus, sebagai Tuhan dan Penyelamat. Hanya imanlah yang menyelamatkan (Rm 3, 21-31) dan bukan Taurat. Yakobus : “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2, 26). Bagi Yakobus, beriman itu tidak hanya berhenti pada mendengarkan dan percaya kepada Allah, melainkan juga melaksanakannya.
Dalam DV 5 dikatakan bahwa :Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib me-nyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersem-bahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan secara sukarela menerima sebaai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya”.
Dalam kutipan tersebut, tampak iman dipahami sebagai :
· Penyerahan seluruhnya dengan bebas kepada Allah (menyangkut segi pengetahuan, keyakinan, pengertian dan pemahaman).
· Kepatuhan akal budi dan kehendak (berhubugnan dengan kebebasan iman)
· Dengan pengakuan bebas à menyangkut kerelaan hati, keterbukaan untuk menerima kebenaran wahyu).
Namun iman bukanlah pencapaian oleh manusia sendiri. Agar mampu beriman, manusia membutuhkan rahmat Allah karena iman adalah anugerah Allah. Dalam DV 5 dikatakan : “Supaya orang dapat beriman . . . diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membaklikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran. Semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan melalui karunia-karunia-Nya”. Dari kutipan itu kiranya dapat ditangkap bahwa iman merupakan rahmat Allah. Agar orang mampu beriman, rahmat Allah diperlukan. Dengan kata lain, rahmat Allah itu mendahului iman. Rahmat yang mendahului iman itu tak lain adalah Roh Kudus yang berperan untuk membawa manusia menyadari karya Allah dalam hatinya. Roh Kuduslah yang membuka mata budi dan menimbulkan iman pada setiap orang.Dari situ dalam DV 5 dapat dikatakan bahwa : Iman merupakan rahmat Allah, Iman juga merupakan jawaban bebas manusia terhadap Allah, Iman mengandung unsur pengertian manusia (akal budi). Dengan kata lain, dalam peristiwa iman ada 3 unsur yaitu : rahmat, akal budi dan kehendak bebas manusia. Iman mengandaikan pengertian sebab iman adalah tindakan intelektual dan sekaligus mengandaikan kehendak bebas manusia yang sangat membutuhkan rahmat. Akhirnya, KV II memaknai iman sebagai tanggapan manusia berkat bantuan Roh Kudus kepada pemberian diri Allah dalam Kristus, yang berupa penyerahan diri secara bebas kepada Allah.
Iman dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Iman yang hidup adalah iman yang berakar dan mengakar pada pengalaman hidup manusia. Iman bukanlah bentuk mati yang tinggal dikenakan, melainkan sebuah proses perjumpaan manusia dengan Allah dengan cara yang sangat manusiawi dalam gerak sejarah kehidupan. Dan iman yang hidup itu pastilah menggerakkan hidup manusia dan menimbulkan kesadaran baru. Dengan kata lain, iman sebagai tanggapan atas perwahyuan Allah tidak dapat dilepaskan dari konteks hidup manusia. Pengalaman hidup sehari-hari menjadi medan bagi manusia men-dengar dan menjawab Wahyu Allah. Sebagai contohnya : pengalaman umat Israel dibebaskan dari Mesir dan pengalaman di padang gurun selama 40 tahun. Pengalaman itu menjadikan bangsa Israel sadar bahwa Allah sungguh-sungguh setia kepada umat pilihan-Nya. Dalam pengalamannya yang konkret itu, bangsa Israel mengalami Allah yang bersabda, menyapa mereka dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dalam GS 58 dikatakan “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penam-pakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman”
