Kamis, 29 Mei 2008

Sambut hari ini dengan kasih

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Karena ini merupakan rahasia sukses yang paling besar dalam semua usaha. Otot dapat merobek perisai, bahkan dapat membinasakan kehidupan, akan tetapi hanyalah kekuatan kasih yang tak tampak dapat membuka hati manusia dan sebelum saya menguasai seni ni, saya akan tetap tidak lebih daripada seorang insan biasa. Saya akan membuat kasih senjata saya yang paling ampuh dan tiada seorang yang saya kunjungi dapat mempertahankan dirinya melawan ini.

Pikiran saya mungkin mereka bantah. Pidato saya mungkin dicurigai, pakaian saya mungkin dicela, wajah saya mungkin ditolak, bahkan penawaran-penawaran saya dicurigai; namun kasih saya akan melelehkan semua hati seperti sinar matahari dapat melembutkan tanah liat yang paling dingin.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah kalau saya lakukan in? Mulai sekarang saya akan melihat semua benda dengan kasih dan saya akan dilahirkan kembali. Saya akan mengasihi matahari karena matahari menghangatkan tulang-tulang saya; namun saya akan mengasihi hujan karena hujan itu membersihkan saya. Saya akan mengasihi cahaya karena cahaya itu menunjukkan jalan kepada saya; namun saya akan mengasihi kegelapan karena kegelapan itu memperlihatkan bintang-bintang kepada saya. Saya akan menyambut kebahagiaan karena kebahagiaan itu memperbesar hatiku, namun saya akan memikul kesedihan karena kesedihan membuka hati saya. Saya akan mengakui penghargaan dan pahala oleh karena penghargaan dan pahala itu adalah hak saya. Namun saya akan menyambut rintangan-rintangan itu karena itu merupakan tantangan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus berbicara? Saya akan menyanjung musuh-musuh saya dan mereka akan menjadi teman-teman saya. Saya akan membesarkan ahti dan mendorong teman-teman saya; dan mereka akan menjadi saudara-saudara saya. Saya akan senantiasa menggali sebab-sebab untuk bertepuk tangan; saya sekali-kali tidak akan mencari alasan-alasan untuk memfitnah. Bilamana saya digoda untuk mengecam, saya akan menggigit lidah saya; bilamana saya digerakkan untuk memuji saya akan bersorak-sorai dari atas atap.
Apakah tidak demikian sehingga burung-burung, angin, laut dan alam semesta berbicara dengan musik pujian bagi pencipta mereka tidak dapatkah saya berbicara dengan musik yang sama kepada anak-anakNya? Mulai sekarang saya akan mengingat rahasia ini dan rahasia itu akan mengubah hidup saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimanakah saya harus bertindak? Saya akan mengasihi semua jenis manusia sebab setiap orang mempunyai sifat-sifat yang dapat dikagumi sungguhpun sifat-sifat tersebut tersembunyi. Dengan rasa kasih, saya robohkan tembok kecurigaan dan kebencian yang telah dibangun di sekeliling hati mereka dan disana saya akan bangun jembatan-jembatan sehingga rasa kasih saya dapat memasuki jiwa mereka.
