Selasa, 22 April 2008

sakramen-sakramen Gereja

I. Sakramen sakramen Gereja
Sakramen-sakramen Gereja ini tak dapat dipisahkan dari ibadat atau liturgi Gereja, karena semua sakramen-sakramen adalan bentuk-bentuk ibadat Gereja; yaitu mereka merayakan misteri penyelamatan Allah melalui Kristus. Melalui tanda-tanda, mereka menghasilkan rahmat yang sesuatu dengan masing-masing sakramen bagi pribadi-pribadi yang merayakan sakramen-sakramen ini.
Sejarah keselamatan adalah sejarah perjumpaan personal Allah dengan manusia dan penyingkapan rencana keselamatanNya dalam sejarah. Perjumpaan personal Allah dengan manusia ini, yang inisiatifnya datang dari Allah dan hanya dari Dia, telah terpenuhi sekali untuk selamanya dalam Yesus Kristus : dalam satu Pengantara jarak tak terbatas yang memisahkan manusia dari Allah telah dijembatani; melalui misteri Paskah Kristus semua manusia telah diselamatkan dan dipersatukan dengan Allah. Namun, misteri itu yang terpenuhi sekali untuk selamanya masih harus dihadirkan dan operatif di segala zaman dan segala tempat, dan dampak penyelematanNya harus menyentuh semua orang. Perayaan sakramen-sakramen merupakan sarana khusus yang ditetapkan oleh Kristus dan dipercayakanNya pada Gereja, yang olehnya misteri penyelamatan menjadi, bagi setiap zaman sampai pada akhir zaman, sebuah realitas yang hidup dan bisa disentuh. Melalui sakramen-sakramen, misteri Kristus selalu aktual dan efektif. Kristus yang telah mati dan bangikit hadir di dalamnya dan melaksanakan melalui sakramen-sakramen itu daya keselamatanNya. Dalam sakramen-sakramen, manusia sampai pada sentuhan personal dengan Tuhan yang bangkit dan karya penyelamatanNya. Tanda-tanda manusiawi yang sederhana yang dari dirinya sendiri tak pernah dapat memiliki suatu daya kekuatan yang berdaya supranatural telah menjadi sarana rahmat Allah karena Kristus telah menetapkannya melalui Gereja menjadi ungkapan indrawi dari kehendak pengudusanNya.
Dengan demikian, ada dua penegasan fundamental berkaitan dengan ajaran Gereja tentang Sakramen. Pertama, Gereja adalah tempat menyimpan tanda-tanda yang ditetapkan oleh Kristus, yang dipercayakanNya pada Gereja supaya dipelihara dan dirayakan dengan setia. Kedua, tanda-tanda ini, karena mereka adalah tanda-tanda tindakan Kristus yang mulia, merupakan tanda-tanda yang berdaya rahmat. Dirancang olehNya untuk mengkomunikasikan penyelamatanNya dan dianggapNya sebagai tindakanNya sendiri, tanda-tanda itu tidak dihalangi dalam validitas mereka oleh kelemahan manusiawi dari para pelayannya, sejauh mereka bermaksud untuk mengkomunikasikan apa yang telah dipercayakan Kristus pada Gereja. Penerimaan akan tanda-tanda itu yang berbuah limpah tidak tergantung pada disposisi mereka yang merayakannya.
Selama berabad-abad, Gereja telah berkembang dalam kesadaran eksplisit akan kehidupan sakramentalnya. Doktrin sakramentalnya telah mengembangkan pelaksanaan kehidupan sakramentalnya; secara khusus, doktrin tentang jumlah tujuh sakramen secara eksplisit telah ditetapkan kurang lebih sejak periode-periode awal. Setelah lama dimiliki secara tenang, doktrin sakramental Gereja secara serius ditantang pertama kali oleh kaum reformasi. Gereja mempertahankan khasanah kesuciannya dan menegaskan dengan jelas daya guna obyektif yang melekat pada sakramen-sakramen yang ditetapkan Kristus. Namun, dalam proses penekanan daya guna ex opere operato dari tanda-tanda sakramental, teologi post Trente telah, secara luas, kehidulangan pandangan akan aspek personalnya. Hal ini ditekankan kembali pada tahun-tahun belakangan ini : sakramen-sakramen adalah perjumpaan personal Kristus dengan manusia dalam tanda-tanda Gereja. Maknanya bagi kehidupan Gereja juga mendapatkan penekanan baru : sebagai ungkapan kelihatan dan aktualitas yang terus menerus dari misteri Kristus, sakramen-sakramen adalah juga suatu manifestasi atau epifani dari misteri Gereja.