Allah menyapa dan menyampaikan kabar keselamatan-Nya dalam konteks hidup dan kebudayaan khas manusia. Manusia bukan makhluk individual dan tanpa dunia yang melingkupi-nya. Dalam konteks kebersamaan dengan yang lain dan lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia beriman sebab iman bukanlah sisi kehidupan manusia yang dapat dilepaskan dari kenyataan hidup manusia sendiri. Karena itu, iman tidak dapat dipisahkan dari kebersamaan dengan yang lain. Sebab, dalam suasana hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia mengalami sapaan Allah yang menyelamatkan. Terhadap Allah yang menyapa manusia dalam konteks hidup manusia yang khas, dalam konteks hidupnya pula manusia menanggapi sapaan Allah yang menyampaikan keselamatan-Nya. Karena itu, jawaban manusia harus terwujud dalam keterlibatan yang aktif dalam perjalanan sejarah manusia, dalam kehidupan nyata yang konkret dengan berbagai persoalannya. Iman bukan lagi tanggapan yang bersifat abstrak, namun konkret dan kontekstual. Karena itu, iman haruslah menjadi kenyataan hidup yang menggerakkan manusia dari dalam. Iman harus terwujud dalam tindakan moral. Karena itu, dalam beriman secara konkret dalam konteks hidup, manusia membutuhkan terus-menerus pertolongan Roh Kudus agar mampu mengenali perwahyuan Allah dalam kenyataan hidupnya dan menjawab sapaan Allah itu secara kontekstual pula. Tujuannya adalah agar hidup manusia tetap bermakna. Tentu saja wahyu Allah bukanlah jawaban langsung atas persoalan hidup beriman, namun dalam terang dan bimbingan Roh Kudus manusia menemukan kehendak Allah.
Allah menyapa manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan manusia. Hal itu berarti Allah berkehendak menjalin relasi yang intim dan personal dengan manusia. Hubungan Allah dengan manusia adalah hubungan antar pribadi yang intim. Intimitas dan personalitas hubungan Allah-manusia itu tampak dalam diri Yesus, dalam seluruh peristiwa hidupnya. Yesus adalah Allah yang seperasaan dan sependeritaan dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Yesus adalah solidaritas Allah pada manusia. Di dalam diri Yesus, Allah menyapa dan berbicara dengan manusia dengan cara-cara yang manusiawi. Di dalam Yesus, manusia tidak lagi disebut hamba, melainkan sahabat dan menjadi anak-anak Allah berkat penebusannya yang memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitannya. Kamu adalah sahabat-Ku . . . Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. . . . Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15, 14-15).
Perwahyuan diri Allah bertujuan untuk mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, manusia masuk menjadi anggota keluarga Allah, ahli waris (Bdk. Gal. 4, 1-9). Wahyu Allah dan iman sebagai tanggapan manusia menjadi dialog yang akrab, intim dan personal antara Allah dengan manusia. Allah menyapa manusia dengan cara yang khas manusia. Dan manusia menanggapi sapaan Allah dengan cara yang khas pula seturut pengalaman hidupnya. Dan justru inilah menjadi tanda bahwa hubungan Allah dan manusia sedemikian akrab dan personal.