Saya akan mengasihi orang-orang yang mempunyai ambisi karena mereka dapat mendorong saya. Saya akan mengasihi orang-orang yang gagal karena kegagalan-kegagalan itulah yang dapat mendidik dan memberi pengajaran kepada saya. Saya akan mengasihi raja-raja karena mereka itu tetap hanyalah manusia. Saya akan mengasihi mereka yang lembut karena mereka itu bersifat ketuhanan. Saya akan mengasihi mereka yang kaya karena mereka itu masih merasa sunyi. Saya akan mengasihi mereka yang miskin karena merekalah yang banyak. Saya akan mengasihi orang-orang muda karena kepercayaan yang dimiliki mereka. Saya akan mengasihi orang-orang tua karena kebijaksanaan yang mereka bagikan. Saya akan mengasihi orang-orang cantik karena mata mareka memancarkan kesedihan. Saya akan mengasihi orang-orang yang buruk karena kedamaian jiwa mereka.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Tetapi bagaimanakah saya bereaksi terhadap tindakan-tindakan orang lain? Dengan kasih. Hanya kasihlah yang menjadi senjata saya untuk membuka hati orang-orang. Demikian pula kasih itu menjadi perisai saya untuk menolak anak panah kebencian dan tombak-tombak kemurkaan. Kesengsaraan dan keputusasaan akan memukul melawan perisai baru saya dan menjadi seperti hujan yang paling lembut. Perisai saya akan melindungi saya dan mempertahankan saya bilamana saya seorang diri. Perisai saya akan mengangkat saya dalam waktu-waktu keputusasaan, namun perisai saya itu akan menenangkan diri saya dalam waktu kegembiraan yang meluap-luap. Perisai saya itu akan menjadi kuat dan akan lebih melindungi saya sampai pada suatu hari saya akan membuangnya ke samping dan berjalan tanpa beban diantara orang-orang dimana sifat dan sikap mereka berbeda-beda dan bila menghendakinya, nama saya akan terangkat tinggi-tinggi ke atas piramida kehidupan saya.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Dan bagaimana saya akan menghadapi orang-orang yang bertemu dengan saya? Hanya dengan satu cara. Dalam hati dan kepada saya sendiri saya akan sapa orang itu sambil mengucapkan saya mengasihi anda. Biarpun diucapkan dalam batin kata-kata itu akan bersinar dalam mata saya, akan menghilangkah kerutan pada dahi saya, membawa senyuman kepada bibir saya, gema dalam suara saya dan hatinya akan dibuka. Dan siapakah disitu yang akan mengatakan TIDAK kepada saya bilamana hatinya merasakan kasih saya?

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Terutama saya akan mengasihi diri saya sendiri. Sebab bila saya mengasihi diri saya sendiri saya akan dengan tekun memeriksa segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saya, pikiran saya, jiwa saya, dan hati saya. Saya tidak akan pernah menurut secara berlebihan kehendak tubuh saya, lebih baik saya akan menghargai tubuh saya dengan kebersihan dan kesederhanaan. Saya takkan membiarkan pikiran saya tertarik pada kejahatan dan keputusasaan lebih baik meningkatkan pikiran saya dengan ilmu dan pengetahuan. Saya tidak akan memperbolehkan jiwa saya menjadi puas dan senang, lebih baik saya memberikan makanan kepada jiwa saya dengan meditasi dan doa. Saya tidak akan membolehkan hati saya menjadi kecil dan pahit, lebih baik saya membagikan hati saya dan hati saya itu akan tumbuh dan menghangatkan bumi.

Saya akan menyambut hari ini dengan rasa kasih dalam hati saya.
Mulai sekarang saya akan mengasihi seluruh umat manusia. Mulai saat ini semua rasa benci telah keluar dari semua pembuluh darah saya karena saya tak ada waktu untuk membenci, hanya ada waktu untuk mengasihi. Mulai saat ini saya akan mengambil langkah pertama yang perlu untuk menjadi seseorang diantara orang-orang. Dengan kasih saya akan meningkatkan nilai saya seratus kali lipat dan akan menjadi INSAN LUAR BIASA. Tanpa semuanya ini, saya akan gagal sungguhpun saya memiliki semua ilmu pengetahuan dan ketrampilan di dunia.

Saya akan menyambut hari ini dengan RASA kasih dan Saya akan SUKSES.