II. Sakramen-sakramen merupakan pengungkapan diri Gereja
1. Istilah “Sakramen-sakramen”
Kalau orang berbicara mengenai sakramen-sakramen (jamak), biasanya menunjuk pada 7 sakramen Gereja: baptisan, penguatan, ekaristi, pengampunan dosa, perminyakan suci, perkawinan, tahbisan. Jumlah tujuh sakramen diajakan Gereja sejak Konsili Forens (1439) dan ditegaskan Trente (1547).
Menurut Kitab Suci, istilah sakramen (mysterion) tidak serta-merta menunjuk pada ketujuh sakramen. Tetapi rencana keselamatan Allah yang diwujudkan dan terlaksana dalam sejarah dan memuncak dalam diri Yesus Kristus (Ef 1:9-10; Ef 3:9; Kol 1:26; Rom 16:25-26; Kol 2:2). Kristuslah yang disebut Mysterion itu, sehingga konsepsi mysterion-sakramentum itu pertama-tama Kirstologis. Dalam kitab suci ini, setiap bicara mengenai mysterion, ketujuh sakramen tidak pernah disinggung.
Di zaman Bapa Gereja (patristik), konsepsi sakramen masih dibicarakan dalam konteks sejarah keselamatan Allah dan pelaksanaan serta perwujudannya dalam sejarah yang berpuncak dalam Yesus Kristus. Konsepsi sakramen menujuk pada ketegangan dinamik antara yang manusiawi dan ilahi, kelihatan dan tak kelihatan. Filsafat Plato mendukung pemikiran Patristik: realitas yagn kelihatan merupakan tanda dan berpartisipasi dalam realitas yang tak kelihatan, yaitu misteri penyelamatan Allah dalam Kristus.
Pada abad pertengahan (tengah abad 12) dan reformasi s.d awal Abad 20 konsepsi sakramen mengalami penyempitan: karena pengaruh sistematisasi skolastik yang aristotelian, orang sibuk tidak dengan kenyataan sakramental, tapi dengan definisi sakramen, jumlah penetapan dan dayaguna sakramen. Dengan demikian, sakramen berarti ritus atau upacara Gereja yang ditetapkan Yesus sendiri dan berjumlah tujuh dan berdayaguna secara ex opere operato. Sejak itu istilah sakramen tidak lagi dipahami sebagai dinamik misteri sejarah keselamatan yang terwujud dalam Kristus. Jumlah itu diajarkan pertama oleh Florens 1439 dan diteguhkan Trente 1547.
Nah, pada paruh pertama abad 20 ini terjadi Gerakan Pembaruan yang berperanan dalam bidang sakramen dan teologi: pembaruan liturgi, kembali ke sumber, ekumenis, Teologi Misteri Odo Casel (1886-1948) yang menyumbang konsepsi asali tentang sakramen, yaitu pemahaman sakramen menurut KS dan Patristik. Intinya mengembalikan makna perayaan dan tanda pada sakramen, di mana Kristus dan tindakan penyelamatanNya hadir dan dirayakan.
Sekarang, sakramen pertama-tama menunjuk Yesus Kristus sendiri, sebagai sakramen Induk/pokok, sebab Allah Penyelamat yang tidak tampak itu hadir dan kelihatan dalam diri Yesus Kristus, “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr 1:3). Kemudian Sakramen menunjuk Gereja sebagai sakramen dasar dalam hubungan dengan Kristus: apa yang nampak dalam Gereja menjadi simbol real yaitu tanda yang efektif dan menghadirkan keselamatan Allah yang terlaksana dalam Kristus bagi dunia. Akhirnya tujuh Sakramen merupakan konkretisasi Gereja sebagai sakramen dasar dalam kehidupan konkret manusia
2. Sakramen-sakramen merupakan pengungkapan diri Gereja Sebagai Sakramen Kristus
Tujuh sakramen yaitu baptis, penguatan, ekaristi, perminyakan, rekonsiliasi, perkawinan dan tahbisan merupakan pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Kristus. Di sini diungkapan tiga faham, yaitu sakramen-sakramen merupakan pengungkapan diri Gereja, Gereja merupakan Sakramen Kristus, dan Kristus sebagai sakramen. Kita mulai membahas dari yang paling pokok: Kristus sebagai Sakramen.