Chatting ma Tuhan

Chatting ma TUhan

TUHAN : Kamu memanggilku?
AKU : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi aku ingin berbincang-bincang denganmu
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk
AKU :Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU :Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU :OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN :Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah Pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu Pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU :Maksudnya Pengalaman Pahit itu berguna?
TUHAN :Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental, kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah,….
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekeja dengan waktu.
AKU : Disaat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari Manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?“.
AKU :Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya disini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses Penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan Keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doa saya tidak dijawab.
TUHAN :Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya TIDAK.
AKU : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : OKE. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah pada-Ku. Hidup itu Indah jika kamu tahu cara untuk Hidup.

Selasa, 13 Mei 2008

Makna sakramen Babtis

Sakramen Babtis
I. Makna Sakramen Babtis
Perayaan babtisan yang kita rayakan dalam Gereja memliki dasarnya yang kuat dalam praksis Gereja perdana. Kata “Babtis” berasal dari kata Yunani baptizein baptizein yang berarti membenamkan, mencemplungkan atau menenggelamkan ke dalam air, entah seluruhnya atau sebagian.

a. Tradisi Israel
Tradisi Israel mengenal macam-macam pentahiran (im 11-15), termasuk pentahiran menggunakan percikan air (Bil 19,17-22), mandi si sungai (2 Raj 5, 14). Aneka ritus pentahiran yang menggunakan air pada orang Yahudi ini terutama berkembang sejak zaman sesudah pembuangan. Ritus pembersihannya sangat rinci dan rumit untuk orang Yahudi yang mengalami kenajisan seperti menyentuh mayat, orang yang sakit kusta, binatang haram, dsb. Pembasuhan diri sebagai upacara pentahiran dengan menenggalamkan diri dalam air yang bersih dan mengalir ini pada tradisi Yahudi merupakan upacara yang dapat diulang-ulang. Ini berkembang menjadi ritus pembabtisan untuk kelompok Eseni. Dengan babtisan ini, mereka memandang diri sebagai orang-orang atau kelompok terpilih. Ini menjadi semacam inisiasi bagi orang-orang non-Yahudi yang ingin menjadi orang atau warga Yahudi. Kaum proselit itu menjalani ritus babtisan selain juga harus menjalani sunat yang merupakan syarat pokok untuk masuk ke dalam kalangan religius Yahudi. Babtisan Proselit hanya dilakukan sekali saja dan tidak dapat diulangi.

b. Babtisan Yohanes Pembabtis.
Dari segi upacara, babtisan Yohanes seperti babtisan preseit tidak dapat diulang, tetapi berbeda dari babtisan proselit, babtisan Yohanes itu bukan babtisan oleh diri sendiri. Babtisan Yohanes ialah babtisan yang diterimakan oleh Yohanes sebagai nabi utusan Allah. Jadi orang dibabtis oleh orang lain, yakni Yohanes. Babtisan Yohanes merupakan babtisan unutk pengampunan dosa. Pertobatan yang diserukan oleh Yahanes ini tertama berkaitan denagn persiapan diri akan kedatangan Kerajaan Allah (Mat 3, 1-12). Yesus juga merelakan diri dibabtis oleh Yohanes. Dalam Gereja perdana, muncul suatu perselisihan antara murid-murid Yohanes dan murid-murid Yesus Kristus (mat 9,14; Luk 11,1) mengenai siapa yang terbesar diantara dua tokoh ini. Dengan membiarkan diri dibabtis oleh Yohanes, terdapat kesan bahwa tokoh Yohanes lebih besar daripada tokoh Yesus. Padahal, kita memahami bahwa dalam lingkungan kristiani, tokoh Yesus pastilah lebih besar daripada siapapun juga, termasuk Yohanes. Ada dua alasan mengapa Yesus mau dibabtis oleh Yohanes. Pertama, Yesus mau menemparkan diri sebagai pribadi yang ikut menantikan Kerajaan Allah pada akhir zaman. kedua, Yesus mau menunjukkan solidaritas pada bangsa-bangsa yang membutuhkan penyelamatan dari Allah (mat. 3,15).

c. Gereja perdana jelas mempraktikan babtisan kristiani bagi mereka yang mau bergabung ke dalam kelompok murid ( kis 2, 38-41; 8,16; 10,48; 1 kor 12,13). Babtisan kristiani berbeda dengan babtisan proselit karena babtisan kristiani merupakan babtisan yang dilakukan oleh orang lain sebagai pelayannya. Babtisan Kristiani dilakukan dalam nama Yesus Kristus (Kis 2, 38; 10,48) atau dalam nama Tuhan Yesus (kis 8,16).