Iman dan Wahyu

Gereja yang hidup adalah Gereja yang menjadikan seluruh perjalanan hidup di dunia ini sebagai medan beriman. Pengalaman hidup sehari-hari merupakan medan manusia untuk berjumpa dan berelasi dengan Allah. Dalam pengalaman hidupnya, manusia mengalami Allah yang menyapa dan campur tangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, dalam konteks pengalaman hidupnya, manusia menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah mengandaikan kesalingan dua hal. Di satu sisi, Allah mewahyukan diri kepada manusia dengan cara yang di-tangkap oleh manusia. Di sisi yang lain, manusia menanggapi per-wahyuan yang ditangkapnya dengan menyatakan imannya.
Allah dan manusia menjadi subyek dalam relasi ini. Dari sudut wahyu, Allah-lah yang menjadi subyeknya, dan dari sudut iman manusia-lah yang menjadi subyeknya. Dengan kata lain, tesis ini hen-dak berbicara tentang jalinan komunikasi antara Allah dengan manusia yang khas manusiawi.
Perwahyuan Allah bermula dari kehendak Allah sendiri yang mengalir dari kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mewahyukan diri, Allah berkehendak untuk menyapa dan menyatakan rahasia kehendak-Nya. Allah menjumpai manusia dan menjalin relasi yang akrab dengan ma-nusia. Pada puncaknya, dengan perwahyuan-Nya itu, Allah mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Dengan kata lain, Wahyu Allah merupakan komunikasi Allah yang mengajak manusia berpartisipasi. Wahyu Allah merupakan pernyataan diri Allah tentang diri-Nya sendiri kepada manusia dan mengajak manusia untuk menanggapinya (partisipasi).
Apa isi wahyu? Isi wahyu adalah diri Allah sendiri. Dalam wahyu, Allah menyatakan diri-Nya sendiri berserta seluruh rencana keselamatan-Nya Allah mengkomunikasikan dirinya sendiri kepada manusia.
Dan karena yang dikomunikasikan itu sifatnya personal, diri Allah sendiri, maka komunikasi itu menjadi personal. Karena itu, wahyu Allah merupakan tindakan diri Allah sendiri.Berikut ini inti pokok dalam DV 2 tentang bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya :
Titik awal wahyu adalah Allah sendiri. Pelaku wahyu adalah Allah dan isi wahyu adalah diri Allah sendiri dan misteri kehendak-Nya. Wahyu adalah gerak hidup ilahi Allah. Kristus menjadi jalan masuk manusia kepada Allah melalui seluruh peristiwa hidup-Nya dan berkat dorongan Roh Kudus. Partisipasi manusia terjadi melalui Kristus dalam Roh Kudus. Di dalam Kristus, manusia berjumpa dengan Allah yang menyapa. Kristus merupakan kepenuhan perjumpaan manusia dengan Allah. Dengan mewahyukan diri-Nya Allah menjumpai manusia sebagai sahabat-Nya untuk melibatkan manusia dalam hidup Allah sendiri. Wahyu Allah itu terungkap dalam kata dan perbuatan Allah yang dapat ditangkap oleh manusia. Kata dan perbuatan itu menggambarkan dan menerangkan isi wahyu yang misteri. Wahyu bukan diwariskan dari masa lampau, melainkan Allah yang menjumpai dan menyapa manusia secara personal.
Dalam PL, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah melalui Taurat (Yer 31,33; Ul 30,16) dan warta para nabi (Yer 1,9; Ibr 1,1) serta tanda-tanda alam (Panggilan Musa, Kel 3) .Dalam PB, wahyu dipahami sebagai pernyataan diri Allah dalam Yesus Kristus (Yoh 14, 8-14; Mat 11, 25-27; Luk 10, 21-21-24). Dalam Kis : kabar gembira mengenai Yesus Kristus (Kis 3, 17-26). Paulus : pewartaan kabar gembira tentang rencana keselamatan Allah yang tidak dari perkataan manusia, namun dari Allah (1Tes 2,13), misteri rahasia Allah yang terlaksana dalam Kristus Yesus (Ef 3, 8-12), dalam Yesus berdiam secara jasmaniah kepenuhan ke-Allah-an (Kol 2,9).