a. Kristus adalah Sakramen
Kristus adalah sakramen karena di dalam Kristus Allah Sang Penyelamat hadir dan kelihatan, di dalam Dia Allah mewujudkan dan melaksanakan karya penyelamatanNya bagi semua orang. Yesus Kristus adalah pribadi yang berciri sakramental, karena Dia adalah benar-benar manusia yang pernah hidup dan dalam Yesus Kita dapat berjumpa dan mengalami Allah sendiri. “Barang siapa telah melihat aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Kristus adalah sakramen Induk: Yesus Kristus dengan seluruh pribadi dan karyaNya menjadi tanda dan sekaligus menghadirkan secara utuh Allah. Yesus tidak hanya mewartakan Allah, Bapa penuh belas kasih dan bahwa KerajaanNya sudah dekat, tetapi Yesus juga mengidentifikasikan diri dan pewartaanNya dengan Allah sendiri: mengajar sebagai orang yang berkuasa (Mark 1:22, Mat 7:29) “Aku berkata kepadamu, Siapa melihat Aku melihat Bapa”, “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6-7), sikapNya menunjukkan kehadiran dan kedekata Allah sendiri pada manusia: mengampuni dosa (Mat 9:6), “Bapa di dalam aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:37-38). Lihat tuh Ibr 1:1-3 bahwa Dia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar Allah.
Sebutan Kristus sebagai mysterion juga dipakai Ignasius Antiokhia (+110). Origenes: Yesus adalah logos yang menjadi manusia dan sakramen besar dan pertama karena dalam kemanusiaanNya Allah menampakkan diri dalam tanda. Paus Leo Agung menyebut Kristus sebagai sakramen utama dan terbesar. Agustinus menyebut Kristus sebagai sakramen dalam arti menandakan Allah, dalam diri Kristus tersembunyi dan terselubunglah Allah sendiri, sehingga bisa disebut sakramen keilahian dan kemanusiaan. Ajaran sakramentalitas Yesus nampak dalam paham Gereja: Kristus sungguh Allah, sungguh manusia (Kalsecon 451 menentang monofisitisme-keilahian Eutyches 450).
Vatikan II tidak eksplisit menyebut Yesus Kristus sebagai sakramen, tetapi memuat gagasan sakramentalitas Yesus (mis. DV.2, 4 LG 3, 4 ). Teologi kristiani tidak menyangsikan hal ini (Rahner, Schillebeeckx).
b. Gereja sebagai Sakramen Kristus (Sakramentalitas Gereja)
Sebagai ide, konsepsi “Gereja sebagai sakramen” sudah ada pada Patristik, namun baru menjadi peristilahan teologis sejak abad 19 (Anton Gunther, 1830). Diskusi mengenai konsepsi itu dikembangkan baru setelah PD II. Teologumenon itu diteguhkan Konsili Vatikan II. Umunya orang setuju kalau Yesus Kristus disebut Sakramen Induk, Gereja Sebagai Sakramen dasar, dan tujuh sakramen sebagai konkretisasi Gereja sebagai sakramen dasar.
Vatikan II membicarakan “Gereja sebagai sakramen dalam Lumen Gentium 1, 9, 48. LG.1 menyebut “Gereja bagaikan sakramen”. Istilah “bagaikan” menunjuk bahwa penggunaan kata “sakramen untuk Gereja masih dimengerti dalam arti yang bukan sebenarnya, sejauh orang masih berpikir dalam kerangka teologis yang biasa dan lama. W. Kasper menafsirkan Sakramentalitas Gereja dalam dokumen Vatikan II dalam 4 pokok berikut ini:
a. “Gereja sebagai sakramen keselamatan” harus dimengerti dalam keseluruhan eklesiologi Vatikan II, Jangan dimutlakkan, masih banyak ungkapan lain seperti: Umat Allah, Tubuh Kristus dll (LG.6 dan 7), yang menunjukkan bahwa pertama-tama Gereja merupakan misteri.