d. Makna teologi babtisan dalam Perjanjian Baru:
1. Babtisan sebagai tanda iman. Babtisan itu mengandaikan iman dan di lain pihak iman dari orang yang dibabtis harus dihidupi dan dikembangkan dalam seluruh hidupnya (Mat 28,19).
2. Babtisan sebgai penyerupaan pada Yesus Kristus. Dengan babtisan ini, kita menjadi serupan dengan Yesus Kristus (kis 2,38;10,48).
3. Babtisan sebagai pengampunan dosa. Makna babtisan sebagai karunia pengampunan dosa tampak dalam kata-katak st. Petrus “bertobatlah dan hendaklak kamu masing-msing memberi dirimu dibabtis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa (Kis 2, 38).
4. Babtisan mengaruniakan Roh Kudus. Melalui babtisan, kita menerima karunia Roh Kudus. Karunia Roh Kudus memampukan para rasul mengalami Tuhan yang bangkit dan membuat mereka bisa berbicara dengan macam-macam bahasa sehingga semua orang bsia mengerti pewartaan Injil itu (Kis 2,4.8-11).
5. Babtisan mempersatukan kita ke dlaam satu tubuh: Gereja. Melaui babtisan, Gereja dibangun dan tubuh, memasukan setiap pribadi ke dalam suatu relasi orang-orang Kristiani yang memiliki martabat yang sam adan hidup menurut jiwa solidaritas sebagaimana tampak dalam Kis 2, 41-47.
6. Babtisan sebagai karunia hidup baru. Yohanes mengembangkan gagasan babtisan sebagai kelahiran baru. Melalui babtisan, seseorang dilahirkan kembali dalam roh. Ia dikaruniai hidup baru dan sepanjang hidupnya, ia harus mewujudkannya dalam gaya hidup dan tindakannya sehari-hari.

II. Babtisan dalam praksis dan ajaran Gereja
1. Gereja sejak awal menyadari bahwa iman dan hidup sebagai murid merupakan suatu proses pertumbuhan yang berlangsung lama dan membutuhkan bantuan struktural. Artinya orang yang sudah dibabtis maupun orang yang belum dibabtis dan ingin dibabtis perlu mendapat pelajaran dan bimbingan mengenai iman Gereja.
2. Ajaran dan praktik babtisan pada zaman bapa-bapa Gereja masih terus mengembangkan seuruh warisan pemahaman biblis terhadap babtisan.
3. Perkembangan baru terjadi dengan ritus babtisan dan inisiasi umumnya yang ditandai dengan terbentuknya model tahapan dalam babtisan dan inisiasi.
a. Orang-orang yang ingin menjadi kristiani harus menjalani masa katekumenat yang berlangsung selama 3 tahun.
b. Beberapa minggu sebelum malam paska merupakan masa persiapan intensif untuk persiapan babtis.
c. Perayaan dan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi dilangsungkan dalam perayaan liturgi malam paska.
d. Pada masa paska, warga gereja yang baru ini menjalani masa mistagogi, yaitu masa untuk memperdalam, memantapkan, dan menghayati iman akan misteri Kristus, serta membiasakan diri pada kebiasaan dan tradisi Gereja.
4. Pada abad IV-V, ada pergeseran perhatian teologis dari penerima babtisan bergeser ke masalah pelayan babtisan. Ini berkembang karan ada masalah dengan donatisme yang menolak keabsaah babtisan yang diberikan oleh orang-orang berdosa dan diskusi yang ramai mengenai dosa asal. Ada pelagianisme yang menolak paham dosa asa.
5. Ada kelompok orang-orang armenia yang ingin bergabung ke Gereja Katolik. Pada konsili florenz( 1439) menyampaikan ajarannya mengenai sakramen babtis yang dipahami sebagai pintuk gerbang kepada kehidupan rohani karena dengan babtisan kita menjadi anggota Kristus dan ditambahkan ke tubuh Gerea. Konsili ini mengungkapkan tentang daftar materia dan forma sakramen babtisan, juga macam rahmat sakramenyang diberikan serta kepada siapa yang dapat menjadi pelayannya.
6. Sejak abat 20 mulai berkembang secara pelan suatu penyerdehanaan ritus inisiasi di Gereja Barat. Pada abad ini juga berkembang gerakan di bidang liturgi, teologi, dan bahkan berbagai bidang kehidupan Gereja. Babtisan dan Krisma merupakan sakramen yang tak terpisahkan dari inisiasi Kristiani yang bersama dengan Ekaristi menjadi sakramen inisiasi yang utuh.
7.
III. Refleksi sistematis: Makna Teologis Sakramen Babtisan
1. Babtisan mempersekutukan kita dengan Yesus Kristus. Babtisan memasukkan seseorang dalam relasi intim dengan Yesus Kristus, ke dalam seluruh peristiwa Yesus Kristus (rm. 6,1-14).
2. Babtisan mempersekutukan kita dengan Allah Tritunggal. Dengan senasib dan bersekutu dengan Yesus Kristus, kita diperskutukan dengan Allah Tritunggal sendiri. Melalui babtisan, kita dimasukkan ke dalam komunitas kasih trinitaris, yaitu dialog kasih antara Bapa dan Putra yang berlangund dalam Roh Kudus. Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati kita memungkinkan kita untuk bisa mengalami persekutuan dengan hidup internal dari Allah Tritunggal.
3. Babtisan memasukkan kita ke dalam persekutuan Gereja. Dengan babtisan, seseorang dimasukkan ke dalam Gereja. Denagn dibabtis, seseorang diterima sebagai anggota baru Gereja. Babtis meliputi dua macam gerak, yaiitu realitas komunikasi dan perjumapaan. Seseorang dimasukkan ke dalam Gereja sekaligus Gereja menjadi hidup dan tumbuh dalam diri orang tersebut.
4. Babtisan sebagai ikatan kesatuan ekumenis. Dengan babtisan, kita dipersatukan dengan seluruh umat beriman yang menerima rahmat tahbisan.
IV. Nama Permandian
Nama babtis mempunyai tiga arti, yaitu:
1. Agar keutamaan, kesucian, dan keteladanan orang suci itu terpancar pada orang atau anak itu.
2. Agar orang suci itu membantu orang atau anak itu melalui doa dan relasi khususnya dengan orang tersebut, sehingga orang itu dapat hidup pantas bagi Allah.
3. Nama babtisan itu juga merupakan simbol hidup baru yang diterimanya melalui babtisan.

Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus

Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus
Dialog dengan tradisi-tradisi Kristiani memberikan kesaksian iman mengenai perjumpaan dengan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus. Umat beriman kristiani berjumpa dengan orang-orang yang memberikan kesaksian iman.
[1] Melalui proses mendengarkan, iman kita dilahirkan dan dikembangkan. Di sini, tradisi-tradisi kristiani dimengerti secara luas, yaitu semua saja yang menampilkan kesaksian mengenai Yesus Kristus, seperti ajaran Gereja, pemikiran teologis, spiritualitas, praksis Gereja dan terutama Kitab Suci. Dari tradisi-tradisi Kristiani ini pula, kita sampai pada perumusan ajaran iman mengenai siapa Yesus bagi umat Kristiani, yang direfleksikan dalam konteks pengalaman manusiawi mengenai Allah.
Pengalaman dan pemahaman manusia mengenai Allah terjadi dalam dunia melalui suatu mediasi, entah itu peristiwa, orang, situasi, teks-teks kitab suci ataupun benda-benda. Mediasi tersebut dapat disebut gelar religius. Sebagai kenyataan dalam dunia ini, gelar religius mempunyai sifat terbatas, tetapi menunjuk yang mengatasinya, yaitu Allah yang transenden dan tak terbatas. Yang tak terbatas dialami dalam dan melalui gelar religius yang terbatas. Gelar religius terbatas ini memang menunjuk keseluruhan dari Yang tak terbatas, tetapi sekaligus juga mengkhususkan, memfokuskan, mentematisasikan dan membatasi. Allah mewahyukan diri kepada manusia dalam dunia. Gelar-gelar mengenai Yesus muncul dari hidup manusia dalam dunia ini, bahkan dalam konteks tertentu pula. Pemahaman mengenai Yesus Kristus sekaligus juga pemahaman mengenai eksistensi manusia dalam hubungan dengan Yesus Kristus.

1.1 Nabi
[2]
Yesus dikenal sebagai seorang nabi (Mat. 21,11; Lk. 7, 16; 24,19; Yoh 4,19;9,17). Yesus sendiripun berkata mengenai diriNya, “Seorang nabi di hormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara keluarganya dan di rumahnya” (Mk 6,4; Lk. 4,24; Yoh 4,44). Pengalaman Yesus pada saat permandian (Mat 3,13-17) dapat dipandang sebagai pengalaman panggilan seorang nabi (Yes 6,1-10)[3]. Yesus telah berkiprah sebagai seorang yang memiliki kuasa (eksousia) yang pasti merupakan ciri kenabian. Di dalam tradisi alkitabiah, kewibawaan seorang nabi diakui dan diterima apabila ia dikuasai oleh Roh Allah. Penampilan Yesus mengingatkan orang akan tokoh Perjanjian Lama maupuan akan Yohanes Pemandi yang juga disebut “nabi” (Mat 11,9; 14,15; Luk 1,76).
Pada waktu kaum keluarga Yesus dan orang-orang lainnya kuatir bahwa Yesus sudah tidak waras atau bahwa ia mungkin telah dirasuki setan, Ia menanggapi dengan memuji dan memuliakan kehadiran Roh Kudus dan kehendak Allah (Mk. 3, 21-35). Karena Yesus dikenal tidak hanya sebagai seorang nabi, tetapi sebagai seorang nabi akhir zaman, sebagai Dia yang memberitakan telos (maksud akhir) dan finis (tujuan akhir) Allah dan sebagai Dia yang mendatangkan dan mewujudkan “tindakan akhir Allah yang paling menentukan untuk menyelamatkan umatNya. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah dan meminta tanggapan iman, tetapi Ia juga telah mempertaruhkan hidupNya sendiri dengan menempuh bahaya demi kebenaran yang menjadi isi amanatNya.

1.2 Anak Manusia
[4]
Dalam Perjanjian Baru, Kata “Anak Manusia” dipakai sebanyak 82 kali, yaitu 67 daripadanya injil synoptik, 13X dalam Yohanes, dan Kis 7:56, Why 14:14.[5] Kata Anak Manusia dipakai oleh Yesus sendiri dalam arti “saya”. Kadang-kadang dalam teks-teks paparel memang ditulis “saya” ganti “Anak Manusia” (Luk 12,8; Mat 10,32). Banyak ahli berpendapat bahwa sebutan Anak Manusia berasal dari Yesus sendiri. Dalam Mrk 14,62, Anak Manusia terang mempunyai arti mesias, dan barangkali ayat itu dirumuskan dengan pertolongan Dan 7,13. R. Bultmann membedakan tiga sabda mengenai Anak Manusia:
1. Anak Manusia yang akan datang, khususnya sebagai hakin dimasa yang akan datang,
2. Anak Manusia yang bersengsara, teristimewa yang disebut dalam ramalan sengsara,
3. Anak Manusia yang berkarya di dunia, biasanya penuh kuasa.
Secara umum boleh dikatakan bahwa Yesus berbicara mengenai dirinya sendiri dengan mempergunakan sebutan Anak Manusia. Fakta bahwa Gereja Purba tidak mempergunakan Anak Manusia sebagai gelar kristologis merupakan argumen yang kuat untuk mempertahankan bahwa sebutan itu berasal dari Yesus. Kalau Yesus menyebut dirinya dengan sebutan Anak Manusia, apa artinya? Jawaban harus dicari dalam pewartaan Yesus sendiri, yakni pewartaanNya mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjadi begitu sentral dalam pewartaan Yesus, sehingga hidup dan pribadi Yesus harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah. Anak Manusai harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah itu. Dapat dikatakan bahwa sabda mengenai Anak Manusia datang atau dari Yesus sendiri atau dari jemaat purba. Anak Manusia adalah gelar eskatologis, dan sangat tidak jelas baik artinya ataupun asal-usulnya. Teks tentang Anak Manusia terdapat dalam: Mt 9,6; 12,8; 17,8;25,18, Mrk 2,10, 8,31; 9,9, Luk 5,24; 6,5; 9,22, Yoh 1,51; 3, 13; 5,27.

1.3 Anak Allah
[6]
Dalam Perjanjian Baru, ada dua cara pemakaian sebuatan Anak Allah: atau sebagai semacam gelar atau sebagai ungkapan relasi khusus Yesus dengan Allah. Anak Allah mempunyai arti gelar, langsung kelihatan dari perbandingan teks-teks ini: Yoh 1,49; Luk 4,41; Kis 9, 20-22. Melalui teks-teks ini kelihatan bahwa “mesias” (=kristhos) disebut Anak Allah. Gelar Anak Allah umum dipakai di dalam lingkungan Yunani-Romawi dan diterapkan pada diri kaisar atau dewa-dewa kafir. Dalam tradisi Israel gelar Anak Allah diterapkan untuk raja (2Sam 7,14) dan untuk Israel (Kel 4,22).
Dalam Perjanjian Baru, sebutan Anak Allah mempunyai dua arti, yaitu sebagai gelar dan relasi Yesus dengan Allah
[7]. Sebagai gelar kebesaran, sebutan Anak Allah menunjukkan keluhuran Yesus (bdk. Ki 13:32-33). Keluhuran itu terutama menunjuk pada pengalaman paska. Lewat pengalaman paska, pandangan para murid akan Yesus makin transenden, makin dimuliakan dan diilahikan. Gelar Anak Allah juga merupakan pengakuan iman khas kristiani, namun bukan dalam arti julukan kehormatan (Yoh 20,31). Dengan sebutan Anak Allah, mau ditunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Dalam konteks ini sebutan Anak Allah, pertama-tama mau menunjuk hubungan Yesus dengan Allah (Mt 11, 27; Luk 10, 22). Relasi khusus Yesus dengan Allah ini nampak jelas dengan menyebut Allah sebagai Bapa (Yoh 5,17).
1.4 Kristus
[8]
Kata “Kristus” (Yunani “Christos”, Ibrani “Mesias”) mempunyai arti ‘yang terurapi’.
[9] Kata ini berasal dari Perjanjian Lama dan Yudaisme. Gelar itu dipakai bagi raja-raja yang duduk di atas tahta Daud dan mempunyai warna politis. Meskipun seroang raja Israel diurapi oleh manusia, namun pengurapan itu dilihat sebagai tindakan Allah (1Raj 9,3). Dengan pengurapan itu, diungkapkan pemberian Roh Tuhan sebagai mesias (Yes 61). Pada perkembangan sejarah Kerajaan Israel, dimana tidak ada raja yang memenuhi harapan, sebutan Kristus/Mesias diarahkan kepada raja yang ideal. Disinilah muncul pemahaman mesias eskatologi, yakni raja ideal yang diharapkan pada akhir zaman. Janji akan kedatangan mesias itu beragam. Deuteroyesaya melukiskan mesias itu sebagai “hamba yang bersengsara” (Yes 53), dalam Dan 7, 11 mesias adalah Anak Manusia.
Dalam Perjanjian Baru gelar Kristus dikenakan pada Yesus. Ini mau menunjukkan fungsi, misi, tugas Yesus yang merupakan jawaban terhadap situasi fundamental. Yesus tidak pernah menyebut diri-Nya Mesias. Dalam Perjanjian Baru ada tiga teks yang menampilkan aspek mesianis Yesus:
1. Tulisan pada salib (Mrk 15, 26). Orang Romawi memandang Yesus sebagai mesias dalam arti politis yang memberontak.
2. Yesus dihadapan mahkamah agama (Mrk 14, 53-65)
3. Pengakuan Petrus (Mrk 8, 27-33).
Teks ini yang paling jelas bicara mengenai mesianitas Yesus. Mesias yang dimaksud adalah “Anak Manusia yang menderita sengsara dan ditolak oleh tua-tua dan para imam lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8,31). Gelar Kristus bagi Yesus secara khusus berkaitan dengan peristiwa salib dan wafat-Nya. Saat penyaliban, istilah Kristus hanya sebagai ejekan (Mrk 15,32), namun setelah peristiwa kebangkitan, para murid memaknainya sebagai nama kehormatan dan kemuliaan.