Allah yang tak kelihatan dan tak mampu dijangkau oleh manusia, menyapa manusia dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam mewahyukan diri-Nya Allah menggunakan cara-cara yang dapat ditangkap oleh manusia yang hendak disapanya. Dengan kata lain perwahyuan diri Allah tertangkap dalam ruang dan waktu manusiawi dan sekaligus berarti terjadi dalam proses, tahap demi tahap. Sejarah merupakan medan kehidupan sekaligus kehidupan manusia. Dalam Surat kepada orang Ibrani 1,1-2, tentang perantara Allah dalam mewahyukan diri-Nya dikatakan : “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Dalam kutipan itu dikatakan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya dalam dua cara, yaitu 1) dengan perantaraan para nabi dan 2) dengan perantaraan Anak-Nya. Keduanya terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Perwahyuan Allah dalam sejarah melalui para nabi dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Dan perwahyuan Allah dalam sejarah melalui Anak-Nya dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru.
Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan para nabi “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr1,1). Sejarah perwahyuan diri Allah dalam perjanjian Lama dimulai dengan perwahyuan diri Allah kepada Abraham. Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham (Kej 15, 18) dan kemudian dengan bangsa Israel melalui Musa (Kel 24,8). Allah menjadi Allah bangsa Israel dan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya. Dengan mengangkat bangsa Israel ini menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang dipilih-Nya Allah menyatakan diri-Nya dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dan di masa selanjutnya terus menerus Allah menyampaikan kehendaknya melalui para nabi.
Dalam DV 3 dikatakan : “Sesudah para Bapa bangsa, Ia membina bangsa itu (Israel) de-ngan perantaraan Musa dan para Nabi supaya mereka mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, Bapa Penyelenggara dan hakim yang adil, dan supaya mereka mendambakan Penebus yang dijanjikan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perwahyuan diri Allah dan rencana keselamatan-Nya terus menerus dikatakan. Dan perwahyuan diri Allah kepada para Bapa bangsa dan para nabi itu penuh sebab kepada mereka Allah telah menyatakan Diri dan rencana keselamatan-Nya. Perwahyuan diri Allah dengan perantaraan Anak-Nya. Dalam DV 2 tentang hali ini dikatakan : “Melalui wahyu itu, kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menjadi pengantara dan kepenuhan wahyu”. Dan dalam Ibr 1,2 dikatakan : “Pada zaman akhir ini ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anaknya”.
Yesus Kristus adalah puncak dan pemenuhan wahyu Allah. Di dalam Kristus, Allah yang menyapa manusia dan rencana keselamatan-Nya mencapai kepenuhannya. Sebab, “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1,19). Di dalam Yesus, perwahyuan Allah itu tidak lagi menjadi suatu rencana keselamatan melainkan justru Yesus Kristuslah keselamatan Allah sendiri. Dalam diri Kristus perwahyuan Allah kepada manusia mencapai puncak dan keakrabannya dan kedekatannya. “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan” (Kol 2,9). Kesempurnaan kepenuhan wahyu datang dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak hanya menyampaikan firman Allah (Yoh 3,34). Yesus Kristus adalah Sang Firman Allah sendiri (Yoh 1,1; Why 19,13). Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah pernyataan Allah sendiri. Dalam diri Yesus Allah memberikan diri secara penuh kepada manusia. Yesus mewujudkan wahyu Allah dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Karena itu, inkarnasi Yesus Kristus, seluruh perjalanan hidup, nasib, karya dan memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya menjadi tanda jelas bahwa wahyu Allah itu terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14,9).Dengan demikian, dalam diri Yesus Kristus dengan seluruh peristiwa hidup-Nya merupakan keselamatan Allah, yaitu kesatuan antara Allah dan manusia. Allah memerosotkan diri-Nya dan menggunakan cara-cara manusiawi agar dapat menyatakan diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia.