b. “Gereja sebagai Sakramen Keselamatan” selalu diletakkan dalam konteks kristologis yang kuat. Gereja itu bagaikan Sakramen dalam Kristus (LG 1). Yang menjadikan Sakramen keselamatan adalah Kristus (LG 48).
c. “Gereja sbg Sakramen Keselamatan” juga berada dalam konteks eskatologis (LG.5)
d. Ungkapan itu juga menunjukkan bahwa “sakramen” pada Gereja itu hanyalah analog dalam hubungan dengan peristilahan teologis tradisional, di satu pihak. Di lain pihak, istilah itu menujukkan realitas Gereja yang kompleks yang memuat kesatuan tegangan antara yang kelihatan dan tidak kelihatan, manusiawi-ilahi, dan misteri itu hanya dapat dipahami dengan iman (LG.8). Gereja disebut sakramen berarti Gereja menjadi simbol real: tanda efektif dan menghadirkan keselamatan Allah yang telaksana dalam Kristus bagi dunia.
3. Ketujuh Sakramen sebagai Konkretisasi Gereja sebagai Sakramen Dasar
Orang jaman sekarang makin sulit memahami simbol, namun manusia tidak pernah melepaskan diri dari dunia simbol. Manusia mengungkapokan dan melaksanakan dirinya daam simbol. Simbol itu ada yang berifat informatif (menunjuk kenyataan di luar dirinya), dan simbol yang melaksanakan apa yang ditandakan. Begitulah Schoonenberg. Semua simbol dalam sakramen-sakramen kita termasuk jenis simbol kedua (ekspresif).
Sakramen-sakramen pertama-tama hidup sebagai praksis liturgis bagi suatu perayaan iman Gereja. Maka liturgi merupakan konteks hidup sakramen-sakramen. Sakramen-sakramen itu memiliki beberapa sifat dasar. Pertama, sifat perjanjian: merupakan perayaan aktualiasai Perjanjian Baru yang didirikan Kristus dalam bentuk tanda dan sabda. Kedua, Sifat Perjumpaan-komunikatif: sakramen-sakramen merupakan perjumpaan antara Allah dan manusia melalui Kristus dalam Roh Kudus, yang berlangsung dalam bentuk tanda. Dalam liturgi sakramen terjadi dialog perjumpaan yang menyelamatkan: pengudusan manusia (katabatis) dan pemuliaan Allah (anabatis). Ini di SC 5. Empat unsur liturginya (L. Lies): anamnese, epiklese, koinonia, prophora/persembahan-Kristus. Ketiganya: sifat kebersamaan yang sekaligus merupakan pengandaian dan buah perayaan. Kaping patnya: sifat sejarah keselamatan.
Tentang tingkatan sakramen-sakramen, tidak semua sama. Puncak dan pusat sakramen dan seluruh liturgi adalah Perayaan Ekaristi, bahkan puncak dan pusat seluruh hidup Gereja (LG.11), karena dalam suatu Misteri Paskah Kristus dikenangkan dan dihadirkan secara sakramental menurut intensitasnya yang paling dalam dan padat. Baptis menjadi jalan masuk supaya orang bisa menerima sakramen lain. Ekaristi dan baptis disebut sacramenta maiora (istimewa-lah tempatnya), lima lainnya s.minora. Dengan baptis, orang dimasukkan ke dalam Gereja dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Keduanya plus krisma menjadi sakramen inisiasi. Dengan baptis dan Krisma, orang telah menjadi umat beriman dan warga Gereja yang penuh dan berhak merayakan ekaristi dengan seluruh peran aktifnya. Dengan tobat, orang dianugerahi pengampunan dan pendamaian dengan Allah dan Gereja sehingga boleh ekaristi lagi secara pantas. Dengan perminyakan suci, orang beriman diserahkan kepada Tuhan yang sengsara dan mulia, agar Dia menyembuhkan dan menyelamatkan. Dengan sakramen tahbisan dan perkawinan terungkap dimensi dan fungsi sosial-eklesiologis.