1.5 Tuhan
[10]
Kata “Tuhan” merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “Kyrios”. Kata ini dipakai untuk menyebut pemilik, tuan, majikan, penguasa yang memerintah raja-raja. Dalam arti kyiros tidak mempunyai arti religius. Tetapi dalam dunia Yunani, kyrios juga memiliki makna religius, yakni untuk menunjuk para dewa-dewi yang memiliki kuasa dan hak atas hidup manusia. [11]
Dalam terjemahan Perjanjan Lama, kata Tuhan biasa digunakan untuk menyebut Allah, sebab Israel juga mengenal penggunaan kata ‘tuan’, ‘tuhan’ untuk menunjuk para pemilik tanah, raja atau majikan. Dalam bahasa Ibrani istilah itu dipakai kata adonai, adon. Adonai mau mengungkapkan diri Allah yang memiliki bangsa Israel dan juga menguasai langit dan bumi, sebab Dia adalah Sang Pencipta yang kemuliaan-Nya memenuhi ciptaan-Nya (Mzm 114,7 Yes 1,24; 3,1).
Dalam Perjanjian Baru, kata Tuhan dikenakan untuk gelar Yesus. Gelar Tuhan adalah gelar kebangkitan. Tulisan Paulus cukup konsekuen dalam menggunakan gelar ini. Gelar Tuhan pertama-tama digunakan untuk Dia yang dibangkitkan atau Dia yang mulia dan ditinggikan karena kebangkitan. Flp 2, 9-11, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengurniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut…”
Dalam Gereja Perdana, sebutan Tuhan dikenakan pada Yesus. Jemaat kristen sadar bahwa Yesus yang menderita dan wafat di salib itu kini bangkit dan ditinggikan oleh Allah menjadi Tuhan. Sebaga Tuhan, kini Yesus mempunyai kuasa bumi atas langit (Mt 28,18). Dalam tardisi PL, kuasa itu hanya dimiliki Allah. Sebagaimana Allah adalah penyelamat, kini Yesus di dalam Allah yang bertindak dan menyelamatkan (Yoel 2,32, Rm 10,9). Maka dengan sebutan Tuhan, Yesus mau disejajarkan dengan Allah sendiri yang berkuasa dan sebagai penyelamat. Yesus sebagai Tuhan bagi jemaat kristiani menjadi pokok keselamatan (Ibr 5,9) dan pusat Gereja.


[1] JB. Banawiratma. “Kristologi dalam Pluralisme Religius” dalam Orientasi Baru… 75-76.
[2] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 27-28
[3] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 51
[4] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 96-98.
[5] Tom Jacobs. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru… 147-150
[6] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 32-35
[7] Tom Jacobs. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru… 96, 145-147.
[8] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini… 30-32
[9] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 76-77.
[10] A. Roy Eckardt. Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini…29-30
[11] Tom Jacobs. Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman Akan Yesus Kristus… 104-105