Perwahyuan Allah adalah tindak Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya. Dan komunikasi Allah yang mencapai kepenuhan-Nya dalam Yesus Kristus itu menjadi langkah bagi Allah untuk menyapa manusia. Ia tidak pertama-tama memerintah, melainkan mengajak manusia berkomunikasi dan mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Komunikasi Allah mengundang manusia untuk tidak hanya diam saja, tetapi perwahyuan diri Allah mengundang manusia dalam percakapan yang intim dengan Allah. Maka dikatakan dalam DV 2 “dari kelimpahan kasihnya, (Ia) menyapa manusia sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka”. Manusia disapa Allah sebagai sahabat-sahabat-Nya. Karena itu, perwahyuan diri Allah merupakan komunikasi Allah yang dialogis di mana Allah memberikan diri-Nya kepada manusia dan manusia menerima pemberian diri Allah itu. Pemberian diri Allah itu, penuh dalam Yesus Kristus yang tinggal di tengah-tengah kita. Dalam iman, manusia mendengar serta menjawab sapaan itu dalam konteks hidupnya.Dengan dan karena iman manusia mampu mendengar dan menjawab sapaan Allah. Apa yang dimaksud dengan iman?
Kata ‘iman’ merupakan terjemahan dari kata pistis (Yunani), fides (Latin), dan faith (Inggris) yang berarti kepercayaan, keyakinan dan penerimaan wahyu Allah. Dalam konteks teologi “iman” dan “percaya” dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan manusia dengan Allah, utamanya dengan menerima wahyu. Iman dalam bahasa Ibrani ‘mn berarti mengandung pemahaman tentang “sesuatu yang dapat diandalkan dan dipercaya”. Isi iman PL adalah kepercayaan kepada janji dan tuntunan Allah bagi umat Israel. Atas wahyu Allah manusia menjawab dengan kesiapsediaan dan ketaatan. Dalam tataran tertentu, iman dipahami sebagai setia dan mentaati perintah Allah agar memperoleh hidup. Karena itu, tekanan utamanya adalah “untuk mengasihi Tuhan Allahmu dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu . . . “ (Ul 30,16). Dalam sejarah perjalanan bangsa Israel, Abraham menjadi model orang beriman yang sungguh percaya dan mengandalkan Allah (Kej 12, 1-4). Iman juga merupakan suatu tindakan, yaitu sikap setia dalam melaksanakan kehendak Allah (Mi 6,8), mengakui Yaurat sebagai kehendak Allah (Mzm 119,66) dan menerima utusan-utusan Allah (Kel 14,31; 2taw 20,20).
Injil Sinoptik, iman dipahami sebagai sikap mendengar (Mat 4,9 : “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”), percaya dan mempercayakan diri kepada Yesus (Mat 9, 27-31; Luk 7,6-9). Percaya itu tidak cukup mendengar namun mengerti (bdk. Mat 13,19). Mengerti berarti : menerima sabda Allah dan hidup setia sesuai dengan sabda Allah. Beriman juga berarti bertobat dan berbalik kepada Allah (Mrk 1,15). Yohanes : beriman itu berarti percaya kepada Yesus sebab Yesus mengerjakan yang diperintahkan Bapa. Dengan demikian beriman berarti percaya kepada Bapa yang mengutus Yesus (Yoh 14). Tberiman atau tidak beriman merupakan sikap ya atau tidak kepada Yesus. Beriman berarti pilihan untuk memihak Yesus dan menerima Sabda-Nya. Tidak beriman berarti menolak Yesus (Yoh 15). Paulus : beriman berarti semakin mengenal misteri Allah dalam Yesus Kristus. Manusia diajak semakin mengenal rencana penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus (Bdk. 1Kor 1,17; 2, 1-4; Kol 2, 2-3). Iman merupakan perbuatan yang dengannya manusia menyerah-kan diri kepada Allah sebagai sumber satu-satunya keselamatan. Orang beriman kepada Allah melalui Putera-Nya sebab melalui Putera-Nya itu Allah bersabda. Karena itu, bagi Paulus beriman berarti mempersatu-kan diri dengan Kristus. Paulus mengartikan sabda Allah bukan pertama-tama kebenaran, melainkan diri Kristus, sebagai Tuhan dan Penyelamat. Hanya imanlah yang menyelamatkan (Rm 3, 21-31) dan bukan Taurat. Yakobus : “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2, 26). Bagi Yakobus, beriman itu tidak hanya berhenti pada mendengarkan dan percaya kepada Allah, melainkan juga melaksanakannya.
Dalam DV 5 dikatakan bahwa :Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib me-nyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersem-bahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan secara sukarela menerima sebaai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya”.
Dalam kutipan tersebut, tampak iman dipahami sebagai :
· Penyerahan seluruhnya dengan bebas kepada Allah (menyangkut segi pengetahuan, keyakinan, pengertian dan pemahaman).
· Kepatuhan akal budi dan kehendak (berhubugnan dengan kebebasan iman)
· Dengan pengakuan bebas à menyangkut kerelaan hati, keterbukaan untuk menerima kebenaran wahyu).
Namun iman bukanlah pencapaian oleh manusia sendiri. Agar mampu beriman, manusia membutuhkan rahmat Allah karena iman adalah anugerah Allah. Dalam DV 5 dikatakan : “Supaya orang dapat beriman . . . diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membaklikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran. Semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan melalui karunia-karunia-Nya”. Dari kutipan itu kiranya dapat ditangkap bahwa iman merupakan rahmat Allah. Agar orang mampu beriman, rahmat Allah diperlukan. Dengan kata lain, rahmat Allah itu mendahului iman. Rahmat yang mendahului iman itu tak lain adalah Roh Kudus yang berperan untuk membawa manusia menyadari karya Allah dalam hatinya. Roh Kuduslah yang membuka mata budi dan menimbulkan iman pada setiap orang.Dari situ dalam DV 5 dapat dikatakan bahwa : Iman merupakan rahmat Allah, Iman juga merupakan jawaban bebas manusia terhadap Allah, Iman mengandung unsur pengertian manusia (akal budi). Dengan kata lain, dalam peristiwa iman ada 3 unsur yaitu : rahmat, akal budi dan kehendak bebas manusia. Iman mengandaikan pengertian sebab iman adalah tindakan intelektual dan sekaligus mengandaikan kehendak bebas manusia yang sangat membutuhkan rahmat. Akhirnya, KV II memaknai iman sebagai tanggapan manusia berkat bantuan Roh Kudus kepada pemberian diri Allah dalam Kristus, yang berupa penyerahan diri secara bebas kepada Allah.
Iman dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Iman yang hidup adalah iman yang berakar dan mengakar pada pengalaman hidup manusia. Iman bukanlah bentuk mati yang tinggal dikenakan, melainkan sebuah proses perjumpaan manusia dengan Allah dengan cara yang sangat manusiawi dalam gerak sejarah kehidupan. Dan iman yang hidup itu pastilah menggerakkan hidup manusia dan menimbulkan kesadaran baru. Dengan kata lain, iman sebagai tanggapan atas perwahyuan Allah tidak dapat dilepaskan dari konteks hidup manusia. Pengalaman hidup sehari-hari menjadi medan bagi manusia men-dengar dan menjawab Wahyu Allah. Sebagai contohnya : pengalaman umat Israel dibebaskan dari Mesir dan pengalaman di padang gurun selama 40 tahun. Pengalaman itu menjadikan bangsa Israel sadar bahwa Allah sungguh-sungguh setia kepada umat pilihan-Nya. Dalam pengalamannya yang konkret itu, bangsa Israel mengalami Allah yang bersabda, menyapa mereka dan menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Dalam GS 58 dikatakan “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penam-pakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman”
Allah menyapa dan menyampaikan kabar keselamatan-Nya dalam konteks hidup dan kebudayaan khas manusia. Manusia bukan makhluk individual dan tanpa dunia yang melingkupi-nya. Dalam konteks kebersamaan dengan yang lain dan lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia beriman sebab iman bukanlah sisi kehidupan manusia yang dapat dilepaskan dari kenyataan hidup manusia sendiri. Karena itu, iman tidak dapat dipisahkan dari kebersamaan dengan yang lain. Sebab, dalam suasana hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya tertentu, manusia mengalami sapaan Allah yang menyelamatkan. Terhadap Allah yang menyapa manusia dalam konteks hidup manusia yang khas, dalam konteks hidupnya pula manusia menanggapi sapaan Allah yang menyampaikan keselamatan-Nya. Karena itu, jawaban manusia harus terwujud dalam keterlibatan yang aktif dalam perjalanan sejarah manusia, dalam kehidupan nyata yang konkret dengan berbagai persoalannya. Iman bukan lagi tanggapan yang bersifat abstrak, namun konkret dan kontekstual. Karena itu, iman haruslah menjadi kenyataan hidup yang menggerakkan manusia dari dalam. Iman harus terwujud dalam tindakan moral. Karena itu, dalam beriman secara konkret dalam konteks hidup, manusia membutuhkan terus-menerus pertolongan Roh Kudus agar mampu mengenali perwahyuan Allah dalam kenyataan hidupnya dan menjawab sapaan Allah itu secara kontekstual pula. Tujuannya adalah agar hidup manusia tetap bermakna. Tentu saja wahyu Allah bukanlah jawaban langsung atas persoalan hidup beriman, namun dalam terang dan bimbingan Roh Kudus manusia menemukan kehendak Allah.
Allah menyapa manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan manusia. Hal itu berarti Allah berkehendak menjalin relasi yang intim dan personal dengan manusia. Hubungan Allah dengan manusia adalah hubungan antar pribadi yang intim. Intimitas dan personalitas hubungan Allah-manusia itu tampak dalam diri Yesus, dalam seluruh peristiwa hidupnya. Yesus adalah Allah yang seperasaan dan sependeritaan dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Yesus adalah solidaritas Allah pada manusia. Di dalam diri Yesus, Allah menyapa dan berbicara dengan manusia dengan cara-cara yang manusiawi. Di dalam Yesus, manusia tidak lagi disebut hamba, melainkan sahabat dan menjadi anak-anak Allah berkat penebusannya yang memuncak dalam sengsara, wafat dan kebangkitannya. Kamu adalah sahabat-Ku . . . Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. . . . Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15, 14-15).
Perwahyuan diri Allah bertujuan untuk mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, manusia masuk menjadi anggota keluarga Allah, ahli waris (Bdk. Gal. 4, 1-9). Wahyu Allah dan iman sebagai tanggapan manusia menjadi dialog yang akrab, intim dan personal antara Allah dengan manusia. Allah menyapa manusia dengan cara yang khas manusia. Dan manusia menanggapi sapaan Allah dengan cara yang khas pula seturut pengalaman hidupnya. Dan justru inilah menjadi tanda bahwa hubungan Allah dan manusia sedemikian akrab dan personal.













Chatting ma Tuhan

Chatting ma TUhan

TUHAN : Kamu memanggilku?
AKU : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi aku ingin berbincang-bincang denganmu
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk
AKU :Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU :Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU :OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN :Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah Pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu Pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU :Maksudnya Pengalaman Pahit itu berguna?
TUHAN :Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental, kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah,….
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekeja dengan waktu.
AKU : Disaat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari Manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?“.
AKU :Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya disini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses Penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan Keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doa saya tidak dijawab.
TUHAN :Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya TIDAK.
AKU : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : OKE. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah pada-Ku. Hidup itu Indah jika kamu tahu cara untuk Hidup.