4. Sakramen-sakramen menjadi Lambang serta Sarana Penyelamatan
Penyelamatan manusia merupakan kehendak Allah dan itu diwujudkan dan dilaksanakan dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus menjadi sakramen induk, artinya dalam dialah terjadi sejarah penyelamatan Allah. Kristus menjadi lambang dan sarana Allah yang menyelamatkan umat manusia. Yesus Kristus merpakan kehadiran Allah sendiri di tengah umatNya, kehadiran yang menyelamatkan dan menebus kita. (Kis 4:12). Kristus menjadi simbol dan tanda yang hidup dari kehadiran Allah dan sekaligus menghadirkan keselamatan yang hanya berpangkal dan mungkin dikerjakan oleh Allah saja.
Sekarang, tindak penyelamatan Allah itu dilanjutkan oleh Allah dalam Gereja, Tubuh Kristus. Gereja didirikan oleh Kristus bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan penyelamatan itu. Gereja menjalankan fungsi penyelamatan yang diembannya dalam Roh Kudus yang dijanjikan Kristus. Gereja merupakan tanda dan tempat kehadiran Kristus. Gereja adalah tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan sebagaimana terlaksana dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, Gereja juga disebut sakramen dasar karena Kristus. Kalau demikian, Gereja menjadi lambang dan sarana penyelamatan Allah yang terwujud dalam Kristus.
Pelaksanaan tindak penyelamatan Allah dalam Yesus melalui Gereja itu secara konkret terjadi dalam liturgi baptis, ekaristi, krisma, tobat, minyak suci, tahbisan dan perkawinan. Dari segi Gereja, sakramen-sakramen ini merupakan konkretisasi dari Gereja sebagai sakramen dasar. Dengan perayaan sakramen, maka terungkaplah, ditampilkanlah, dan terlaksanalah apa yang disebut Gereja (SC 2). Gereja adalah kumpulan umat beriman dan kumpulan itu secara jelas menampilkan dirinya dalam perayaan liturgi sakramen (bdk. LG 26). Dari segi dinamika penyelamatan Allah, maka sakramen-sakramen itu menjadi lambang dan sarana penyelamatan itu. Lambang di sini dalam arti simbol ekspresif, tanda yang sekaligus menjalankan apa yang ditandakan. Sarana berarti menjadi alat.
Berkaitan dengan daya guna sakramen-sakramen itu, perlu diperhatikan bahwa dayaguna sakramen menjadi real dan terwujud jika penerima memiliki intentio recioiendi quod facit ecclesia (penerima punya maksud menerima apa yang dibuat Gereja), sedang demi sahnya pelayan sakramen juga harus memiliki intentio faciendi quod facit ecclesia (ia punya kehendak dan bertindak sesuai yang dimaui Gereja), serta simbol sakramennya sah. Kalau disposisinya belum penuh, kita mengenal reviviscentia sacramentorum.
Secara khusus tentang lambang Dibedakan: Materia remota : barang materialnya; Materia proxima : Tindakan yang menyertai; Forma: Kata-kata yang mengiringi dan menjelaskan tindakan; Pelayan tertentu: orang tak bisa menerimakan sakramen untuk dirinya sendiri kecuali imam untuk ekaristi dan kedua mempelai dalam perkawinan. Lambang itu punya 2 arti : Arti biasa manusiawi dari tanda sakramental yang kelihatan dan Arti rohani yaitu arti penyelamatan yang tak langsung kelihatan namun dilambangkan. Berdasarkan tujuan dan akibat dibedakan: Sacramentum tantum : upacara sah minimal dari materia dan formanya; Res tantum : isi dan tujaun sakramen itu yaitu persatuan dengan Kristus; Sacramentum et res: akibat pertama dari sakramen itu. Hal ini menyangkut perubahan status berkat sakramen yang diterima (mis. imamat). Secara khusus tentang sarana: Sakramen bukan hanya tanda lahiriah melainkan juga sarana yang mewujudkan rahmat, menyampaikan, mengerjakan rahmat. Sakramen sebagai sarana bicara tentang efektifitas sakramen yang oleh teologi dirumuskan:
· Ex opere operato : daya guna sakramen tak tergantung pada keimanan atau disposisi moral si pelayan atau penerima, melainkan bergantung pada tindakan Allah sendiri.
· Ex opere operantis : merupakan lawan dari konsep ex opere operato. Daya guna nya tergantung pelayan atau penerimanya.

Tidak ada komentar: